Lalu Lintas
Kasat Lantas Muda yang Menyatukan Budaya, Teknologi, dan Humanisme di Lalu Lintas
Kediriselalidihati – Di balik berbagai operasi kepolisian, deru sirene patroli, hingga tilang elektronik yang senyap namun tegas, ada sosok perwira muda yang selama lebih dari satu tahun terakhir menjadi wajah lalu lintas di Kota Kediri: AKP Afandy Dwi Takdir, S.T.K., S.I.K. Sejak 30 Agustus 2024 hingga 2 Desember 2025, ia memimpin Satuan Lalu Lintas Polres Kediri Kota dengan pendekatan yang memadukan disiplin, teknologi, dan sentuhan humanis.
Dan kini ia melanjutkan pengabdiannya menjadi Paur Samsat Surabaya Utara Polda Jatim.
Afandy datang ke Kediri membawa jejak panjang dari Bumi Arung Palakka, Bone, Sulawesi Selatan, tempat ia lahir pada 28 Desember 1991. Ia tumbuh dalam keluarga pedagang yang menjunjung tinggi kehormatan dan kerja keras. Ayahnya, Haji Takdir, dan ibunya, Hajah Harjunah, menanamkan nilai bahwa hidup bukan sekadar mencari nafkah, melainkan juga menjaga marwah keluarga dan bermanfaat bagi banyak orang. Sejak kecil, ia akrab dengan dunia perdagangan, karena di keluarganya pedagang bukan sekadar profesi, melainkan warisan.
Menariknya, cita-cita awal Afandy bukan menjadi polisi. Ia justru membayangkan dirinya sebagai pedagang sukses seperti orang tuanya, atau bahkan dokter, melanjutkan mimpi sang ibu yang dulu tak kesampaian. “Pedagang itu turun-temurun. Dalam keluarga kami, pedagang itu bukan pekerjaan, tapi tradisi. Karena itu saya mencari profesi yang berbeda dan lebih pasti, salah satunya menjadi polisi. Polisi bisa berdagang, tapi pedagang belum tentu bisa menjadi polisi,” ujarnya suatu ketika, sembari tersenyum menyebut bahwa takdir justru mempertemukannya dengan istri yang berprofesi sebagai dokter, Harli Pramitasari Nasution.
Di balik pilihan seragam cokelat itu, ada filosofi Bugis–Bone yang kuat. Sejak kecil, Afandy dibesarkan dengan semboyan Mali’ siparappe, tallang sipahua: jika dihanyutkan air, harus diupayakan sampai ke tepian; jika tenggelam, harus diangkat dan diselamatkan. Falsafah ini mengajarinya untuk tidak membiarkan siapapun “tenggelam” sendirian, entah di tengah kesulitan hidup ataupun di jalan raya yang penuh risiko. Ia juga memegang erat nilai sipakatau, sipakalebbi, sipakainge — saling memanusiakan, saling memuliakan, dan saling mengingatkan. Nilai-nilai inilah yang kemudian mewarnai gaya kepemimpinannya sebagai Kasat Lantas: tegas menindak, tetapi tetap menghormati dan mengedukasi.
Jalan Afandy menuju Akademi Kepolisian tidak mulus. Setelah menempuh pendidikan di SD Negeri Lalowosula, SMP Negeri 1 Lappariaja, dan SMA Negeri 1 Ulaweng, ia berulang kali gagal dalam seleksi penerimaan Akpol dan Bintara. Ia mendaftar Akpol tahun 2009, gagal di pantukhir daerah. Tahun 2010 ikut seleksi Akpol dan Bintara, kembali belum berhasil. Tahun 2011 ia mencoba lagi; kali ini, pintu Akpol terbuka. Ia tercatat sebagai alumni pertama SMAN 1 Ulaweng yang berhasil masuk Akpol — sebuah tonggak penting yang mengubah arah hidupnya.
Lulus Akpol, pangkat Inspektur Polisi Dua ia sandang pada 2015. Afandy terus mengasah kapasitasnya dengan melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada 2020. Berbagai penugasan di Brimob, satuan operasi, hingga jabatan fungsional menjadi ruang tempanya. Medan tugas yang keras mengajarkan satu hal: perintah yang paling didengar anggota adalah contoh di lapangan, bukan sekadar instruksi dari balik meja.
Penugasan-penugasannya tak hanya berputar pada lapangan, tetapi juga pada ranah strategi. Pengalaman sebagai perwira di berbagai lini, termasuk tugas intelijen dan peran strategis lain, membentuknya sebagai figur yang terbiasa berpikir sistemik, melihat keamanan bukan hanya dari hilir, tetapi juga dari hulu: budaya, kebijakan, dan perilaku masyarakat.
Ketika dipercaya menjadi Kasat Lantas Polres Kediri Kota pada Agustus 2024, Afandy datang membawa satu gagasan utama: lalu lintas bukan sekadar urusan tilang dan kemacetan, melainkan ekosistem keselamatan manusia. Di bawah kepemimpinannya, Satlantas Polres Kediri Kota menjalankan program unggulan “Polantas Menyapa Kediri Tertib Berlalu Lintas”, sebuah payung besar yang memadukan edukasi, penegakan hukum berbasis teknologi, dan pendekatan humanis.
Di sekolah-sekolah, Afandy dan anggotanya hadir lewat program Police Goes to School, Duta Lalu Lintas, dan Polisi Sahabat Anak. Pelajar diajak memahami bahwa helm bukan aksesori, bahwa larangan berkendara di bawah umur bukan sekadar aturan kaku, melainkan perlindungan bagi mereka sendiri. “Kami ingin keberhasilan itu hadir ketika masyarakat patuh bukan karena diawasi, tetapi karena peduli pada keselamatan bersama,” demikian garis besar pandangannya.
Di sisi lain, penegakan hukum ia dorong lebih modern dan transparan. ETLE statis dan mobile dimanfaatkan secara optimal, dipadukan dengan layanan publik yang diperkuat seperti SIM online, Samsat Keliling, Samsat Drive Thru, Samsat Payment Point, Samsat Corner, hingga layanan di mal pelayanan publik. Baginya, pelayanan yang cepat, jelas, dan manusiawi adalah pintu masuk kepercayaan publik. “Masyarakat berhak mendapat layanan yang modern dan akuntabel. Polisi lalu lintas bukan hanya hadir ketika menindak, tetapi juga ketika melayani dan membantu,” begitu ia sering menekankan kepada anggotanya.
Pemanfaatan teknologi tidak berhenti di ETLE. Melalui Road Traffic Management Center (RTMC), Satlantas Polres Kediri Kota aktif mendukung terwujudnya konsep kota cerdas dan kota aman (smart city dan safe city). Jaringan CCTV di titik-titik strategis digunakan untuk memantau arus lalu lintas secara real time, mengurai kemacetan, dan merespons cepat insiden di jalan. Bagi Afandy, layar-layar RTMC bukan sekadar medium kontrol, tetapi jendela untuk membaca denyut kota.
Sinergi lintas sektor juga menjadi ciri kepemimpinannya. Bersama Dinas Perhubungan, Jasa Raharja, dan komunitas otomotif, Afandy mendorong penataan lalu lintas, penanganan korban kecelakaan, hingga kampanye keselamatan berkendara di berbagai ruang publik. Ia meyakini keselamatan jalan adalah tanggung jawab bersama; Satlantas hanya salah satu aktornya. “Budaya tertib berlalu lintas harus lahir dari kesadaran bersama, bukan semata-mata dari penegakan hukum,” begitu prinsip yang ia pegang.
Tantangan besar datang ketika Kota Kediri menghadapi situasi pasca kerusuhan 30 Agustus 2025. Tekanan tugas meningkat, situasi psikologis masyarakat dan anggota di lapangan ikut terpengaruh. Di tengah situasi itu, Afandy memilih lebih banyak berdiri di garis depan. Ia mendampingi anggota di lapangan, mengatur pengamanan, dan menjaga ritme pengendalian lalu lintas di titik-titik rawan. “Tantangan terberat adalah menjaga semangat anggota di tengah tekanan tugas yang tinggi. Bagi saya, kepemimpinan bukan hanya memberi perintah, tetapi ikut merasakan apa yang dirasakan anggota,” refleksinya.
Di internal, ia mengelola soliditas Satlantas dengan pola kepemimpinan yang dekat, terbuka, dan menumbuhkan rasa dipercaya. Ia mendorong anggotanya melihat setiap tugas bukan sekadar kewajiban struktural, tetapi bentuk pengabdian. Ketika anggota merasa didengar, dihargai, dan didukung, mereka cenderung bekerja dengan hati dan menjaga integritas. Di sisi lain, pelanggaran disiplin tetap ditindak, sebagai pesan bahwa profesionalisme dan kejujuran adalah garis merah yang tidak bisa ditawar.
Selama menjabat, Afandy juga tak menutup mata terhadap fungsi sosial Satlantas. Kegiatan sosial, bakti sosial, donor darah, santunan korban kecelakaan, hingga kampanye keselamatan jalan ia rangkai sebagai bagian dari strategi pembinaan masyarakat. Dalam banyak kesempatan, ia mengingatkan bahwa polisi lalu lintas bukan hanya hadir saat ada pelanggaran, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan uluran tangan.
Puncak ujian kepemimpinannya sebagai Kasat Lantas terlihat jelas dalam pelaksanaan Operasi Zebra Semeru 2025, yang digelar pada 17–30 November 2025. Di bawah komandonya, Operasi Zebra di Kota Kediri bukan hanya menjadi agenda rutin, tetapi dirancang sebagai gerakan besar penyelamatan pengguna jalan. Selama 14 hari, puluhan ribu pelanggaran berhasil ditindak melalui kombinasi ETLE statis, ETLE mobile, teguran, dan tilang manual. Data analisa menunjukkan bahwa pelanggaran tidak memakai helm berstandar SNI, pengendara di bawah umur, pengemudi mobil yang tidak menggunakan sabuk keselamatan, melawan arus, serta pelanggaran lain-lain yang bersifat administratif dan teknis mendominasi catatan pelanggaran.
Afandy berulang kali menegaskan bahwa fokus penindakan diarahkan pada pelanggaran yang berpotensi menimbulkan kecelakaan fatal. Penertiban balap liar, misalnya, menjadi salah satu prioritas. Dalam satu rangkaian kegiatan, puluhan remaja yang terlibat balap liar diamankan, puluhan sepeda motor disita, dan orang tua mereka dipanggil untuk mengikuti pembinaan bersama. “Kami tidak ingin ada korban jiwa karena balap liar. Anak-anak yang terlibat kami bina, kami edukasi bersama orang tuanya. Penindakan harus diiringi pembinaan, agar mereka benar-benar jera dan berubah,” tegasnya.
Di sisi lain, kegiatan preemtif dan preventif selama Operasi Zebra juga diperkuat. Himbauan dan pembagian brosur di simpang-simpang utama, edukasi di sekolah, pemasangan banner di titik strategis, hingga kegiatan Police Goes to School dan Polsanak digelar hampir setiap hari. Satlantas berupaya hadir bukan hanya sebagai penindak, tetapi juga sebagai sahabat masyarakat yang mengingatkan.
Rekap kecelakaan selama periode Operasi Zebra menunjukkan penurunan angka korban meninggal dibanding 14 hari sebelumnya. Meski kecelakaan masih tercatat, tren tersebut menjadi indikator bahwa kombinasi edukasi, pengawasan, dan penegakan hukum memberi dampak nyata. “Operasi Zebra Semeru kami jalankan sebagai langkah menyelamatkan masyarakat. Tujuan akhirnya adalah keselamatan, bukan sekadar angka penindakan,” ujar Afandy dalam evaluasi operasi.
Di balik semua itu, ada narasi panjang tentang identitas budaya yang ia bawa. Sebagai putra Bone, ia tumbuh dalam tradisi yang menjunjung keberanian, kehormatan, dan solidaritas. Ia mengenal kisah La Galigo sebagai epos panjang yang memuat nilai kesetiaan, keberanian, dan hubungan manusia dengan alam dan Yang Ilahi. Ia juga paham betul figur Karaeng Galesong, bangsawan Gowa yang pada abad ke-17 meninggalkan kampung halaman dan ikut berjuang bersama Trunojoyo di tanah Jawa — termasuk di Kediri, dengan pusat kekuasaan yang kala itu berada di kawasan Setono Gedong, tak jauh dari lokasi Mako Satlantas Polres Kediri Kota sekarang.
Bagi Afandy, kisah Karaeng Galesong bukan sekadar catatan sejarah, tetapi semacam cermin takdir. “Karaeng Galesong berasal dari keturunan bangsawan Gowa dan namanya diabadikan sebagai simbol keberanian melawan penjajahan, salah satunya di Kediri. Mungkin ini sudah takdir yang membawa saya ke sini, melanjutkan jejak leluhur kami dalam bentuk pengabdian yang berbeda,” ujarnya suatu ketika.
Dari Bone ke Kediri, dari cita-cita sebagai pedagang menjadi perwira polisi, dari kegagalan seleksi berulang hingga memimpin operasi lalu lintas dalam skala kota, garis hidup Afandy Dwi Takdir memperlihatkan bahwa ketekunan dan nilai-nilai yang dipegang teguh dapat mengubah kegagalan menjadi pijakan. Di penghujung masa tugasnya sebagai Kasat Lantas Polres Kediri Kota, 2 Desember 2025, ia meninggalkan jejak berupa program-program yang masih bisa dilanjutkan, budaya kerja yang menekankan humanisme dan teknologi, serta pesan sederhana yang terus ia ulang: keselamatan di jalan adalah tanggung jawab bersama.
Ia kerap menitipkan pesan kepada warga Kediri: patuhi aturan bukan karena takut petugas, melainkan karena sayang pada diri sendiri dan orang lain. Di tengah hiruk-pikuk kendaraan, peluit, dan sorot kamera CCTV, Afandy ingin Kota Kediri dikenang sebagai kota yang tak hanya tumbuh secara fisik, tetapi juga dewasa dalam budaya tertib berlalu lintas — kota yang benar-benar Sekartaji: selaras, berkaromah, tangguh, dan terpuji. (res/aro)
Inspirasi
Kapolres AKBP Anggi Saputra Ibrahim Tegaskan Kesiapan Personel Amankan Mudik Lebaran
Kediriselaludihati— Polres Kediri Kota menggelar Apel Gelar Pasukan Operasi Kepolisian Terpusat “Ketupat Semeru 2026” sebagai bentuk kesiapan pengamanan perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis (12/3/2026) pagi di halaman Balai Kota Kediri, Jalan Basuki Rahmat Nomor 15 Kota Kediri.

Apel gelar pasukan yang dimulai pukul 16.00 WIB tersebut dihadiri sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Kediri serta instansi terkait yang akan terlibat dalam pengamanan arus mudik dan perayaan Idul Fitri.
Hadir dalam kegiatan tersebut Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, S.H., M.Kn., Kapolres Kediri Kota AKBP Anggi Saputra Ibrahim, S.H., S.I.K., M.H., serta Komandan Kodim 0809 Kediri yang diwakili Mayor Infanteri Ngatari selaku Perwira Penghubung Kodim 0809/Kediri.
Selain itu, turut hadir Kepala Kejaksaan Negeri Kota Kediri yang diwakili Kasi Pidum Dody Novalita, S.H., M.H., Ketua Pengadilan Negeri Kota Kediri Khairul, S.H., M.H., Komandan Brigif Mekanis 16/Wira Yudha Kediri Inf Mohamad Sujoko, M.Han., Komandan Yonif Mekanis 521/Dharma Yudha Kediri Letkol Inf Rahadyan Surya Murdata, S.E., M.I.P., serta sejumlah pejabat dari unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, dan instansi terkait lainnya.
Apel gelar pasukan dipimpin oleh Wali Kota Kediri yang didampingi Kapolres Kediri Kota dan perwakilan Kodim 0809 Kediri. Sementara itu, Komandan Apel dijabat oleh Iptu Andi Anang Dwi Fauzi Sulaiman, S.Tr.K., dengan Perwira Apel Kompol Iwan Setyo Budhi, S.H.
Rangkaian kegiatan diawali dengan laporan perwira apel kepada pimpinan apel, dilanjutkan dengan menyanyikan Mars Polri, pemeriksaan pasukan, serta penyematan pita tanda dimulainya Operasi Ketupat Semeru 2026 kepada perwakilan personel.
Dalam amanatnya, pimpinan apel menegaskan bahwa pelaksanaan Operasi Ketupat Semeru 2026 merupakan langkah strategis untuk memastikan kesiapan personel dan sarana prasarana dalam rangka memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat selama masa mudik Lebaran.
Operasi Ketupat Semeru 2026 akan berlangsung selama 14 hari dengan fokus pada pengamanan arus lalu lintas, pelayanan masyarakat, serta pencegahan potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat selama momentum Idul Fitri.
Kapolres Kediri Kota AKBP Anggi Saputra Ibrahim menegaskan bahwa apel gelar pasukan ini merupakan pengecekan akhir kesiapan seluruh unsur yang terlibat dalam operasi pengamanan.
“Kegiatan ini menjadi momentum untuk memastikan seluruh personel dan sarana pendukung benar-benar siap di lapangan sehingga pelaksanaan pengamanan Lebaran dapat berjalan optimal,” ujar AKBP Anggi Saputra Ibrahim.
Ia juga menekankan pentingnya sinergitas antara Polri, TNI, pemerintah daerah, serta seluruh instansi terkait dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban selama masa mudik.
Selain itu, operasi juga akan mengedepankan pendekatan preemtif dan preventif melalui kegiatan edukasi kepada masyarakat, sosialisasi keselamatan berlalu lintas, serta pemeriksaan kelayakan kendaraan atau ramp check terhadap angkutan umum.
Sementara itu, pendekatan represif juga tetap dilakukan secara humanis terhadap pelanggaran yang berpotensi membahayakan keselamatan, seperti kendaraan over dimension over loading (ODOL), penggunaan knalpot brong, hingga pelanggaran melawan arus.
Apel gelar pasukan tersebut diikuti oleh ratusan personel dari berbagai unsur, di antaranya personel Polres Kediri Kota, Kodim 0809 Kediri, Brigif Mekanis 16/WY, Yonif Mekanis 521/DY, Brimob Polda Jatim, Satpol PP, Dinas Perhubungan, BPBD, Dinas Kesehatan, Senkom Mitra Polri, RAPI Kota Kediri, hingga Saka Bhayangkara.
Selain personel, sejumlah kendaraan operasional juga turut disiagakan dalam kegiatan tersebut, di antaranya kendaraan patroli Polri, kendaraan operasional TNI, sepeda motor patroli, ambulans dari Dinas Kesehatan dan Dokkes Polri, hingga kendaraan operasional dari BPBD dan instansi terkait lainnya.
Setelah pelaksanaan apel selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan pasukan serta kendaraan operasional oleh unsur Forkopimda sebagai bentuk pengecekan kesiapan seluruh unsur yang terlibat dalam Operasi Ketupat Semeru 2026.
Selama kegiatan berlangsung, situasi di lokasi apel terpantau berjalan aman, tertib, dan kondusif. Pemerintah Kota Kediri bersama Polres Kediri Kota berharap melalui operasi terpadu ini, masyarakat dapat menjalankan mudik Lebaran dengan aman, nyaman, dan lancar. (res/aro)
Lalu Lintas
Pengguna Jalan di Jalan KDP Slamet Terima Takjil dari Polisi
Kediriselaludihati – Satuan Lalu Lintas Polres Kediri Kota menggelar kegiatan “Polisi Menyapa” dengan membagikan takjil kepada para pengguna jalan di Kota Kediri pada Selasa (10/3/2026) sore. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan antara kepolisian dan masyarakat selama bulan Ramadan.
Kegiatan berlangsung sekitar pukul 16.00 WIB hingga 16.30 WIB di Jalan KDP Slamet, salah satu ruas jalan yang cukup ramai dilalui kendaraan menjelang waktu berbuka puasa.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kasat Lantas Polres Kediri Kota AKP Tutud Yudho Prastyawan bersama KBO Lantas IPTU Murnianto dan Kanit Kamsel IPTU Mujani. Turut terlibat dalam kegiatan tersebut sejumlah anggota dari Satlantas Polres Kediri Kota serta personel dari Bagian SDM.
Dalam kegiatan tersebut, para personel kepolisian membagikan takjil kepada para pengendara yang melintas di ruas jalan tersebut. Pembagian takjil dilakukan kepada pengendara sepeda motor, pengemudi kendaraan roda empat, maupun masyarakat yang sedang melintas di kawasan tersebut.
Kegiatan berbagi takjil tersebut merupakan bentuk kepedulian kepolisian kepada masyarakat yang tengah menjalankan ibadah puasa, khususnya bagi pengguna jalan yang masih berada di perjalanan menjelang waktu berbuka.
Selain membagikan takjil, kegiatan “Polisi Menyapa” juga menjadi sarana bagi kepolisian untuk menjalin komunikasi secara langsung dengan masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, polisi berharap dapat semakin mendekatkan diri dengan masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran bersama dalam menjaga ketertiban di jalan raya.
Kehadiran aparat kepolisian di tengah masyarakat juga diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi pengguna jalan yang beraktivitas menjelang waktu berbuka puasa.
Selama kegiatan berlangsung, situasi di lokasi terpantau berjalan lancar, tertib, dan kondusif tanpa menimbulkan gangguan terhadap arus lalu lintas di kawasan tersebut. (res/aro)
Lalu Lintas
Satlantas Polres Kediri Kota Intensifkan Patroli dan Pengamanan Takjil
Kediriselaludihati – Satuan Lalu Lintas Polres Kediri Kota meningkatkan kegiatan pengamanan dan patroli lalu lintas di sejumlah titik keramaian pada Selasa (10/3/2026). Kegiatan tersebut dilakukan untuk menjaga kelancaran arus lalu lintas sekaligus memberikan pelayanan kepada masyarakat selama bulan Ramadan.
Patroli kamtibmas dan keselamatan, ketertiban, serta kelancaran lalu lintas (kamseltibcarlantas) digelar sejak pagi hari dengan menyasar sejumlah ruas jalan utama dan kawasan pusat perbelanjaan di Kota Kediri.
Kegiatan patroli dilaksanakan mulai pukul 10.00 WIB dengan titik pemantauan di Simpang Empat Lonceng, kawasan Ramayana, pertokoan di Jalan Dhoho, serta kawasan pertokoan di Jalan Pattimura. Sejumlah personel dari Unit Turjawali Satlantas Polres Kediri Kota diterjunkan dalam kegiatan tersebut.
Selain memantau kondisi arus lalu lintas di ruas jalan utama, petugas juga melakukan patroli di sejumlah pusat aktivitas masyarakat seperti Kediri Town Square, kawasan wisata Paggora, serta Kediri Mall.
Patroli ini dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kemacetan serta untuk memastikan situasi lalu lintas di pusat kota tetap tertib dan lancar. Kehadiran petugas di lapangan juga bertujuan memberikan rasa aman bagi masyarakat yang beraktivitas di kawasan tersebut.
Kegiatan patroli dipimpin oleh Kanit Turjawali bersama anggota Satlantas Polres Kediri Kota yang melakukan pemantauan langsung terhadap kondisi arus kendaraan di sejumlah titik yang memiliki tingkat mobilitas tinggi.
Selain patroli lalu lintas pada siang hari, Satlantas Polres Kediri Kota juga melaksanakan kegiatan apel personel yang dilanjutkan dengan pengamanan pembagian takjil pada sore hari.
Apel digelar pada pukul 16.00 WIB di Markas Komando Satlantas Polres Kediri Kota. Dalam kegiatan tersebut, Kanit Turjawali memberikan arahan kepada seluruh personel sebelum melaksanakan tugas pengamanan.
Usai apel, anggota Satlantas kemudian disebar ke sejumlah titik yang telah ditentukan untuk melaksanakan pengamanan kegiatan pembagian takjil kepada masyarakat.
Pengamanan tersebut dilakukan guna memastikan kegiatan berbagi takjil di bulan Ramadan dapat berlangsung tertib dan tidak menimbulkan kemacetan lalu lintas di jalan raya.
Selain melakukan pengaturan arus kendaraan, petugas juga membantu masyarakat agar proses pembagian takjil berjalan dengan lancar serta tetap memperhatikan keselamatan pengguna jalan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kepolisian dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya selama bulan Ramadan yang biasanya diwarnai peningkatan aktivitas masyarakat pada sore hari menjelang waktu berbuka puasa.
Selama rangkaian kegiatan patroli lalu lintas dan pengamanan pembagian takjil berlangsung, situasi di wilayah hukum Polres Kediri Kota terpantau aman, lancar, dan kondusif. (res/aro)
-
Peristiwa5 years agoNing Sheila Hasina Binti KH Zamzami Lirboyo Juara 1 MHQ 30 Juz , MTQ XIV Kapolda Jatim Cup
-
Kriminal6 years agoJangan Coba Coba Balap Liar di Kota Kediri, Dihukum Dorong Motor Dua Kilometer
-
Peristiwa6 years agoPonpes Tarbiyatul Qur’an Al Falah Ploso Kediri Gelar Haflah dan Wisuda Khatmil Qur’an
-
Uncategorized5 years ago6 Pelatihan Sertifikasi Gada Pratama di Mako Brimob Kediri Terima Anumerta Peserta Terbaik
-
Peristiwa6 years agoPengunjung Pasar Bolawen Kabupaten Kediri Diimbau Jaga Jarak dan Cuci Tangan
-
Peristiwa6 years agoRibuan Umat Muslim Ikuti Pengajian Rutin Malam Rabu Gus Lik Kediri
-
Peristiwa3 years agoInilah Kegiatan Malam Tirakatan Jumat Legi di Gereja Puhsarang
-
Inspirasi6 years agoMengenal Sosok Kasatreskrim AKP I Gusti Agung Ananta
