Connect with us

Entertainment

Hadirkan “Energy of Kilisuci”, Harapan Kota Kediri Bangkit dari Pandemi

Published

on

Kediriselaludihati.com – Agenda tahunan Pemkot Kediri yang dilaksanakan oleh Dekranasda Kota Kediri tahun ini diselenggarakan dalam suasana pandemi. Namun, semangat dan roda ekonomi harus berputar, khususnya bagi UMKM tenun ikat kediri dan lini usaha yang mengikutinya.

“Pagelaran busana ini bertujuan untuk mempromosikan tenun ikat kediri ke pasar yang lebih luas dan juga memberi inspirasi bagi para desainer Kota Kediri untuk menampilkan tenun ikat kediri,” kata Ferry Silviana Abu Bakar, Ketua Dekranasda Kota Kediri, Minggu (22/11)

Mengangkat tema Energy of Kilisuci, energi seorang perempuan yang rela menjadi pertapa di Gua Selomangleng untuk melindungi Kediri dari marabahaya. Energi ini diharapkan mampu membangkitkan semangat dan roda ekonomi UMKM Kota Kediri.

Pada saat pandemi, omzet pengusaha tenun ikat kediri dan juga lini usaha yang mengikutinya misalnya penjahit busana turun drastis. Maka, segala upaya untuk kembali mempromosikan harus dilaksanakan dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan.

Selain itu, penyesuaikan menyelenggarakan acara pada saat pandemi dilakukan oleh DSF yaitu dengan tidak mengundang masyarakat sebagaimana tahun-tahun berikutnya. Acara yang digelar di Selomangleng, 22 November 2020 mulai pukul 08.00 WIB ini disiarkan live melalui channel Youtube Kediri Tourism TV. Meski tidak hadir, masyarakat masih bisa menyaksikannya tanpa menimbulkan kerumunan.

DSF kali ini menampilkan karya desainer tamu Priyo Oktaviano, Era Soekamto, dan Samira M. Bafagih. Selain itu juga menghadirkan desainer kebanggaan Kota Kediri yaitu SMK N 3 Kediri, Luxe Caesar Boutique, Azzkasim, dan Numansa Batik Dermo.

Selain itu, acara ini akan dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Kofifah Endar Parawangsa, Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsim, dan menampilkan Putri Indonesia 2020 Rr Ayu Maulida. Selain itu juga menampilkan hiburan dari CK Dance. Fashion Show ini akan dipandu oleh Lima sebagai show director dengan tata musik Nugie Wilis.

“Berbeda dengan tahun lalu yang menampilkan koleksi lebih muda dengan warna-warna neon, kali ini saya menghadirkan koleksi untuk wanita yang elegan, emasipasi wanita kekinian yang aktif di segala bidang profesi (wanita karier),” kata Priyo Oktaviano yang menampilkan koleksi 12 outfits dalam koleksi Awakening of Kilisuci.

“Menerjemahkan tema Energy of Kilisuci, saya membuat koleksi yang memberi kesan enerjik berupa rompi (outer) untuk wanita dan priya dengan palet warna oranye. Rompi ini bisa dipadupadankan dengan tenun atau dengan busana lain,” kata Desty Rachmaning Caesar, desainer Kota Kediri dengan brand Luxe Caesar Boutique yang menampilkan 2 outfits.

Upaya untuk membangkitkan tenun ikat kediri sudah dilakukan oleh Pemkot Kediri melalui Disperindagin dan Dinkop Kota Kediri dengan cara memesan ribuan masker berbahan tenun ikat. Upaya ini diikuti oleh OPD, BUMN, dan juga perusahaan swasta di Kota Kediri.

“Saya mendukung segala upaya untuk membangkitkan sektor UMKM dan sektor kreatif, juga kreativitas anak-anak muda Kota Kediri. Sektor tersebut merupakan sektor padat karya yang menggerakkan perekonomian Kota Kediri,” kata Abdullah Abu Bakar, Wali Kota Kediri.

Energy of Kilisuci

Dewi Kilisuci adalah kata ganti untuk pengabdian. Sang Putri Mahkota yang mendedikasikan hidupnya untuk berhening diri memohon pada Sang Pencipta agar Kediri diberi keselamatan dan terhindar dari marabahaya. Sebuah energi pengabdian seorang perempuan yang luar biasa, meniadakan kenikmatan diri sebagai raja. Oleh sebab itu, pengabdian Dewi Kilisuci menjadi sosok yang dihormati warga Kediri.

Terlahir dengan nama Sanggramawijaya Tunggadewi, putri Raja Airlangga perkawinan dengan Sri (Putri Dharmawangsa Teguh) yang mewarisi tahta Kahuripan. Namun putri mahkota Airlangga lebih menyukai menyepi dan keheningan.

Ada kisah yang mengatakan bahwa Sang Putri mengidap penyakit kedhi (tidak pernah menstruasi) sehingga ia dianggap sebagai wanita suci pepunden Tanah Jawi. Akhirnya Sangramawijaya memutuskan mengundurkan diri dan menjadi pertapa bergelar Dewi Kilisuci.

Kisah inilah yang menginspirasi tema DSF kali ini. Energy of Kilisuci, sebuah kekuatan agar mampu bertahan dari pageblug Covid 19.

Tentang Venue, Gua Selomangleng

Berasal dari Bahasa Jawa “Selo” yang artinya batu dan “mangleng” yang artinya miring. Gua ini terletak di lereng Gunung Klotok.

Sebuah obyek wisata yang terletak di Kelurahan Pojok, Kecamatan Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Gua dengan ukuran 13mx5,8m dengan ketinggian 2m. Gua tersusun dari batu andesit, memiliki 4 ruang utama yang dindingnya terdapat relief Buddha.

Ann R. Rinney dan Lydia Kieven dalam buku Worshiping Siva and Buddha Temple Art of East Java (2003) menuliskan bahwa berdasarkan data yang diambil dari sejumlah penduduk lokal, 4 ruangan gua tersebut menggambarka 4 jam (atau 4 satuan waktu) perjalanan Putri Sangrama Wijaya menuju gua ini untuk bertapa. Di sini diyakini sebagai pertapaan Sangrama Wijaya yang kelak kemudian bernama menjadi Dewi Kilisuci.

Menurut Ann dan Lydia, Gua Selomangleng dibuat pada periode Jawa Awal. Relief yang terukir di gua ini mirip dengan relief yang terukir di relief XV Candi Jolotundo yang terletak di Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Candi Jolotundo ini berangka tahun 977M.

Ornamen yang mirip yaitu pita melingkar volumetrik seperti menggambarkan bentuk bebatuan dan vegetasi di dasar pusat dan relief ornamen yang mengelilingi sosok altar di ruang utama.

Beberapa ornamen terlihat ada patung Buddha setinggai 90cm dengan posisi lotus. Juga ada relief Buddha di ruang selatan dan relief manusia suci dan muridnya di sebelah kanan pintu ruang 3 dari ruang 2.

Tentang Desainer

Awakening of Kilisuci by Priyo Oktaviano

Awakening of Kilisuci (Kebangkita Kilisuci) merupakan koleksi bergaya urban kosmopolitan. Koleksi ini terinspirasi dari tema besar The Energy of Kilisuci, Priyo memprestasikan emasipasi wanita kekinian yang aktif di segala bidang profesi (wanita karier). Sekarang banyak wanita yang sudah mempunyai kedudukan kekuatan di dunia profesi.

Busana bersifat dinamis, praktis, urban, dan easy to wear tapi tetap tidak meninggalkan unsur makna Nusantara Indonesia. Style dari koleksi kali ini yaitu urban, cosmo, dinamik, dan ready to wear.

Priyo mengambil palet warna grey stone, green  lime, orange mandarin, dan yellow mustard. Inspirasi warna ini dari warna alam lingkungan (Gua Selomangleng). Selain itu show juga di alam terbuka sehingga palet warna ini sesuai.

Sedangkan musik, ingin menghadirkan suguhan musik instrumental lagu jawa (Ilir Ilir, Padhang Bulan, Dolanan, Suwe Ora Jamu ) yang dimanis dan rancak. Suasana suasana moderen tapi suasana Nusantara yaitu Jawa.

Priyo Oktaviano desainer kelahiran Kediri yang sangat mencintai wastra Indonesia. Berbagai karya desainnya berbahan wastra disajikan oleh Priyo menjadi desain yang muda dan terkadang juga mewah dan elegan. Priyo mendirikan merek Spouse di Jakarta dan kerap menghadiri pagelaran busana nasional dan internasional.

Avalokitasvara by Era Soekamto

Kilisuci adalah perempuan muda suci yang sedang mengalami tanjakan- spiritualnya menuju penerangan yang sejati . Avalokitasvara adalah satu pencapaian manusia pada penerangan sejati, sinar suci di dalam diri, berupa kesadaran welas asih yang sering kali jg digambarkan sebagai Kwan Im dan ajaran Tao.

“Bisa jadi keramahtamahan orang-orang Indonesia adalah berkat ajaran welas asih yang dulu tersebar luas dan banyak dipraktikkan di Indonesia sehingga mereka mengembangkan hati yang baik dan menurunkannya ke generasi-generasi berikutnya.” – Dagpo Rinpoche, 2014 –

Kilisuci adalah persona  welas asih yang menjadi simbol Kediri, sebagai inspirasi beauty really shine from within dan sebaik baiknya manusia adalah ketika sudah berguna bagi dirinya dan orang lain.

Style busana bersahaja namun kuat, moderen namun menjunjung budaya. Di dalam koleksi ini ada unsur China-Jepang, Sriwijaya dari “songket look”, ornamen napak tilas Jawa Bali zaman Airlangga, bersatu apik dalam karya yg moderen kekinian namun dengan sentuhan yang kuat.

Selain itu, dalam fashion show kali ini, Era bekerjasama dengan Rinaldy A. Yunardi untuk aksesoris yang dikenakan. Rinaldy merupakan desainer aksesoris ternama Indonesia yang karyanya dipakai oleh artis-artis dunia, salah antara lain Lady Gaga.

Era Soekamto

Era Minaryanti Soekamto merupakan desainer yang mendirikan brand Urban Crew di Jakarta. Era pernah menjadi creative director Iwan Tirta Private Collection dengan menghadirkan karya-karya yang megah dan elegan. Selain desainer, Era juga menjadi pengajar busana di sekolag mode dan juga pembicara di beberapa acara.

Asmaranala Dewi Kilisuci by Samira M. Bafagih

Pesona daya tarik kecantikan dan kelembutan hati Dewi Kilisuci menjadi inspirasi Tuneeca dalam membuat karya ini.

Tuneeca menghadirkan rangkaian busana dalam karya gaya glamour elegan, persembahan karya ini disempurnakan oleh padu padan warna dan motif kain tenun yang tegas dengn aksen bordir, stagen, dan aplikasi bordir kerancang.

Pemilihan material dan warna kain tenun yang tegas seperti hijau emerald, ungu, tekota, perak, dan emas untuk menggambarkan sosok Dewi Kilisuci yang tegas dan pemberani namun sangat memesona banyak pria di sekitarnya. Palet warna yang ditampilkan hijau emerald, ungu, hitam, terakota, toska, perak, dan emas.

Desainer kelahiran Kediri yang berkarya melalui brand Tuneeca. Samira menghadirkan koleksi busana muslim dari berbagai bahan khususnya bahan wasta Nusantara. Kehadirannya kali ini untuk kedua kalinya di DSF, menampilkan karya busana muslim berbahan tenun ikat kediri.

SMK N 3 Kediri

SMK N 3 Kediri memiliki 4 kompetensi yaitu Jasa Boga, Jasa Butik, Tata Kecantikan Rambut, dan Multimedia. Desain busana merupakan kompetnesi untuk Jasa Butik. Mereka membuat pola, menjahit, hingga pengetahuan soal brand. Setiap tahun sejak event ini berlangsung, SMK N 3 Kediri selalu mengirimkan karyanya melalui siswa siswinya di bawah pengarahan para desainer.

Website: http://smkn3kediri.sch.id/

Luxe Caesar Boutique

Didirikan oleh Desty Rachmaning Caesar, perempuan kelahiran 4 Desember 1996, lulus dari SMAN 7 Kediri dan melanjutkan di Sekolah Mode Quinna (Quinna School of Fashion).  Selama setahun dari tahun 2016-2017 ia mengikuti pendidikan mode dan fashion show pertama pada 13 Oktober 2017 dalam acara yang dihelat oleh BeKraf di Kediri. Ia menampilkan beberapa koleksi busana yang mendapatkan banyak apresiasi dari yang hadir, khususnya Jenderal Purn. Moeldoko.

Azzkasim Boutique

Didirikan oleh Ahmad Qosim, alumni Universitas Sunan Giri , Surabaya. Pendidikan formal memang tidak berkaitan dengan desain dan busana. Hanya kemudian ketertarikannya pada dunia fashion membawa dirinya menekuni dunia fashion. Dimulai tahun 2004 mulai merancang AA Style di Surabaya.

Tahun 2009 pindah ke Kediri dan memulai merancang busana sendiri dimulai dengan batik tulis. Tahun 2011 memulai dengan bordir hingga kini Qosim merancang berbagai jenis bahan dan outfit.

Numansa Batik Dermo

Numansa Batik merupakan brand yang didirikan oleh Nunung Wiwin Ariyanti. Ia mulai tertarik dengan desain busana sejak mendapat kesempatan dari BI sekolah desain Susan Budihardjo tahun 2014. Pada saat sekolah, Nunung masih bekerja di sebuah perusahaan swasta. Rupanya, pelatihan itu memberikan inspirasi untuk mendirikan Numansa Batik Dermo tahun 2015. Karyanya antara lain motif Jaranan dan motif Panji Sekartaji yang ditampilkan di DSF. (res|aro)

Continue Reading

Business

Tingkatkan Ekonomi Kreatif, Carnival Kampung Tenun Ikat Bandar Kidul

Published

on

Usai diresmikan sebagai Kampung Wisata Tenun Ikat Bandar Kidul, sejumlah kegiatan telah disusun dan mulai berjalan dalam rangka memperkenalkan dan membangkitkan semangat kemandirian. Seperti digelarnya Exotic Festival pada Minggu (09/02), jalan sehat kreasi diikuti ratusan peserta dari perwakilan seluruh RT di Kelurahan Bandar Kidul.

Produk unggulan tenun ikat dari Kelurahan Bandar Kidul kini telah mampu menembus pasar internasional, terbukti saat gelaran pemilihan Miss Universe, secara khusus dipergunakan oleh salah satu peserta. Hal ini disampaikan Siti Rukyah, pemilik usaha tenun ikat Medali Mas, berdiri sejak 27 Pebruari 1989. Kini telah merekrut ratusan tenaga kerja didukung 70 alat serta memiliki 5 showroom.

“Kehadiran sejumlah designer ternyata membawa berkah kepada kami, hingga Miss Universe memakai produk kami. Dukungan masyarakat kemudian pemerintah kota, kampung tenun ikat ini kini menjadi lokasi edukasi. Karena sudah ditunjuk sebagai kampung wisata, maka berusaha mengadakan event 2 bulan sekali, setelah kemarin menggelar bazaar maka kali menggelar Exotic Festival dan berikutnya rencananya peringatan Hari Kartini,” ungkapnya.

Sedikitnya 50  penjor terpasang di sekitar panggung acara dan rupanya ini merupakan motif tenun ikat yang akan diproduksi secara massal dari 13 tempat tenun ikat. Ditemui usai acara, Totok Sunaryanto, sebagai Ketua II Kampung Wisata Tenun Ikat, menjelaskan bahwa acara ini meneruskan Pasar Rakyat yang diselenggarakan 21 Desember tahun lalu.

“Hari ini kita menyelenggarakan kegiatan yang sangat luar biasa yaitu Exotic Festival Tenun Ikat Bandar Kidul, yang diikuti semua elemen masyarakat di Bandar Kidul dan sekitarnya. Menjadikan luar biasa, perwakilan masing – masing RT terdiri dari 41 RT itu membawa penjor dengan beragam motif. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah kota, dimana para ASN juga diwajibkan mengenakan seragam tenun ikat,” terangnya.

Adapun dalam Exotic Festival digelar jalan sehat kreasi, di mana masing masing RT mengeluarkan kreasinya untuk menumbuhkan para pemuda berkreasi. Dilanjutkan fashion show kids, dengan peserta anak – anak dengan memakai bahan dasar tenun ikat Bandar Kidul. Kini juga telah tersedia paket wisata, untuk pelajar, umum dan kursus yang akan digelar setiap dua bulan sekali. “Paket wisata ini kami gelar dua bulan sekali, selain untuk memperkenalkan produk tenun ikat juga wadah edukasi bagi wisatawan untuk mengetahui dan dimungkinkan untuk kursus,” terang Totok Sunaryanto.

Sejumlah warga pun menyambut baik digelarnya acara ini dan diharapkan berkelanjutan. Seperti disampaikan Estu Susilowati, warga setempat yang mengaku optimis dan menjadikan warga Bandar Kidul makin bersemangat. “Menjadikan kita optimis dan semakin bersemangat memproduksi motif baru. Makin didengar, dikunjungi dan terkenal, akan membangkitkan ekonomi bagi kami,” terangnya.

*Sumber Duta.com

Continue Reading

Entertainment

Mengenang Lima Bioskop di Kota Kediri yang Pernah Berjaya di Eranya

Published

on

Hingar bingar dunia perfilman di Kota Kediri cukup marak pada dekade 80an hingga 90an. Sedikitnya ada sebanyak 5 gedung bioskop di Kota Kediri yang sempat berjaya sebelum tahun 90-an. 

Gedung bioskop tersebut menjadi tempat andalan warga Kota Kediri untuk sekadar menikamti romantisme akhir pekan, atau sekadar kencan bersama pacar.

Setiap harinya gedung bioskop tersebut memutar film-film unggulan, mulai dari box office, Bollywood hingga film buatan karya anak negeri. 

Fenomena pembelian karcis dan antrean panjang untuk masuk dalam pintu bioskop menjadi hal yang indah sekaligus jadi tantangan. .

Umumnya penjaga pintu berperawakan besar dan ala gaya preman. Tapi tak jarang terlihat ada petugas yang berpakaian preman juga turut serta menjaga kemanan di bioskop tersebut. 

Menurut Dadang (47) warga Kelurahan Banjaran Kecamatan Kota Kediri, yang mempunyai hobi nonton film mengungkapkan,”di Kota Kediri ada 5 bioskop, namun yang paling terkenal ialah Bioskop Jaya.Sekitar 1987 hingga 1993, Bioskop Jaya populer dengan bioskopnya anak muda, karena film yang diputar di Bioskop Jaya kalau bukan film anak muda ya film barat,” ungkapnya. 

Dadang mengenang, Bioskop Jaya berbeda dengan Bioskop Kencana atau atau Bioskop Sentral. Bioskop Kencana dan Sentral lebih banyak memutar film India. Berbeda pula dengan Bioskop Garuda yang beradadi  kampung pecinan, sebelah timur Klentheng. Saat itu Garuda sering memutar film terbaru dari kawasan Asia. 

“Favorit saya dulu nonton di Bioskop Jaya seperti film Lupus dan Catatan Si Boy. Karena film-film itu hits anak muda,” terang pria satu anak ini. 

Nostalgia zaman dahulu di bioskop menjadi cerita menarik tersendiri yang tak bisa dibandingkan saat ini. Banyak pula percintaan terikat dari bioskop. 

Seiring perkembangan zaman membuat satu per satu terkapar bertumbangan. Saat ini yang tersisa hanya tinggal kenangan, sebagian masih terlihat bangkai gedung tua dan mangkrak.

Inilah 5 Bioskop Kota Kediri di era jaman 80an hingga 90an yang sempat berjaya. 

1.Jaya

Bioskop ini letaknya di jalan Brawijaya Kota Kediri, depannya kantor polisi. Ini adalah bioskop terelit di kota Kediri di masanya. Bioskop Jaya ini seringkali menjadi gerbang masuknya film-film baru di Kota Kediri.

2.Garuda

Bioskop ini terletak di Jalan Yosudarso, terletak di kawasan pecinan dekat klentheng di sisi timur Kali Brantas. Di zamannya termasuk bioskop elit di Kediri walau dari segmen yang lain. Bioskop ini lebih sering memutar film-film terbaru dari kawasan Asia

3.Kencana 

Bioskop ini letaknya di Jalan Panglima Sudirman Kota Kediri, yang kini sudah beralih fungsi menjadi Ramayana Store. Bioskop ini biasanya memutar film seperti film India, mandarin action, film Indonesia remaja. 

4.Sentral

Bioskop ini terletak di Jalan Patimura Kota Kediri. Bioskop ini kelasnya selevel dengan Bioskop Kencana,walau terkenalnya sebagai bioskop film-film India. 

5.Pagora

Terletak diperkampungan di Kelurahan Setonopande Kota Kediri. Bioskop ini dulunya sering memutar film India. 

(E. Siwing)

Continue Reading

Entertainment

Milenial Yang Peduli Kebudayaan Lokal

Published

on

Kediri merupakan salah satu daerah yang memiliki banyak corak kebudayaan, baik upacara adat maupun kesenian. Salah satu kesenian yang kerap menjadi pertunjukan atau tontonan masyarakat, di antaranya adalah seni tari jaranan.

Jaranan merupakan salah satu seni tari lokal yang hidup dan berkembang di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di daerah Kediri, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo dan Pacitan misalnya, kesenian ini konon lahir atau diolah oleh masyarakat karena terpengaruh oleh kisah-kisah yang berlatar kerajaan masa lampau.

Di Kediri ada salah satu anggota polisi yang sangat getol melestarikan kesenian jaranan. Ia adalah Bripka Agus Budiono yang sangat bangga menjadi seorang seniman jaranan.

Agus Budiono adalah anggota Polres Kediri Kota yang bertugas di Polsek Mojo sebagai Bhabinkamtibmas. Dilahirkan di Desa Ringinsari Kecamatan Kandat Kabupaten Kediri 24 September 1985 silam.

Nama Bripka Agus Budiono di kalangan wilayah hukum Polres Kediri Kota mungkin sedikit yang mengetahui. Namun ketika ditanya mengenai Kang Dalang semua orang pasti mengenalnya. Bripka Agus Budiono memang lebih dikenal sebagai Kang Dalang.

Sebutan tersebut diberikan karena hobi Bripka Agus yang berbeda dengan anggota polisi lainnya. Bripka Agus memilih kesenian jaranan sebagai hobi yang digelutinya. Selain itu pria yang bertugas di Bhabinkamtibmas Polsek Mojo ini juga suka dengan kesenian wayang dan keris.

Kang Dalang memang terlahir dari keluarga yang kental akan budaya Jawa. “Bapak saya seorang niaga gamelan, pertama kali dikenalkan seni jaranan oleh adik saya yang juga seorang seniman penabuh kendang Ki Manteb Sudarsono seorang dalang ternama di Jawa Tengah,” ungkapnya.

Tak heran kecintaan Agus semakin bertambah terhadap seni jaranan saat ada perlombaan jaranan yang diadakan Kapolresta pada tahun 2005. “Waktu itu ada lomba jaranan antar satuan, dan saya masih di Satreskrim,” kenang bapak dua anak ini.

Pria 34 tahun ini ingin mengasah ilmu mengenai kesenian jaranan. Bripka Agus bergabung dengan beberapa paguyuban jarananan, baik di Kota maupun di Kabupaten Kediri.

Berbagai kegiatan yang dilakukan paguyuban diikuti oleh Bripka Agus. Tanpa ada rasa canggung Bripka Agus ikut menunjukkan kemampuannya bermain barongan di depan masyarakat umum.

Berbagai pertunjukan diikuti Bripka Agus bersama anggota paguyuban lainnya. “Saya ingin terus mengasah kemampuan saya. Salah satunya melakukan aktraksi menarik mobil atau memasukkan tangan pada minyak panas,” ungkapnya.

Sebelum menjadi seorang anggota polisi, Agus juga pernah berjualan nasi goreng keliling di daerah Kandat.

Ia bercerita, saat kelas 3 Sekolah Teknik Menengah (STM)  Agus diajak ayahnya berkunjung ke rumah saudara kakeknya di Tulungagung. Saat itu ia disarankan untuk mendaftar menjadi anggota polisi.

Mengikuti saran tersebut, akhirnya Agus mendaftar menjadi polisi. Ternyata benar, setelah mendaftar ia lolos seleksi menjadi polisi. Lulus 2003 kemudian ia mengikuti pendidikan pembentukan bintara Polri (Diktuba) selama 11 bulan. Pada 2004 Agus ditugaskan di Mapolresta Kediri.

Meski sudah menjadi anggota polisi, kecintaanya terhadap seni jaranan kian kuat. Tak hanya menjadi barongan, Agus kerap diundang sebagai pemateri atau juri dalam perhelatan lomba jaranan. Ia pernah tampil di beberapa daerah seluruh Indonesia. Diantaranya, Bali, Jakarta, Surabaya dan Kalimantan.

Keinginannya melestarikan budaya Jawa juga dituangkannya dalam membentuk grup – grup tari jaranan.

“Meski pekerjaan saya saat ini polisi, namun harapan ke depan saya, juga akan lebih memfokuskan pada seni jaranan. Agar generasi muda akan lebih cinta pada seni budaya Indonesia yang adiluhung. “Tidak ketinggalan pesan kamtibmas selalu saya sampaikan kepada para generasi muda,” tandasnya.

Sudah seharusnya kita sebagai generasi daerah merawat kebudayaan sebagai upaya menjadi masyarakat yang sadar akan sejarah dan menghormati kebudayaan tradisional. Sebab, kesenian daerah adalah warisan leluhur yang menandakan sejarah-sosial masyarakat setempat dari sejak masa lampau.

(E.Siwing)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 kediriselaludihati.com