Inspirasi
Cegah Corona, TNI Polri Ajak Warga dan Anak – Anak SD Tanam 1000 Pohon Obat
Pelestarian
terhadap lingkungan merupakan tanggung jawab bagi semua pihak ,untuk itu perlu
adanya kesadaran semua pihak dalam menjaga kondisi lingkungan tersebut tetap
bersemi,berseri ,asri dan alami agar dampak manfaatnya dapat dirasakan oleh
masyarakat secara luas hingga generasi anak cucu kedepan.
Penghijauan adalah kunci utamanya yang harus dilakukan agar
kondisi lingkungan sekitar bisa lestari ,karena penghijauan dapat diartikan
satu pohon sejuta manfaat, Seperti halnya yang dilaksanakan di wilayah Kediri
Jawa Timur hari ini .
Hari ini Anggota Komando Rayon Militer (Koramil) 0809/02
Pesantren Kota Kodim Kediri bersama jajaran Muspika Kecamatan Pesantren,
puluhan personil kepolisian ,puluhan warga dan puluhan siswa MI/SD menggelar
kerja bakti peduli terhadap lingkungan, dengan menanam ribuan bibit pohon obat
dilaksanakan di sepanjang kanan kiri jalan Kelurahan Banaran sampai dengan
lingkungan Ngleco Kecamatan Pesantren Kota Kediri. Jum’at (7/2/2020).
Danramil 02/Pesantren Kota Kodim Kediri Kapten Puguh B
menuturkan kepada awak media, Bahwa Koramil 02/Pesantren hari ini bersama
jajaran Muspika Kecamatan Pesantren ,Polsek ,Kakel Banaran ,Warga dan puluhan
anak anak SD dan MI melaksanakan kegiatan kerja bakti peduli lingkungan dengan
menaman 1000 pohon jenis obat yang ditanam disepanjang kanan kiri jalan
Kelurahan Banaran hinggga lingkungan Ngleco Pesantren dengan sejauh
kurang lebih 1,5 KM.
Kegiatan
penghijauan ini merupakan salah satu wujud kepedulian kami bersama untuk
menciptakan lingkungan sekitar supaya lestari ,selain itu penghijauan ini guna
untuk mencegah pemanasan global agar tidak terjadi erosi”tutur Kapten
Puguh B.
Kegiatan tersebut kata Danramil sangat baik dilakukan dan
memiliki banyak manfaat bagi lingkungan dan masyarakat apalagi pohon yang
ditanam ini merupakan pohon jenis obat”jelas Danramil.
Antusias warga yang tergabung bersama jajaran muspika dan anak anak SD/MI pagi ini terlihat sangat senang sekali karena penghijauan yang diharapkan sudah terwujud meski saat ini masih dalam tahap penanaman”pungkasnya.
Inspirasi
Pastikan Kesiapan Personel dan Sarana, Polisi Siagakan Pengamanan Jalur Mudik 2026
Kediriselaludihati – Jajaran Polres Kediri Kota melakukan patroli malam sekaligus pengecekan kesiapan Pos Pengamanan (Pospam) dan Pos Pelayanan (Posyan) dalam rangka Operasi Ketupat Semeru 2026, Sabtu (14/3/2026) malam hingga Minggu dini hari.
Kegiatan tersebut dipimpin Kabag Ops Polres Kediri Kota Kompol Iwan Setyo Budhi bersama Kasat Samapta AKP Priyo Hadistyo dan Kasatlantas AKP Tutud Yudho Prastyawan, serta sejumlah kanit dan personel yang terlibat dalam operasi pengamanan Idulfitri.
Patroli dilakukan untuk memastikan kesiapan personel maupun sarana dan prasarana di setiap pos pengamanan dan pelayanan yang telah didirikan di sejumlah titik strategis di wilayah Kota Kediri.
Beberapa pos yang menjadi sasaran pengecekan di antaranya Pos Pengamanan Jalan Dhoho, Pos Pelayanan Alun-Alun Kediri, serta Pos Pengamanan Terminal Baru Kediri. Ketiga lokasi tersebut dinilai sebagai titik penting yang berpotensi menjadi pusat mobilitas masyarakat selama arus mudik maupun balik Lebaran.
Kabag Ops Polres Kediri Kota Kompol Iwan Setyo Budhi mengatakan kegiatan patroli dan pengecekan ini merupakan bagian dari upaya pengendalian operasi guna memastikan seluruh perangkat pengamanan siap menjalankan tugas selama masa libur Idulfitri.
“Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan personel serta sarana dan prasarana di setiap pos, sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan optimal serta tercipta situasi yang aman dan kondusif selama arus mudik dan perayaan Idulfitri,” ujar Iwan, Minggu (15/3/2026).
Menurut dia, kesiapan pos pengamanan dan pelayanan menjadi salah satu kunci dalam menjaga stabilitas keamanan dan kelancaran arus lalu lintas selama meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang Lebaran.
Selain melakukan pengecekan kesiapan personel, tim patroli juga memeriksa sejumlah fasilitas pendukung di setiap pos, mulai dari ruang istirahat personel, perlengkapan komunikasi, hingga ketersediaan logistik bagi petugas yang berjaga selama operasi berlangsung.
Iwan juga mengingatkan para personel yang bertugas di pos pengamanan dan pelayanan untuk selalu menjaga kedisiplinan serta meningkatkan kewaspadaan selama bertugas di lapangan.
Para petugas diminta tetap mengedepankan pendekatan humanis saat memberikan pelayanan kepada masyarakat, terutama kepada para pemudik yang melintas di wilayah hukum Polres Kediri Kota.
Sementara itu, Kasatlantas Polres Kediri Kota AKP Tutud Yudho Prastyawan menambahkan bahwa keberadaan pos pengamanan dan pos pelayanan memiliki peran strategis dalam mendukung kelancaran arus lalu lintas selama periode mudik.
Menurut dia, pos-pos tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat penjagaan, tetapi juga menjadi pusat informasi dan pelayanan bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan selama perjalanan.
“Pos pengamanan dan pos pelayanan ini juga menjadi pusat informasi bagi masyarakat. Kami siap memberikan bantuan, pengaturan lalu lintas, serta penanganan cepat apabila terjadi gangguan di jalan,” kata Yudho.
Ia menjelaskan, personel lalu lintas telah disiagakan untuk melakukan pengaturan maupun rekayasa arus kendaraan apabila terjadi peningkatan volume kendaraan di sejumlah jalur utama di Kota Kediri.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi kemacetan di titik-titik rawan kepadatan, termasuk kawasan pusat kota, jalur menuju terminal, serta akses menuju pusat perbelanjaan dan lokasi wisata.
Operasi Ketupat Semeru 2026 sendiri dilaksanakan selama 13 hari, mulai 13 hingga 25 Maret 2026. Operasi ini bertujuan menjamin keamanan dan kenyamanan masyarakat selama bulan Ramadhan serta perayaan Idulfitri 1447 Hijriah.
Dalam pelaksanaannya, kepolisian mengedepankan langkah preemtif dan preventif melalui patroli rutin, penjagaan pos pengamanan, pengaturan lalu lintas, serta penegakan hukum terhadap pelanggaran yang berpotensi menimbulkan kecelakaan.
Operasi tersebut juga melibatkan personel gabungan dari berbagai instansi, seperti TNI, Satpol PP, Dinas Perhubungan, tenaga kesehatan, serta unsur relawan yang turut membantu pengamanan di lapangan.
Selain pengamanan jalur mudik, petugas juga melakukan pemantauan di sejumlah objek vital, pusat perbelanjaan, kawasan permukiman, serta lokasi yang berpotensi menimbulkan kerawanan keamanan.
Dengan adanya patroli dan pengecekan tersebut, diharapkan seluruh pos pengamanan dan pelayanan dapat berfungsi secara optimal sehingga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat selama perayaan Idulfitri di wilayah hukum Polres Kediri Kota tetap aman, tertib, dan lancar. (res/aro)
Inspirasi
Terakhir Direvitalisasi 1976, Jembatan Lama Kediri Dinilai Sudah Saatnya Dirawat Total

Kediriselaludihati – Jembatan Lama Kota Kediri atau Brug over den Brantas te Kediri genap berusia 157 tahun pada 18 Maret 2026 sejak pertama kali dioperasikan sebagai bagian dari jalur Groote Postweg (jalan raya) pada masa pemerintahan kolonial Belanda, tepatnya pada 18 Maret 1869.
Untuk memperingati momen bersejarah tersebut, sejumlah pemerhati budaya dan sejarah yang mengatasnamakan Juru Wotan menggelar peringatan hari jadi Jembatan Lama pada 14 Maret 2026 di kawasan jembatan tersebut.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Imam Mubarok, peneliti sejarah Jembatan Lama Kediri sekaligus pemerhati cagar budaya.
Menurut Mubarok, pelaksanaan peringatan dimajukan dari tanggal sebenarnya karena 18 Maret 2026 berdekatan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, sehingga banyak pihak diperkirakan telah memasuki masa persiapan hari raya.
“Karena tanggal 18 Maret tahun ini berdekatan dengan Idul Fitri, maka peringatan ulang tahun jembatan dimajukan menjadi 14 Maret agar masyarakat tetap dapat mengikuti kegiatan dengan baik,” ujar Imam Mubarok yang akrab disapa Gus Barok.
Acara tersebut dihadiri Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, S.H., M.Kn, Wakil Wali Kota Qowimuddin Thoha, Wakapolres Kediri Kota Kompol Putu Gde Caka Pratyaksa Ratsuko, S.I.K., M.I.K., Mayor Inf. Ngatari selaku Pabung Kodim 0809 Kediri, jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Kota Kediri, Dewan Kebudayaan Daerah Kota Kediri, serta sejumlah pegiat sejarah dari berbagai daerah.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan, Jembatan Lama bukan sekadar penghubung wilayah di atas Sungai Brantas, melainkan juga bagian penting dari sejarah dan identitas Kota Kediri.
Menurut dia, jembatan yang telah berdiri lebih dari satu setengah abad itu menjadi saksi perkembangan kehidupan masyarakat sekaligus perjalanan budaya di Kota Kediri.
“Jembatan Lama ini bukan hanya sekadar jembatan yang menghubungkan dua wilayah, tetapi juga menjadi saksi perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat Kota Kediri. Karena itu, momentum peringatan ini bukan hanya untuk mengenang sejarah, tetapi juga merawat warisan yang telah menjadi identitas kota,” ujarnya.
Peluncuran Tenun Ikat Motif Jembatan Lama
Selain selamatan ulang tahun ke-157, peringatan ini juga dirangkaikan dengan peluncuran tenun ikat Bandar bermotif Jembatan Lama karya perajin tenun ikat asal Bandar Kidul, Slamet Sugiyanto dari Palugada.
Tenun ikat dengan motif Jembatan Lama tersebut kemudian dikenakan dan diperagakan oleh para penari dalam pertunjukan seni yang menjadi bagian dari rangkaian acara.
Para penari dari Sanggar Tari Gondho Arum membawakan tarian Beksan Mangu-Mangu dengan iringan musik karya Saras Swara Indonesia.
Tarian ini mengandung pesan moral yang mengingatkan manusia agar senantiasa menjalankan kewajiban beribadah serta menghargai sesama dalam kehidupan bermasyarakat.
Jembatan Besi Pertama di Jawa
Jembatan Lama Kediri dikenal sebagai salah satu karya teknik penting pada abad ke-19. Struktur jembatan ini menggunakan konstruksi besi yang ditopang oleh tiang sekrup yang ditanam di dasar Sungai Brantas.
“Jembatan di atas Sungai Brantas di Kediri ini merupakan jembatan besi pertama di Jawa, bahkan di dunia pada masa itu, dan dianggap sebagai adikarya teknik oleh insinyurnya, Sytze Westerbaan Muurling,” kata Imam Mubarok yang juga Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur, Sabtu (14/3).
Ia menambahkan, usia jembatan tersebut bahkan lebih tua dibandingkan Jembatan Brooklyn di Amerika Serikat yang selesai dibangun pada 1883 dan menghubungkan Manhattan dengan Brooklyn di New York City melintasi Sungai East.
Menurut Mubarok—yang akrab disapa Gus Barok—status Jembatan Lama Kediri sebagai cagar budaya peringkat nasional menuntut adanya pengelolaan yang sesuai dengan ketentuan hukum.
“Karena sudah menjadi cagar budaya peringkat nasional, pemanfaatan jembatan harus mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Tidak boleh digunakan sembarangan untuk kepentingan pribadi, instansi, partai politik, maupun organisasi kemasyarakatan,” ujarnya.
Ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional
Pada tahun 2022, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim menetapkan 15 cagar budaya peringkat nasional pada periode Januari hingga Oktober 2022.
Kelima belas cagar budaya tersebut terdiri atas empat benda cagar budaya, satu struktur cagar budaya, lima bangunan cagar budaya, serta lima situs cagar budaya yang tersebar di lima provinsi di Indonesia.
Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Mendikbudristek Nomor 58/M/2022, 59/M/2022, 60/M/2022, 61/M/2022, dan 145/M/2022.
Salah satu yang termasuk dalam daftar tersebut adalah Jembatan Lama Kota Kediri yang berada di Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Data mengenai sejarah pembangunan jembatan ini diperoleh Imam Mubarok dari berbagai sumber primer, termasuk buku Belanda berjudul Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek. Ia juga mendapat bantuan dari Olivier Johanes, pengamat budaya Indonesia di Belanda, dalam menelusuri sejarah panjang jembatan yang hingga kini masih berfungsi dengan baik.
Sebagai penghubung wilayah barat dan timur Kota Kediri, jembatan ini sejak awal memiliki peran strategis. Pada masa lalu, jembatan tersebut bahkan menjadi satu-satunya jalur penghubung transportasi antara wilayah Madiun dan Surabaya.
Dimensi dan Sejarah Penetapan
Jembatan Lama Kediri memiliki panjang 160 meter, lebar 5,80 meter, dan tinggi 7,50 meter dari permukaan air Sungai Brantas.
Jembatan ini ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 12 Maret 2019. Penetapan tersebut kemudian diperkuat melalui keputusan Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar pada 18 Maret 2019, bertepatan dengan peresmian Jembatan Brawijaya Kediri.
Sebelumnya, sejak 2015, Jembatan Lama Kediri telah tercatat sebagai objek diduga cagar budaya (ODCB). Penelitian terhadap berbagai sumber sejarah, baik dari Indonesia maupun Belanda, telah dilakukan oleh Imam Mubarok sejak 1 Maret 2013.
Sosok Insinyur di Balik Pembangunan
Dari sisi sejarah teknik, Jembatan Lama Kediri merupakan karya insinyur Belanda Sytze Westerbaan Muurling.
Ia lahir di Belanda pada 29 November 1836 dan meninggal dunia di Batavia pada 17 Oktober 1876. Muurling merupakan putra dari Dr. W. Muurling, seorang pendeta sekaligus profesor teologi.
Muurling menempuh pendidikan dasar di sekolah Austria sebelum melanjutkan pendidikan menengah. Ia sempat mengambil jurusan hukum di Groningen, namun terpaksa berhenti karena sakit.
Setelah pulih, pada 1854 ia mengikuti ujian masuk Royal Academy di Delft dan berhasil meraih gelar insinyur sipil pada 1859. Pada 4 Februari 1860, ia kemudian ditugaskan oleh Menteri Koloni Belanda untuk bekerja di kantor Direktur Pekerjaan Umum di Hindia Belanda.
Bertahan dari Banjir hingga Perang
Sejumlah foto dalam koleksi Kediri’s Photograph Museum di Jalan Kapten Tendean 66, Ngronggo, menunjukkan betapa tangguhnya konstruksi jembatan ini.
Jembatan tersebut beberapa kali diterjang derasnya arus Sungai Brantas. Banjir paling parah tercatat terjadi pada 1954 yang merobohkan pagar jembatan. Namun struktur utama jembatan tetap kokoh dan tidak bergeser sedikit pun.
Jembatan ini juga pernah menjadi bagian dari perayaan kerajaan Belanda ketika Putri Juliana menikah dengan Pangeran Bernhard pada 7 Januari 1937. Saat itu jembatan dihiasi lampu-lampu hias dari ujung ke ujung.
Selain itu, jembatan sempat mengalami peninggian setelah erupsi Gunung Kelud pada 1901. Proyek peninggian dimulai pada awal 1912 dan selesai pada 10 Maret 1912.
Pada masa perang kemerdekaan, jembatan ini bahkan pernah direncanakan untuk diledakkan oleh pihak penjajah Jepang. Namun rencana tersebut berhasil digagalkan sehingga jembatan tetap berdiri hingga kini.
Sudah 50 Tahun Tanpa Revitalisasi Besar
Revitalisasi besar terakhir terhadap Jembatan Lama dilakukan pada 1976 dan selesai pada 20 November 1976.
Menurut Imam Mubarok, dengan usia pemeliharaan yang telah mencapai setengah abad, sudah saatnya dilakukan perawatan dan pemeliharaan menyeluruh.
“Artinya pada tahun 2026 ini sudah 50 tahun sejak pemeliharaan besar terakhir dilakukan. Karena itu sudah saatnya dilakukan perawatan total agar jembatan tetap terpelihara,” kata Gus Barok.
Ia menegaskan bahwa proses pemeliharaan harus tetap berkonsultasi dengan Kementerian Kebudayaan maupun Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, mengingat statusnya sebagai cagar budaya konstruksi peringkat nasional.
Kronologi Pembangunan Jembatan Lama Kediri
16 Mei 1854
Pemerintah Hindia Belanda memutuskan membangun jembatan batu berdasarkan desain seorang kapten zeni dengan anggaran f 128.891,00.
1855
Pekerjaan dimulai. Namun muncul keberatan dari insinyur kepala Waterstaatsafdeeling Surabaya karena tiang batu besar dinilai dapat menghambat aliran sungai.
September 1859
Fondasi penopang jembatan sisi barat selesai dibangun.
Juli 1861
Pemasangan paku bumi di tengah sungai mengalami kendala teknis. Anggaran membengkak hingga f 73.000,00 sehingga pekerjaan dihentikan.
1 Mei 1862
Insinyur Sytze Westerbaan Muurling mengajukan desain alternatif berupa jembatan besi dengan anggaran f 230.825,00.
27 April 1863
Tender pembangunan di Batavia gagal.
30 Desember 1863
Tender kedua melalui penunjukan langsung juga gagal.
31 Juli 1865
Tender ketiga berhasil dengan nilai kontrak f 212.000,00.
18 September 1865
Pembangunan jembatan besi dimulai dengan target penyelesaian dua tahun.
18 September 1867
Proyek mengalami keterlambatan akibat kendala teknis.
11 Maret 1869
Pekerjaan selesai dan jembatan dinyatakan lulus uji coba.
18 Maret 1869
Jembatan resmi dibuka untuk umum.
Sumber:
J. van Velzen, De ijzeren brug over de Kediri-rivier, ter hoofdplaats van de Residentie Kediri, dalam majalah Tijdschrift van het Koninklijk Instituut van Ingenieurs. Afdeeling Nederlandsch-Indië, 1877, hlm. 65–72. (res/aro)
Inspirasi
Lebih dari 1.500 Warga Terima Beras dan Minyak Goreng, Bhabinkamtibmas Pastikan Penyaluran Tertib
Kediriselaludihati – Aparat kepolisian dari Polsek Kediri Kota melakukan pengamanan dan pemantauan penyaluran bantuan pangan kepada warga di dua kelurahan di Kota Kediri, yakni Kelurahan Kaliombo dan Kelurahan Setonopande, Sabtu (14/3/2026). Pengamanan dilakukan untuk memastikan proses distribusi bantuan berjalan tertib, aman, dan lancar
.
Di Kelurahan Kaliombo, kegiatan pemantauan dilakukan oleh Bhabinkamtibmas setempat, Aipda Andrey V.M., di Gedung Serbaguna Kelurahan Kaliombo mulai pukul 10.00 WIB. Bantuan yang disalurkan merupakan program Bantuan Pangan Pemerintah (PBP) dari Badan Ketahanan Pangan Nasional untuk periode Februari hingga Maret 2026.
Sebanyak 918 keluarga penerima manfaat (KPM) di kelurahan tersebut menerima bantuan berupa beras dan minyak goreng. Setiap penerima mendapatkan beras sebanyak 20 kilogram serta minyak goreng sebanyak empat liter.
Dalam kegiatan tersebut, Bhabinkamtibmas juga memberikan imbauan kepada warga agar tetap tertib selama proses pengambilan bantuan serta ikut menjaga keamanan dan ketertiban selama kegiatan berlangsung.
Sementara itu, kegiatan penyaluran bantuan pangan juga berlangsung di Kelurahan Setonopande, Kecamatan Kota Kediri. Penyaluran bantuan dilaksanakan di Gedung Abdi Praja Kantor Kelurahan Setonopande di Jalan Sultan Agung mulai pukul 08.00 WIB.
Bhabinkamtibmas Kelurahan Setonopande, Aiptu Syaifudin Yuri, bersama unsur Tiga Pilar kelurahan melakukan pengamanan dan pemantauan kegiatan tersebut. Penyaluran bantuan melibatkan sejumlah pihak, di antaranya pemerintah kelurahan, Bulog Kota Kediri, relawan TRC, kader masyarakat, serta petugas penyuluh lapangan.
Sebanyak 664 keluarga penerima manfaat di Kelurahan Setonopande menerima bantuan pangan berupa dua karung beras masing-masing 10 kilogram serta minyak goreng sebanyak empat liter.
Selain melakukan pengamanan kegiatan, petugas kepolisian juga memberikan imbauan kepada warga terkait situasi keamanan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Masyarakat diingatkan untuk tetap berhati-hati saat berkendara di tengah meningkatnya kepadatan arus lalu lintas serta memastikan kondisi rumah aman saat ditinggal mudik Lebaran.
Petugas juga mengimbau masyarakat agar mengawasi anak-anak dan tidak menyalakan petasan yang dapat membahayakan keselamatan.
Kapolsek Kediri Kota Kompol Bowo Wicaksono menyampaikan bahwa kehadiran Bhabinkamtibmas dalam kegiatan penyaluran bantuan merupakan bagian dari upaya kepolisian dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sekaligus memastikan distribusi bantuan berjalan tertib.
Selama kegiatan berlangsung di kedua lokasi tersebut, situasi terpantau aman, tertib, dan kondusif. Warga yang hadir mengikuti proses pembagian bantuan dengan tertib sehingga penyaluran bantuan dapat berjalan lancar hingga selesai. (res/aro)
-
Peristiwa5 years agoNing Sheila Hasina Binti KH Zamzami Lirboyo Juara 1 MHQ 30 Juz , MTQ XIV Kapolda Jatim Cup
-
Kriminal6 years agoJangan Coba Coba Balap Liar di Kota Kediri, Dihukum Dorong Motor Dua Kilometer
-
Peristiwa6 years agoPonpes Tarbiyatul Qur’an Al Falah Ploso Kediri Gelar Haflah dan Wisuda Khatmil Qur’an
-
Uncategorized5 years ago6 Pelatihan Sertifikasi Gada Pratama di Mako Brimob Kediri Terima Anumerta Peserta Terbaik
-
Peristiwa6 years agoPengunjung Pasar Bolawen Kabupaten Kediri Diimbau Jaga Jarak dan Cuci Tangan
-
Peristiwa6 years agoRibuan Umat Muslim Ikuti Pengajian Rutin Malam Rabu Gus Lik Kediri
-
Peristiwa3 years agoInilah Kegiatan Malam Tirakatan Jumat Legi di Gereja Puhsarang
-
Inspirasi6 years agoMengenal Sosok Kasatreskrim AKP I Gusti Agung Ananta
