Connect with us

Uncategorized

Sinergi Tiga Pilar di Kediri Dukung Pembinaan Karakter Generasi Muda Melalui Gerakan Pramuka

Published

on

Kediriselaludihati.com – Jajaran Polsek Kediri Kota terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembinaan karakter generasi muda melalui pengamanan dan pemantauan berbagai kegiatan masyarakat. Salah satunya dilakukan Bhabinkamtibmas Kelurahan Manisrenggo Aipda Bintoro Atmojo, S.H., yang bersama unsur Tiga Pilar melaksanakan pemantauan kegiatan Apel Pesta Siaga Pramuka tingkat Kecamatan Kota Kediri, pada Senin (29/6/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut berlangsung di area Kantor RW 05 dan RW 06, Kelurahan Manisrenggo, Kecamatan Kota, Kota Kediri. Apel diikuti peserta didik dari Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Kecamatan Kota Kediri sebagai bagian dari pembinaan kepramukaan sejak usia dini.

Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Wali Kota Kediri KH Qowimudin Toha, S.H., yang mewakili Wali Kota Kediri, para kepala kelurahan se-Kecamatan Kota Kediri, unsur Tiga Pilar, para pembina Pramuka, guru pendamping, serta ratusan peserta Pesta Siaga.

Kapolsek Kediri Kota Kompol Bowo Wicaksono, S.Sos., mengatakan kehadiran Bhabinkamtibmas dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan Polri terhadap program pembinaan karakter generasi muda sekaligus memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan tertib.

“Gerakan Pramuka memiliki peran penting dalam membentuk karakter, kedisiplinan, jiwa kepemimpinan, serta rasa cinta tanah air pada generasi muda. Karena itu, Polri mendukung penuh kegiatan positif seperti ini sekaligus memastikan pelaksanaannya berjalan dengan aman dan lancar,” ujarnya.

Menurut Kompol Bowo, sinergi antara kepolisian, pemerintah, dan dunia pendidikan menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang anak-anak.

“Pembinaan generasi muda tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi seluruh elemen, mulai dari pemerintah, sekolah, keluarga, hingga aparat keamanan agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan,” katanya.

Selama kegiatan berlangsung, Bhabinkamtibmas bersama unsur Tiga Pilar melakukan pemantauan terhadap jalannya apel, mengawasi situasi di sekitar lokasi kegiatan, serta berkoordinasi dengan panitia guna memastikan seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan aman dan nyaman.

Selain memberikan rasa aman, kehadiran personel kepolisian juga menjadi sarana mempererat hubungan antara Polri dengan masyarakat, khususnya kalangan pendidik, orang tua, dan para peserta didik.

“Kami ingin anak-anak mengenal polisi sebagai sahabat yang siap melindungi dan mengayomi masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap tumbuh kedekatan emosional sekaligus menanamkan kesadaran tentang pentingnya disiplin, ketertiban, dan kepatuhan terhadap aturan sejak usia dini,” tambah Kompol Bowo.

Apel Pesta Siaga Pramuka berlangsung dengan penuh semangat. Para peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan secara tertib di bawah bimbingan para pembina dan guru pendamping. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya semangat kepramukaan sebagai wadah pembentukan karakter dan keterampilan bagi generasi muda.

Hingga kegiatan berakhir, situasi di lokasi tetap aman, tertib, dan kondusif. Kelancaran pelaksanaan kegiatan menjadi bukti sinergi yang baik antara penyelenggara, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat dalam mendukung pendidikan karakter bagi anak-anak.

Melalui kehadiran Bhabinkamtibmas dalam kegiatan tersebut, Polsek Kediri Kota kembali menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga mendukung berbagai program pendidikan dan pembinaan generasi muda sebagai bagian dari implementasi Polri Presisi yang humanis, profesional, dan dekat dengan masyarakat. (res/an)

Continue Reading

Uncategorized

Lima Personel Polda Jatim Siap Jalankan Misi Perdamaian PBB di Afrika Tengah

Published

on

SURABAYA – Lima personel terbaik Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) terpilih menjadi bagian dari Kontingen Garuda Bhayangkara Formed Police Unit (FPU) 8 MINUSCA. Mereka bersiap mengemban misi penting pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Republik Afrika Tengah (Central African Republic/CAR).

Kelima personel tersebut adalah Ipda Dwi Adianto, S.H., Brigpol Herlambang Priyo Trapsilo, S.H., M.H., Brigpol Bagus Firmansyah Aditya, S.Kep., Ns., Brigpol Farhana Rizka Isnaini, S.M., dan Brigpol Wininda Puspita Hapsari Langgeng, S.H.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol. Jules Abraham Abast, menyampaikan bahwa kelima personel tersebut telah menuntaskan serangkaian pelatihan dan pembinaan intensif sebelum bertolak ke wilayah misi.

“Mereka telah mengikuti berbagai tahapan persiapan untuk memastikan kesiapan yang matang, baik dari aspek kemampuan individu maupun soliditas sebagai satu kesatuan Formed Police Unit,” ujar Kombes Pol Abast.

Sebelum diterjunkan ke lapangan, kontingen wajib mengikuti Pre-Deployment Training (PDT) FPU 8 MINUSCA yang dibagi dalam tiga tahapan waktu: tahap pertama selama 40 hari, tahap kedua 52 hari, dan tahap ketiga selama 30 hari.

Selama pelatihan tersebut, para personel dibekali dengan berbagai keahlian taktis dan operasional yang krusial. Materi yang diberikan meliputi Police Tactics and Techniques, Public Order Management, Firearms Training, Tactical Driving, serta fungsi operasional dan logistik.

Selain itu, mereka juga dilatih dalam kemampuan khusus seperti Minpers, Liaison Officer, General Affair, Duty Officer, tim medis, SWAT, sniper, hingga instruktur FPU.

Mengingat wilayah penugasan menggunakan bahasa Prancis, para personel juga mendapatkan pelatihan bahasa secara khusus untuk mempermudah komunikasi dan koordinasi di lingkungan misi internasional.

“Persiapan ini juga mencakup agenda strategis lainnya, seperti Joint Training Polwan dan RCMP, Pre-AOC, Assessment of Operational Capability, Command Staff Training, Leadership Training, hingga kegiatan Ground Handling dan team building,” jelas Kombes Pol Abast.

Seluruh rangkaian penyiapan kontingen ini kemudian ditutup dengan tradisi pelepasan, di antaranya Tradisi Jalan Juang, upacara pembaretan, serta upacara penutupan resmi sebelum jadwal pemberangkatan menuju Afrika Tengah.

Kombes Pol Abast menegaskan bahwa keikutsertaan lima personel Polda Jatim dalam FPU 8 MINUSCA merupakan wujud nyata kontribusi Polri dalam mendukung misi perdamaian dunia di bawah mandat PBB.

“Mereka membawa nama besar Polri dan Polda Jatim dalam menjalankan tugas kemanusiaan ini. Kami berharap seluruh personel dapat menunaikan tugas dengan profesional, disiplin, dan penuh rasa tanggung jawab,” pungkas Kombes Pol Abast. (*)

Continue Reading

Uncategorized

UKSW–PUSAT STUDI KEPOLISIAN: MEMAHAMI KEKERASAN, MERAWAT KEBHINEKAAN

Published

on

SALATIGA — Memahami kekerasan tidak cukup hanya dengan melihat peristiwa ketika kekerasan terjadi. Di baliknya terdapat proses, lingkungan, cara pandang, serta berbagai faktor sosial yang perlu dipahami secara lebih mendalam.

Semangat tersebut menjadi bagian dari peran Pusat Studi Kepolisian yang terus membuka ruang perjumpaan antara ilmu kepolisian, pengalaman praktis, dan berbagai disiplin ilmu di perguruan tinggi. Pusat studi tidak hanya menjadi tempat membicarakan persoalan kepolisian, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman lapangan dengan perspektif akademik, sehingga berbagai persoalan masyarakat dapat dikaji secara lebih utuh.

Kolaborasi dengan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menjadi salah satu bentuk bagaimana pengalaman dan pengetahuan tersebut dibawa ke lingkungan akademik untuk didiskusikan secara terbuka. Melalui ruang seperti ini, mahasiswa dan sivitas akademika memperoleh kesempatan untuk berdialog langsung dengan para ahli, sementara pengalaman kepolisian dapat diperkaya melalui perspektif ilmu pengetahuan.

Salah satu pertemuan tersebut berlangsung dalam Kuliah Umum bertema “Merawat Kebhinekaan dan Menjaga Persatuan” di Balairung UKSW, Salatiga, Jawa Tengah, Kamis (1/10/2026).

Kuliah umum menghadirkan Komjen Pol. (Purn.) Prof. Dr. H. Rycko Amelza Dahniel, M.Si., Kasatgas Pusat Studi Terorisme, sebagai narasumber. Dengan pengalaman panjang dalam bidang kepolisian dan penanggulangan terorisme, Rycko membawa perspektif praktis ke ruang akademik untuk dibahas bersama mahasiswa dan sivitas akademika UKSW.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi UKSW, Dr. Ir. Sri Suwartiningsih, M.Si., menekankan pentingnya menjadikan kampus sebagai ruang pembelajaran yang aktif, terbuka, dan menyenangkan.

“Mahasiswa jangan hanya menjadi pendengar. Mereka perlu menjadi bagian aktif dalam proses pembelajaran, berani bertanya, berpikir kritis, terbuka terhadap perbedaan, dan mampu membangun dialog,” ujar Sri Suwartiningsih.

Menurutnya, proses pembelajaran perlu dibangun melalui joyful learning, sehingga mahasiswa dapat membahas persoalan kebangsaan yang kompleks dengan suasana terbuka dan konstruktif.

Memahami kekerasan dari prosesnya

Dalam paparannya, Rycko menjelaskan bahwa kekerasan ekstrem tidak muncul begitu saja.

Intoleransi, kebencian, marginalisasi, diskriminasi, pengalaman ketidakadilan, konflik, lingkungan sosial, hingga proses pencarian identitas dapat menjadi bagian dari kondisi yang perlu dipahami dalam proses radikalisasi.

Karena itu, perhatian tidak cukup diarahkan pada tindakan kekerasan yang sudah terjadi.

“Yang perlu dipahami bukan hanya tindakan akhirnya, tetapi proses yang terjadi sebelumnya—bagaimana kebencian terbentuk, bagaimana intoleransi berkembang, dan bagaimana sebuah gagasan dapat berubah menjadi pembenaran terhadap kekerasan,” jelas Rycko.

Pemahaman tersebut menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi digital yang membuat gagasan dapat menyebar dengan cepat.

Video pendek, meme, musik, animasi, media sosial, komunitas daring hingga interaksi melalui permainan digital dapat menjadi bagian dari lingkungan tempat gagasan berkembang.

Karena itu, generasi muda membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan literasi digital.

“Generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk memahami, menyaring, dan menguji informasi yang mereka terima. Jangan sampai ruang digital justru menjadi ruang yang membentuk kebencian dan kekerasan,” kata Rycko.

Memahami ekstremisme tanpa memberi stigma

Dalam kuliah tersebut, peserta juga diperkenalkan pada berbagai bentuk ekstremisme, antara lain Religiously Motivated Violent Extremism (RMVE), Ideologically Motivated Violent Extremism (IMVE), dan Nihilistic Violent Extremism (NVE).

Pembahasan ini menunjukkan bahwa ekstremisme memiliki latar belakang dan karakter yang beragam.

Karena itu, fenomena tersebut perlu dikaji secara hati-hati dan berbasis pengetahuan. Pendekatan akademik membantu mahasiswa membedakan antara perbedaan pendapat, sikap kritis, radikalisme, ekstremisme, dan tindakan kekerasan.

Mahasiswa berdialog langsung dengan ahli

Kuliah umum tidak berhenti pada penyampaian materi. Mahasiswa UKSW aktif mengajukan pertanyaan mengenai demokrasi, kebebasan berekspresi, kesetaraan, kepastian hukum, asas legalitas, penegakan hukum, hingga keadilan.

Salah satu pembahasan menyentuh bagaimana kebebasan dapat berjalan bersama tanggung jawab dalam kehidupan demokrasi.

Rycko menjelaskan bahwa kebebasan berekspresi merupakan bagian penting dari demokrasi, namun tetap perlu dijalankan dalam koridor hukum dan tidak diarahkan untuk membangun kebencian atau merugikan pihak lain.

Pembahasan lain menyentuh penegakan hukum. Menurut Rycko, tindakan kepolisian harus berpedoman pada hukum dan dilaksanakan secara profesional, proporsional, serta dapat dipertanggungjawabkan.

Dialog tersebut memperlihatkan bahwa pembahasan ekstremisme tidak berdiri sendiri. Ia bersinggungan dengan hukum, demokrasi, kebebasan, keadilan, pendidikan, dan kehidupan sosial.

UKSW sebagai ruang kebhinekaan

Tema “Merawat Kebhinekaan dan Menjaga Persatuan” menemukan konteksnya di lingkungan UKSW.

Dalam forum tersebut, UKSW mendapat apresiasi sebagai “kampus miniatur Indonesia” karena keberagaman sivitas akademikanya.

Sri Suwartiningsih menilai keberagaman tersebut merupakan bagian dari kekuatan proses pendidikan.

“Kebersamaan, kolaborasi, kepedulian, dan saling mendukung menjadi penting agar perbedaan yang ada justru menjadi kekuatan dalam kehidupan bersama,” ujarnya.

Menurutnya, kampus perlu menjadi ruang yang aman bagi mahasiswa untuk bertanya, berdialog, dan belajar memahami perspektif yang berbeda.

Dengan demikian, toleransi tidak berhenti sebagai teori. Mahasiswa mengalaminya dalam keseharian ketika belajar bersama, berdiskusi, bekerja dalam kelompok, dan membangun hubungan sosial dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda.

Kolaborasi kampus dan pengembangan ilmu kepolisian

Kegiatan di UKSW mencerminkan pentingnya mempertemukan perguruan tinggi dengan institusi yang memiliki pengalaman langsung dalam menangani berbagai persoalan masyarakat.

Pusat Studi Kepolisian terus membuka jejaring dengan perguruan tinggi sebagai bagian dari pengembangan ilmu kepolisian. Kolaborasi dapat berkembang melalui kuliah umum, penelitian, diskusi ilmiah, publikasi, pengembangan kajian, maupun pengabdian kepada masyarakat.

Dengan jejaring yang semakin luas, ilmu kepolisian dapat terus berinteraksi dengan ilmu hukum, sosial, psikologi, komunikasi, teknologi, pendidikan, dan bidang ilmu lainnya.

Bagi mahasiswa, perjumpaan tersebut memberikan kesempatan untuk belajar bukan hanya dari buku, tetapi juga dari pengalaman para ahli dan praktisi.

Memahami untuk mencegah

Pada akhirnya, pembahasan mengenai radikalisme, ekstremisme, dan terorisme bukan untuk membangun ketakutan, melainkan memperluas pemahaman.

Pendidikan dan dialog dapat menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang mampu mengenali persoalan, memahami perbedaan, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.

Dari ruang akademik UKSW, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk bertanya dan menguji gagasan.

Dari Pusat Studi Kepolisian, pengalaman dan pengetahuan kepolisian dibawa ke ruang ilmu pengetahuan.

Keduanya bertemu dalam satu tujuan yang lebih luas: memahami masyarakat agar dapat bersama-sama menjaga kehidupan yang damai, toleran, dan tetap bersatu dalam kebhinekaan.

Continue Reading

Uncategorized

Satgas Damai Cartenz Bagikan Tas dan Alat Tulis untuk Masa Depan Papua

Published

on

TIMIKA, PAPUA TENGAH – Kepedulian terhadap pendidikan anak-anak Papua ditunjukkan Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz-2026 melalui kegiatan pembagian tas dan perlengkapan belajar kepada siswa sekolah dasar di wilayah Pomako, Kabupaten Mimika, Kamis (1/10/2026).

Kegiatan tersebut menyasar dua sekolah, yakni SD Pigapu dan SD Negeri Satu Atap Pomako. Sebanyak 500 tas sekolah disalurkan, dengan rincian 200 tas untuk siswa SD Pigapu dan 300 tas untuk siswa SD Negeri Satu Atap Pomako.

Kegiatan dipimpin Kasatgas Banops Damai Cartenz-2026 Kombes Pol. Bambang Widiatmoko, S.H., M.M., bersama Wakasatgas Humas Ops Damai Cartenz-2026 AKBP Andria, S.I.K., serta para personel Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz-2026.

Bagi Satgas Operasi Damai Cartenz-2026, pembagian perlengkapan sekolah tersebut bukan sekadar penyaluran bantuan, tetapi menjadi bentuk kepedulian terhadap kebutuhan anak-anak dalam menjalani pendidikan. Tas sekolah merupakan salah satu perlengkapan yang digunakan siswa dalam kegiatan belajar sehari-hari.

Kehadiran personel Satgas juga mendapat sambutan dari pihak sekolah dan para siswa. Anak-anak terlihat antusias saat menerima bantuan maupun ketika berinteraksi dengan personel yang hadir.

Kepala SD Negeri Pigapu Juwita Marice Meryam Bieths menyampaikan terima kasih atas kunjungan dan perhatian yang diberikan Satgas Operasi Damai Cartenz-2026 kepada sekolah dan para siswa.

Menurutnya, kehadiran Satgas memberikan semangat tersendiri bagi anak-anak. Bantuan berupa tas dan perlengkapan belajar juga dinilai membantu memenuhi kebutuhan siswa dalam mengikuti kegiatan pendidikan.

“Kami berterima kasih kepada komandan satgas sudah meluangkan waktu, memberikan kesempatan, memberikan dukungan dengan fasilitas tas dan buku. Terima kasih. Tetap semangat, tetap sehat dan jalankan tugasnya,” ujar Kepala SD Negeri Pigapu.

Ia juga menyampaikan bahwa keberadaan Satgas di wilayah tersebut turut memberikan rasa aman bagi lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar.

“Kami bersemangat, kami senang juga ada satgas ini karena dengan sendirinya kami merasa keamanan di sekitar lingkungan kami tinggal dan daerah kami bisa aman dari ancaman-ancaman atau dari orang-orang yang bertindak anarkis. Jadi kami sangat membutuhkan satgas bisa bekerja dengan tim yang lain untuk kedamaian dan kenyamanan di daerah kami,” katanya.

Sementara itu, Kepala SD Negeri Satu Atap Pomako, Sofyan Hadi, S.Pd., Gr., menyampaikan apresiasi atas perhatian Satgas Operasi Damai Cartenz-2026 terhadap kebutuhan pendidikan para siswa.

Menurutnya, dukungan berupa perlengkapan sekolah memiliki manfaat langsung bagi anak-anak karena digunakan dalam aktivitas belajar sehari-hari. Perhatian tersebut juga menjadi dorongan bagi siswa untuk tetap bersemangat mengikuti pembelajaran.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk pendekatan humanis Satgas Operasi Damai Cartenz-2026 dalam membangun komunikasi dengan masyarakat. Perhatian terhadap pendidikan dilakukan dengan menyentuh kebutuhan sederhana yang secara langsung digunakan anak-anak di sekolah.

Melalui pembagian tas dan perlengkapan belajar, Satgas Operasi Damai Cartenz-2026 berharap dukungan tersebut dapat membantu siswa dalam menjalani kegiatan pendidikan sekaligus menumbuhkan semangat mereka untuk terus belajar dan mengejar cita-cita.

Pendidikan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda Papua. Dukungan terhadap anak-anak di lingkungan sekolah diharapkan dapat terus dilakukan bersama oleh pemerintah, sekolah, masyarakat, dan berbagai pihak untuk mendukung masa depan Papua.

Kaops Damai Cartenz-2026, Irjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani, S.Sos., S.I.K., M.H., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pendekatan humanis Satgas dalam membangun komunikasi dan kedekatan dengan masyarakat, khususnya generasi muda.

“Anak-anak adalah bagian penting dari masa depan Papua. Melalui bantuan perlengkapan sekolah ini, kami ingin memberikan dukungan sederhana yang dapat membantu mereka belajar dengan lebih baik. Harapannya, anak-anak semakin bersemangat untuk bersekolah dan meraih cita-cita,” kata Kaops Damai Cartenz-2026.

Ia menambahkan, kegiatan sosial seperti pembagian perlengkapan sekolah juga menjadi sarana bagi personel Satgas untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat dan memahami kebutuhan yang ada di lingkungan sekitar.

Sementara itu, Wakaops Damai Cartenz-2026, Kombes Pol. Adarma Sinaga, S.I.K., M.Hum., mengatakan perhatian terhadap pendidikan merupakan bagian penting dalam membangun masa depan generasi muda di Papua. Menurutnya, dukungan yang diberikan tidak semata-mata berupa bantuan barang, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian untuk mendorong anak-anak agar tetap memiliki semangat dalam menempuh pendidikan.

“Kami berharap bantuan ini dapat memberikan manfaat bagi anak-anak dalam kegiatan belajar sehari-hari. Pendidikan merupakan bekal penting bagi mereka untuk meraih cita-cita dan membangun masa depan Papua,” ujar Wakaops Damai Cartenz-2026.

Wakaops Damai Cartenz-2026 juga mengajak para siswa untuk memanfaatkan perlengkapan yang diberikan dengan sebaik-baiknya serta terus rajin belajar. Ia berharap perhatian terhadap dunia pendidikan dapat dilakukan secara berkelanjutan melalui kerja sama antara pemerintah, sekolah, masyarakat, dan berbagai pihak lainnya.

Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana ceria. Para siswa menerima bantuan dengan antusias, sementara personel Satgas berinteraksi bersama anak-anak dan pihak sekolah.

Melalui pembagian tas dan perlengkapan belajar, Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz-2026 berupaya menghadirkan kepedulian yang menyentuh kebutuhan sehari-hari masyarakat. Dukungan terhadap pendidikan diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya bersama dalam mempersiapkan generasi muda yang akan menjadi bagian penting dari masa depan Papua.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 kediriselaludihati.com

You cannot copy content of this page