Inspirasi
Dari Ajudan Menteri Hingga Menjadi Kasatlantas Polres Kediri Kota

Afandy Dwi Takdir adalah sosok perwira polisi muda yang inspiratif, lahir di Bone, Sulawesi Selatan, pada 28 Desember 1991. Afandy tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kehormatan, keberanian dan semangat, yang menjadi dasar kuat dalam kariernya di Kepolisian Republik Indonesia.
Afandy awalnya tidak bercita – cita menjadi polisi, tapi menjadi pedagang sukses seperti orang tuannya yakni Haji Takdir dan ibunya Hajah Harjunah. Warisan jiwa pedagang ini lahir dari dari darah kakeknya Haji Salam, tentara di era kemerdekaan yang juga seorang pedangang dan pejuang.
Lalu mengapa Afandy Dwi Takdir anak kedua dari lima bersaudara ini menjadi polisi dan saat ini apa yang tidak pernah ia bayangkan itu di tahun 2024 membawannya menjadi Kasat Lantas Polres Kediri Kota ?
“Pedagang itu adalah yang turun temurun, dalam keluarga kami pedagang itu bukan pekerjaan. Maka harus mencari pekerjaan yang pasti contoh menjadi polisi. Polisi bisa berdagang tapi pedagang belum tentu bisa menjadi polisi. Saya juga sempat ingin menjadi dokter , karena ibu saya dulu bercita-cita menjadi dokter tapi tidak kesampaian. Eh saya malah mendapat istri dokter,” kata suami dokter Harli Pramitasari Nasution.
Prinsip Hidup dan Keteguhan

Lahir di Bumi Arung Palakka julukan untuk Kota Bone, Afandy Dwi Takdir telah digembleng banyak hal sedari kecil . Haji Takdir dan Hajah Harjunah orang tuanya yang memegang semboyan seperti kebanyakan orang Bone, yakni Mali’ siparappe, tallang sipahua yang artinya jika dihanyutkan oleh air, maka akan diselamatkan atau dibantu untuk mencapai tepian , jika tenggelam, maka akan diangkat atau diselamatkan. Menjadikannya seperti sekarang menjadi Pasukan Bhayangkara militan.
Moto ini mencerminkan semangat gotong royong dan solidaritas yang sangat kuat dalam masyarakat Bone. Dalam kehidupan masyarakat Bone, filosofi ini mengajarkan bahwa dalam situasi apapun, terutama dalam kesulitan, masyarakat Bone harus selalu siap membantu dan menyelamatkan sesama yang sedang menghadapi kesulitan. Nilai ini menunjukkan semangat persatuan, kebersamaan, dan rasa tanggung jawab sosial yang tinggi.
Hal ini pula yang membawa Haji Takdir menjadi pedagang sukses yang pantang menyerah sejak ia menikah 1989 hingga saat ini. Jatuh bangun dalam proses tersebut menggembleng pula sifat dan keteguhan Afandy dan keempat saudaranya yang lain.
Selain itu, semangat orang Bone juga erat kaitannya dengan nilai sipakatau, sipakalebbi, sipakainge, yang merupakan falsafah Bugis-Makassar untuk menghormati, menghargai, dan saling mengingatkan satu sama lain. Nilai-nilai ini menjadi dasar perilaku sehari-hari dan hubungan sosial masyarakat Bone.
Semangat perjuangan masyarakat Bone juga terinspirasi dari para raja dan pahlawan Bone yang terkenal, seperti Arung Palakka, yang dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah Sulawesi Selatan. Keberanian, keteguhan hati, dan ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan menjadikan semangat Bone sebagai warisan yang dihormati dan dijaga turun-temurun.
Perjalanan Pendidikan dan Karier

Perjalanan Afandy dalam dunia pendidikan dimulai dari sekolah dasar di SD Negeri Lalowosula, yang kemudian dilanjutkan di SMP Negeri 1 Lappariaja. Ia melanjutkan pendidikan menengah di SMA Negeri 1 Ulaweng, yang menjadi fondasi akademis dan karakter untuk karier gemilangnya di kepolisian. Afandy adalah Alumni SMAN 1 Ulaweng yang juga alumni kali pertama yang masuk AKPOL. Hal ini terbukti pada tahun 2015, ia berhasil masuk Akademi Kepolisian (Akpol), salah satu pencapaian besar dalam hidupnya.
“Alhamdulillah saya adalah alumni SMAN 1 Ulaweng yang kali pertama masuk dan lolos AKPOL. Untuk lolos di AKPOL pun penuh perjuangan yang berat. Saya daftar Akpol 2009, gagal pantukhir daerah, daftar Bintara 2010, gagal di perankingan. Terus daftar AKPOL 2010, gagal di parade pantukhir. Tidak putus asa saya daftar lagi Bintara 2011, tapi tidak melanjutkan tes. Dan yang terakhir daftar AKPOL 2011 akhirnya terpilih dan lolos,” kata bapak dua anak ini.
Afandy tak pernah berhenti mengembangkan diri. Ia melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada tahun 2020, membekali dirinya dengan ilmu dan strategi kepolisian yang lebih mendalam. Berkat disiplin dan ketekunannya, Afandy mendapatkan pangkat Inspektur Polisi Dua (IPDA) pada tahun 2015, yang menjadi awal kariernya sebagai perwira polisi.
Dedikasi dalam Setiap Penugasan
Afandy tidak hanya dikenal sebagai perwira yang cerdas, tetapi juga sebagai sosok yang tangguh dalam menghadapi berbagai penugasan. Selama bertugas di berbagai unit kepolisian, ia menunjukkan ketangguhan dan kemampuan kepemimpinan yang luar biasa. Mulai dari Brimob, Danki Kompi, hingga PAURPROGAR URREN MEN II, Afandy selalu menunjukkan integritas tinggi dan keberanian dalam menjalankan tugas-tugas berat.
Salah satu pencapaian terbesarnya adalah ketika ia diamanahkan menjadi Kasatlantas Polres Kediri Kota pada Agustus 2024. Posisi ini bukan hanya tentang memimpin pengelolaan lalu lintas, tetapi juga berperan dalam memastikan keamanan masyarakat melalui operasi-operasi strategis. Afandy membawa pendekatan humanis dalam menjalankan tugasnya, yang menjadi inspirasi bagi anak-anak muda yang bercita-cita menjadi bagian dari penegak hukum.
Penghargaan dan Tanda Kehormatan
Karier gemilang Afandy diwarnai dengan berbagai penghargaan yang membuktikan betapa besarnya pengabdian yang ia berikan. Pada tahun 2019, ia dianugerahi Satyalancana Operasi Kepolisian, sebuah tanda kehormatan atas dedikasinya dalam berbagai operasi kepolisian yang ia jalani sebelumnya. Penghargaan ini tidak hanya menjadi simbol pencapaian pribadi, tetapi juga pengakuan dari negara atas kontribusinya dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Perjalanan Karier dan Kontribusi:
Sebagai seorang anggota intelijen dan kepolisian, perjalanan Afandy Dwi Takdir tidak hanya berfokus pada penegakan hukum, tetapi juga pada pengembangan kebijakan dan strategi yang mendukung keamanan nasional. Dalam penugasannya sebagai Agen Intelijen Ahli Madya di BIN, Afandy berperan penting dalam merumuskan dan mengimplementasikan strategi intelijen di bidang pertanian, pertanahan, dan kelautan. Penugasannya mencakup analisis mendalam dan penilaian situasi yang berdampak pada kebijakan ekonomi dan keamanan negara.
Di lapangan, Afandy dikenal sebagai sosok yang mampu beradaptasi dengan cepat dalam berbagai situasi dan tantangan. Pengalamannya sebagai ajudan Menteri Pertanian RI menunjukkan kepercayaannya dalam mengelola dan memberikan dukungan strategis di tingkat pemerintahan. Kemampuannya untuk bekerja di lingkungan yang dinamis dan sering kali penuh tekanan adalah cerminan dari dedikasinya dan kemampuannya dalam menjaga stabilitas dan keamanan.
Kontribusi Afandy dalam berbagai pelatihan dan pendidikan, seperti di BRIMOB dan STIK Lemdiklat Polri, memperkuat kemampuannya dalam kepemimpinan dan manajemen operasional. Keterampilannya dalam bahasa Inggris dan Bugis juga memudahkan komunikasi dengan berbagai pihak, baik domestik maupun internasional, dan memperluas jaringan kerjanya.
Kepemimpinan yang Menginspirasi
Afandy adalah sosok yang sangat inspiratif, terutama bagi generasi muda. Sebagai seorang Bugis, ia menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang mengutamakan keberanian, kehormatan, dan kerja keras. Afandy selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap tugas yang diembannya, tidak pernah setengah hati, dan selalu siap menghadapi tantangan apa pun yang ada di hadapannya.
Kisah hidup Afandy mengajarkan bahwa dengan tekad dan disiplin, seseorang bisa meraih impian dan memberikan dampak besar bagi masyarakat luas. Afandy bukan hanya seorang polisi, tetapi juga seorang pemimpin yang mampu membawa perubahan positif di lingkungannya. Melalui kisahnya, ia menginspirasi banyak anak muda untuk tidak takut bermimpi besar dan terus berjuang, apa pun tantangan yang dihadapi.
Masa Depan dan Harapan:

Dengan rekam jejak yang mengesankan dan berbagai pencapaian yang telah diraih, masa depan Afandy Dwi Takdir dalam dunia kepolisian dan intelijen tampak sangat cerah. Dedikasinya terhadap tugas dan tanggung jawab, serta kemampuannya untuk berinovasi dan beradaptasi, menjadikannya salah satu aset berharga bagi institusi kepolisian dan BIN.
Kehadirannya dalam posisi-posisi strategis, baik di tingkat lokal maupun nasional, memberikan harapan besar akan kontribusinya terhadap pengembangan kebijakan dan strategi yang mendukung keamanan dan kesejahteraan negara. Melalui komitmennya yang kuat, Afandy terus membuktikan bahwa dedikasi dan keahlian adalah kunci untuk mencapai keberhasilan dan membuat perbedaan dalam pelayanan publik.
Pesan Inspiratif

Afandy sering memberikan pesan kepada rekan-rekan dan generasi muda untuk tidak pernah berhenti belajar dan berkembang. Baginya, pendidikan bukan hanya di bangku sekolah, tetapi juga dari pengalaman hidup dan tantangan yang dihadapi setiap hari. Ia percaya bahwa dengan pendidikan dan integritas, seseorang bisa menghadapi segala rintangan dan mencapai kesuksesan.
“Jangan pernah ragu untuk berbuat baik dan mengabdi untuk negara. Setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini bisa menjadi jejak yang akan diingat oleh generasi mendatang,” kata Afandy.
Afandy Dwi Takdir adalah contoh nyata bahwa dengan kerja keras, dedikasi, dan ketulusan, siapa pun bisa menjadi pemimpin yang menginspirasi dan memberikan dampak besar bagi masyarakat.
Sejarah Nenek Moyangnya
La Galigo adalah sebuah karya epik dari budaya Bugis, Sulawesi Selatan, yang dianggap sebagai salah satu epos terpanjang di dunia, bahkan lebih panjang dari “Mahabharata” dan “Iliad.” Kisah ini ditulis dalam bentuk puisi, terdiri dari sekitar 6.000 halaman dan 300.000 baris, serta menceritakan tentang mitos penciptaan dan kehidupan awal di Bumi.
Kisah La Galigo bukan hanya sekedar mitos, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai sosial dan spiritual masyarakat Bugis, seperti keberanian, kehormatan, kesetiaan, serta hubungan erat antara manusia dengan alam dan dunia gaib. Epos ini juga mengandung banyak ajaran moral yang masih relevan bagi kehidupan masyarakat Bugis hingga saat ini.
Walaupun sebagian besar cerita La Galigo lebih dikenal secara lisan, teksnya kini telah dijaga dan dipelajari sebagai salah satu warisan budaya dunia. UNESCO mengakui naskah ini sebagai salah satu warisan dokumenter dunia pada 2011, menggarisbawahi pentingnya La Galigo dalam memperkaya khazanah sastra dan sejarah dunia.
Sebelum kehadiran Afandy Dwi Takdir di Kediri , 347 tahun sebelumnya Karaeng Galesong seorang tokoh legendaris dari Sulawesi Selatan telah hadir di Kota Kediri. Ia merupakan salah satu pemimpin dalam perlawanan rakyat Sulawesi Selatan terhadap penjajah Belanda pada abad ke-17.
Karaeng Galesong dikenal sebagai pejuang tangguh yang terus berjuang mempertahankan kedaulatan bangsanya meski harus meninggalkan tanah kelahirannya setelah kekalahan kerajaan Makassar dalam Perjanjian Bongaya tahun 1667.
Setelah kekalahan Makassar dalam perang melawan Belanda, Karaeng Galesong bersama Sultan Hasanuddin dan para bangsawan lainnya menolak tunduk pada Belanda. Ia meninggalkan Sulawesi dan bergabung dengan para pelaut Bugis dan Makassar yang beroperasi sebagai pelaut dan perompak di Laut Jawa.
Karaeng Galesong dikenal memiliki perlawanan yang gigih, bahkan bergabung dengan pasukan Trunojoyo, pemimpin pemberontakan di Jawa melawan kekuasaan Mataram dan Belanda. Pusat kekuasaan Trunojoyo dan Karaeng Galesong itu ada di Kompleks Masjid Setono Gedong Jalan Dhoho Kota Kediri atau tepatnya di belakang Mako Satlantas Polres Kediri Kota . Berkuasanya Trunojoyo dan Karaeng Galesong di Kediri yang memiliki benteng seluas 8,5 kilometer setelah sebelumnya mampu mengalahkan Amangkurat I yang berpihak kepada VOC.
“ Karaeng Galesong berasal dari keturunan bangsawan Gowa, salah satu kerajaan besar di Sulawesi Selatan. Namanya diabadikan sebagai simbol keberanian dan perlawanan melawan penjajahan, khususnya dalam sejarah perjuangan melawan kekuasaan kolonial di wilayah timur Indonesia tepatnya di Kediri. Mungkin ini sudah takdir yang membawa saya kesini (Kediri) seperti yang dilakukan leluhur kami,” kata Afandy Dwi Takdir
Selain keterlibatannya dalam perlawanan, kisah Karaeng Galesong juga menyiratkan hubungan erat antara masyarakat Sulawesi dan Jawa pada masa itu, di mana banyak pejuang Sulawesi turut ambil bagian dalam perjuangan di Jawa.
( Penulis : Imam Mubarok)
Inspirasi
Jumat Keliling di Jamsaren, Kompol Siswandi Tegaskan Polisi Harus Hadir Mendengar Keluhan Masyarakat
Kediriselalaludihati – Kapolsek Pesantren Polres Kediri Kota, Kompol Siswandi, S.H., mengajak masyarakat menjaga persaudaraan dan tidak membiarkan perbedaan pendapat menjadi penyebab perpecahan. Pesan tersebut disampaikan saat melaksanakan program Quick Win Jumat Keliling di Masjid Ar Rahmat, Lingkungan Kleco, Kelurahan Jamsaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Jumat (16/10/2026).
Dalam kegiatan yang dimulai sekitar pukul 11.30 WIB tersebut, Kompol Siswandi menekankan pentingnya membangun komunikasi antara kepolisian dan masyarakat melalui pendekatan yang terbuka, humanis, serta mengutamakan penyelesaian persoalan secara musyawarah.
Kegiatan Jumat Keliling itu dihadiri para kanit dan kasi Polsek Pesantren, Bhabinkamtibmas Kelurahan Jamsaren Aiptu Rofiq, pengurus takmir masjid, serta jamaah salat Jumat.
Di hadapan jamaah, Kompol Siswandi menyampaikan bahwa kehadiran polisi di lingkungan masyarakat bukan semata-mata untuk menjalankan tugas penegakan hukum, melainkan juga membangun hubungan sosial yang lebih dekat.
Ia menegaskan bahwa semangat Polisi Bersama Masyarakat harus diwujudkan melalui komunikasi dan kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi warga.
“Polri wajib hadir di tengah-tengah masyarakat guna mendengarkan keluh kesah yang dialaminya supaya bisa dipecahkan permasalahan sama-sama, rembuk mencari jalan yang mulus dan baik,” ujar Kompol Siswandi.
Menurutnya, pesan tersebut merupakan bagian dari arahan pimpinan Polri agar seluruh jajaran kepolisian semakin terbuka terhadap aspirasi masyarakat.
Kapolsek menegaskan bahwa hubungan antara polisi dan masyarakat seharusnya tidak dibatasi oleh jarak maupun sekat-sekat sosial.
“Polisi Bersama Masyarakat, supaya tidak ada perbedaan antara kami dengan panjenengan semuanya,” katanya.
Kompol Siswandi menjelaskan bahwa kedatangannya ke Masjid Ar Rahmat merupakan bagian dari silaturahmi sekaligus kesempatan menyampaikan perkembangan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah Kecamatan Pesantren.
Ia berharap kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperkuat hubungan antara kepolisian, tokoh agama, dan warga.
Salah satu pesan utama yang disampaikan Kapolsek adalah pentingnya menjaga ukhuwah islamiyah atau persaudaraan sesama umat Islam, sekaligus kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan hal yang dapat terjadi dalam kehidupan sosial. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya berkembang menjadi permusuhan yang merusak hubungan antarsesama.
“Mari kita semuanya menjaga ukhuwah islamiyah dan kerukunan. Jangan sampai bersaudara kita pecah gara-gara perbedaan pendapat,” tegas Kompol Siswandi.
Ia mengajak masyarakat mengutamakan dialog dan musyawarah apabila menghadapi persoalan, baik dalam lingkungan keluarga, antartetangga, maupun kehidupan sosial yang lebih luas.
“Harapan kami, carilah solusi bersama-sama sehingga tercipta situasi kamtibmas yang aman dan kondusif,” lanjutnya.
Selain mengingatkan pentingnya persatuan, Kompol Siswandi juga menyoroti kepedulian sosial sebagai salah satu fondasi kehidupan masyarakat yang harmonis.
Ia mengajak jamaah tidak hanya memperhatikan kondisi keluarga sendiri, tetapi juga peka terhadap kesulitan yang dialami tetangga, sahabat, maupun warga lainnya.
Menurutnya, kepedulian terhadap sesama dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk bantuan sesuai kemampuan masing-masing.
“Mari kita bersama-sama meningkatkan kepedulian terhadap sesama, terutama bagi tetangga yang mengalami kesulitan,” pesannya.
Kapolsek secara khusus mengajak masyarakat memberikan perhatian kepada anak yatim dan kaum duafa yang membutuhkan dukungan sosial.
Ia mengingatkan bahwa membantu orang lain tidak harus dilakukan dengan kemampuan materi yang besar, melainkan dapat dimulai dari niat baik dan keikhlasan.
“Yang paling utama kepada anak yatim dan kaum duafa, sesuai batas dan kemampuan kita masing-masing serta keikhlasan panjenengan semuanya,” ujarnya.
Melalui pesan tersebut, Kompol Siswandi mengaitkan upaya menjaga keamanan lingkungan dengan penguatan nilai persaudaraan dan kepedulian sosial.
Sebab, situasi masyarakat yang aman dan kondusif tidak hanya bergantung pada kehadiran aparat kepolisian, tetapi juga membutuhkan kesadaran warga untuk saling menghormati, membantu, dan menyelesaikan persoalan secara damai.
Program Jumat Keliling menjadi salah satu pendekatan Polsek Pesantren untuk membangun komunikasi langsung dengan masyarakat melalui kegiatan keagamaan.
Dengan hadir di tengah jamaah, kepolisian memiliki kesempatan menyampaikan pesan kamtibmas sekaligus mempererat hubungan dengan tokoh agama dan warga setempat.
Kompol Siswandi berharap komunikasi semacam ini dapat terus terjalin sehingga masyarakat tidak ragu menyampaikan persoalan yang berkaitan dengan keamanan maupun ketertiban lingkungan.
Di akhir penyampaiannya, Kapolsek menyampaikan terima kasih kepada pengurus masjid dan jamaah yang telah memberikan kesempatan untuk bersilaturahmi.
“Matur nuwun atas waktunya yang diberikan kepada kami dan mohon maaf apabila ada salah dan khilaf kami,” ucapnya.
Seluruh rangkaian kegiatan Jumat Keliling di Masjid Ar Rahmat, Kelurahan Jamsaren, dilaporkan berlangsung tertib, aman, dan lancar.
Melalui kegiatan tersebut, Polsek Pesantren berupaya memperkuat semangat Polisi Bersama Masyarakat dengan mengedepankan dialog, persaudaraan, serta kepedulian sosial sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan dan ketertiban di Kota Kediri. (res/aro)
Inspirasi
Polisi Siapkan Penyekatan dan Larang Konvoi Perguruan Silat Saat Puncak Festival Santri Nusantara di Lirboyo
Kediriselaludihati – Sebanyak 784 personel gabungan TNI, Polri, dan instansi terkait dikerahkan untuk mengamankan kegiatan Lirboyo Bersholawat bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Kamis (8/10/2026) malam.
Pengamanan dilakukan untuk mengantisipasi kepadatan jemaah, gangguan ketertiban, serta potensi konvoi kelompok perguruan pencak silat menuju kawasan pesantren.
Sebelum diterjunkan ke lapangan, ratusan personel mengikuti apel kesiapan pengamanan di Markas Polres Kediri Kota, Kamis sore.
Apel dipimpin Kabag Ops Polres Kediri Kota Kompol Iwan Setyo Budhi, S.H., dan diikuti pejabat utama Polres Kediri Kota, para perwira pengendali serta personel gabungan dari sejumlah satuan.
Lirboyo Bersholawat merupakan puncak rangkaian Festival Santri Nusantara 2026 yang digelar pada 4-8 Oktober 2026.
Dalam arahannya, Iwan menegaskan bahwa pengamanan telah dipersiapkan melalui rapat koordinasi lintas instansi. Seluruh personel diminta memahami tugas masing-masing dan mengantisipasi potensi gangguan sebelum kegiatan dimulai.
“Saat ini merupakan puncak kegiatan Festival Santri 2026, yaitu sholawatan. Kegiatan ini sebelumnya sudah dilaksanakan rapat koordinasi,” kata Iwan saat memberikan arahan kepada peserta apel.
784 Personel dari Berbagai Satuan
Pengamanan Lirboyo Bersholawat melibatkan personel gabungan dari kepolisian, TNI, serta Pemerintah Kota Kediri.
Berdasarkan laporan pengamanan, kekuatan personel terdiri atas 350 anggota Polres Kediri Kota dan polsek jajaran, 100 personel Kodim 0809/Kediri, 90 personel Satbrimob Polda Jawa Timur, 30 personel Brigif Wirayudha, serta 90 personel Yonif 521 Kediri.
Selain itu, terdapat 90 personel Direktorat Samapta Polda Jawa Timur, empat anggota Subdenpom, 20 personel Satpol PP Kota Kediri, dan 10 petugas Dinas Perhubungan Kota Kediri.
Seluruh kekuatan tersebut disiapkan untuk mendukung pengamanan kegiatan yang diperkirakan dihadiri puluhan ribu jemaah.
Dalam rapat koordinasi sebelumnya, panitia memperkirakan sekitar 50.000 orang akan menghadiri Lirboyo Bersholawat.
Jumlah tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam penempatan petugas, terutama pada jalur menuju pesantren dan titik yang berpotensi mengalami kepadatan.
Polisi Antisipasi Konvoi Perguruan Silat
Salah satu perhatian utama dalam apel pengamanan adalah kemungkinan kedatangan kelompok perguruan pencak silat yang melakukan konvoi menuju kawasan Lirboyo.
Iwan meminta personel mengantisipasi potensi tersebut melalui pengawasan dan koordinasi dengan kepolisian di wilayah sekitar Kediri.
“Yang perlu diantisipasi adalah kedatangan kelompok perguruan yang berkumpul untuk melakukan konvoi,” ujar Iwan.
Ia menegaskan, kegiatan Lirboyo Bersholawat merupakan acara keagamaan sehingga peserta diminta mengikuti ketentuan yang telah disiapkan penyelenggara.
“Dalam kegiatan ini tidak diperbolehkan ada atribut perguruan. Yang diperbolehkan masuk adalah yang berpakaian busana muslim,” katanya.
Kepolisian juga menyiapkan langkah penyekatan untuk mencegah konvoi kelompok perguruan menuju lokasi acara.
Menurut Iwan, koordinasi dengan polres wilayah sekitar telah dilakukan untuk mendukung pengamanan tersebut.
“Kita juga berkoordinasi dengan polres samping untuk membantu melakukan penyekatan,” ujarnya.
Personel diminta mengarahkan kembali rombongan yang datang untuk melakukan konvoi menuju wilayah masing-masing.
Langkah itu merupakan bagian dari upaya menjaga ketertiban dan mengantisipasi pertemuan kelompok massa di sekitar kawasan pesantren.
Personel Diminta Tetap Berada di Titik Pengamanan
Selain mengantisipasi konvoi, Iwan memberikan perhatian khusus terhadap kedisiplinan personel selama bertugas.
Petugas diminta segera menempati lokasi pengamanan masing-masing setelah waktu Magrib.
“Saya minta setelah Magrib rekan-rekan sudah berada di titik masing-masing,” kata Iwan.
Ia juga mengingatkan seluruh anggota agar tidak meninggalkan lokasi tugas sebelum ada instruksi resmi dari pimpinan pengamanan.
“Pencabutan personel menunggu perintah. Jangan sampai belum ada perintah, rekan-rekan sudah meninggalkan titik,” tegasnya.
Arahan tersebut diberikan untuk memastikan pengamanan tetap berjalan hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai dan pergerakan jemaah dapat dikendalikan.
Setelah pengarahan, kegiatan dilanjutkan dengan Tactical Floor Game (TFG), yakni simulasi taktis untuk memantapkan pemahaman petugas terhadap penempatan dan pola pengamanan.
Melalui kegiatan tersebut, personel memperoleh gambaran mengenai pembagian tugas dan koordinasi antarsatuan selama pengamanan berlangsung.
Pengamanan Dipersiapkan Sejak Rapat Koordinasi
Sebelumnya, Polres Kediri Kota telah menggelar rapat koordinasi pengamanan Festival Santri Nusantara 2026 pada Selasa (6/10/2026).
Rapat tersebut membahas berbagai kebutuhan teknis, mulai dari pengaturan arus kendaraan, lokasi parkir, jalur masuk jemaah, pelayanan kesehatan, hingga jalur evakuasi.
Panitia juga menyiapkan 503 personel pengamanan internal yang direncanakan ditempatkan pada 47 titik di dalam dan sekitar kawasan Pondok Pesantren Lirboyo.
Dalam koordinasi tersebut, pengamanan kepolisian difokuskan pada kawasan luar pesantren, terutama ruas jalan dan persimpangan yang berpotensi mengalami kemacetan.
Panitia sebelumnya juga menyampaikan rencana penutupan jalan di sekitar lokasi mulai pukul 17.00 WIB.
Kendaraan jemaah akan diarahkan menuju lokasi parkir yang telah disiapkan, sementara jalur evakuasi harus dijaga agar tidak terhalang kendaraan.
Kegiatan Lirboyo Bersholawat bersama Habib Syech menjadi salah satu agenda puncak Festival Santri Nusantara 2026 yang terbuka bagi masyarakat umum.
Dengan pengerahan ratusan personel gabungan, kepolisian memprioritaskan pengamanan jemaah, pengaturan lalu lintas, pencegahan konvoi, serta koordinasi antarsatuan hingga kegiatan selesai.
Masyarakat yang akan menghadiri acara diimbau mengikuti arahan petugas, mematuhi pengaturan lalu lintas, dan tidak melakukan konvoi yang berpotensi mengganggu ketertiban di sekitar Pondok Pesantren Lirboyo. (res/aro)
Inspirasi
Pengabdian Berbuah Kenaikan Pangkat, Anggota Polri dan PNS Polres Kediri Kota Terima Penghargaan
Kediriselalaludihati – Polres Kediri Kota menggelar upacara laporan kenaikan pangkat pengabdian anggota Polri dan kenaikan pangkat reguler PNS Polri periode 1 Oktober 2026.
Dua personel menerima kenaikan pangkat dalam upacara yang berlangsung di halaman apel Polres Kediri Kota, Selasa (6/10/2026) mulai pukul 07.30 WIB.
Satu anggota Polri mendapatkan kenaikan pangkat pengabdian dari Ajun Inspektur Polisi Satu (Aiptu) menjadi Inspektur Polisi Dua (Ipda). Sementara satu PNS Polri memperoleh kenaikan pangkat reguler dari Pengatur Muda Tingkat I menjadi Pengatur.
Anggota Polri yang menerima kenaikan pangkat pengabdian adalah Imam Ardi Sriwijaya, personel Polsek Mojoroto Polres Kediri Kota. Dengan kenaikan tersebut, pangkatnya berubah dari Aiptu menjadi Ipda.
Sementara PNS Polri yang memperoleh kenaikan pangkat reguler adalah Edi Siswanto, S.Sos., yang bertugas sebagai Pengadministrasi Perkantoran pada Satlantas Polres Kediri Kota.
Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto, S.H., S.I.K., M.Si. bertindak sebagai inspektur upacara.
Upacara turut dihadiri Wakapolres Kediri Kota Kompol Putu Gde Caka Pratyaksa Ratsuko, S.I.K., M.I.K., jajaran pejabat utama, para kapolsek, perwira, bintara serta PNS Polres Kediri Kota.
Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto mengatakan, kenaikan pangkat tersebut merupakan bentuk penghargaan institusi kepada personel sesuai masa kerja dan pengabdian yang telah dijalankan.
“Pada periode 1 Oktober 2026 terdapat satu anggota Polri yang menerima kenaikan pangkat pengabdian dari Aiptu menjadi Ipda dan satu PNS Polri yang mendapatkan kenaikan pangkat reguler,” kata Wisnu.
Kenaikan pangkat pengabdian yang diterima Imam Ardi Sriwijaya menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya sebagai anggota Polri.
Berbeda dengan kenaikan pangkat reguler, kenaikan pangkat pengabdian diberikan menjelang berakhirnya masa dinas kepada anggota yang memenuhi persyaratan sesuai ketentuan yang berlaku.
Sementara kenaikan pangkat yang diterima Edi Siswanto merupakan kenaikan reguler dalam jenjang kepangkatan PNS Polri. Ia sehari-hari menjalankan tugas administrasi perkantoran di Satlantas Polres Kediri Kota.
Prosesi upacara diawali dengan kedatangan Kapolres sebagai inspektur upacara, dilanjutkan penghormatan pasukan dan laporan komandan upacara.
Personel penerima kenaikan pangkat kemudian mengambil tempat untuk mengikuti laporan resmi kenaikan pangkat di hadapan inspektur upacara.
Kapolres Kediri Kota dalam momentum tersebut juga mengingatkan bahwa kenaikan pangkat tidak hanya bermakna perubahan jenjang kepangkatan, tetapi harus diikuti peningkatan tanggung jawab dalam menjalankan tugas.
“Kenaikan pangkat harus menjadi motivasi untuk terus memberikan pengabdian terbaik kepada institusi dan masyarakat. Pangkat yang diterima juga membawa tanggung jawab yang harus dijaga,” ujar Wisnu.
Bagi personel lainnya, momentum tersebut diharapkan menjadi dorongan untuk terus menjaga profesionalisme dan kualitas pelaksanaan tugas.
Upacara kemudian ditutup dengan doa dan foto bersama. Kenaikan pangkat dua personel tersebut sekaligus menjadi bentuk penghargaan terhadap perjalanan pengabdian anggota Polri dan PNS di lingkungan Polres Kediri Kota. (res/aro)
-
Peristiwa6 years agoNing Sheila Hasina Binti KH Zamzami Lirboyo Juara 1 MHQ 30 Juz , MTQ XIV Kapolda Jatim Cup
-
Peristiwa7 years agoPonpes Tarbiyatul Qur’an Al Falah Ploso Kediri Gelar Haflah dan Wisuda Khatmil Qur’an
-
Kriminal7 years agoJangan Coba Coba Balap Liar di Kota Kediri, Dihukum Dorong Motor Dua Kilometer
-
Uncategorized6 years ago6 Pelatihan Sertifikasi Gada Pratama di Mako Brimob Kediri Terima Anumerta Peserta Terbaik
-
Peristiwa6 years agoPengunjung Pasar Bolawen Kabupaten Kediri Diimbau Jaga Jarak dan Cuci Tangan
-
Peristiwa7 years agoRibuan Umat Muslim Ikuti Pengajian Rutin Malam Rabu Gus Lik Kediri
-
Peristiwa3 years agoInilah Kegiatan Malam Tirakatan Jumat Legi di Gereja Puhsarang
-
Inspirasi7 years agoMengenal Sosok Kasatreskrim AKP I Gusti Agung Ananta
