Lalu Lintas
Kasat Lantas Muda yang Menyatukan Budaya, Teknologi, dan Humanisme di Lalu Lintas
Kediriselalidihati – Di balik berbagai operasi kepolisian, deru sirene patroli, hingga tilang elektronik yang senyap namun tegas, ada sosok perwira muda yang selama lebih dari satu tahun terakhir menjadi wajah lalu lintas di Kota Kediri: AKP Afandy Dwi Takdir, S.T.K., S.I.K. Sejak 30 Agustus 2024 hingga 2 Desember 2025, ia memimpin Satuan Lalu Lintas Polres Kediri Kota dengan pendekatan yang memadukan disiplin, teknologi, dan sentuhan humanis.
Dan kini ia melanjutkan pengabdiannya menjadi Paur Samsat Surabaya Utara Polda Jatim.
Afandy datang ke Kediri membawa jejak panjang dari Bumi Arung Palakka, Bone, Sulawesi Selatan, tempat ia lahir pada 28 Desember 1991. Ia tumbuh dalam keluarga pedagang yang menjunjung tinggi kehormatan dan kerja keras. Ayahnya, Haji Takdir, dan ibunya, Hajah Harjunah, menanamkan nilai bahwa hidup bukan sekadar mencari nafkah, melainkan juga menjaga marwah keluarga dan bermanfaat bagi banyak orang. Sejak kecil, ia akrab dengan dunia perdagangan, karena di keluarganya pedagang bukan sekadar profesi, melainkan warisan.
Menariknya, cita-cita awal Afandy bukan menjadi polisi. Ia justru membayangkan dirinya sebagai pedagang sukses seperti orang tuanya, atau bahkan dokter, melanjutkan mimpi sang ibu yang dulu tak kesampaian. “Pedagang itu turun-temurun. Dalam keluarga kami, pedagang itu bukan pekerjaan, tapi tradisi. Karena itu saya mencari profesi yang berbeda dan lebih pasti, salah satunya menjadi polisi. Polisi bisa berdagang, tapi pedagang belum tentu bisa menjadi polisi,” ujarnya suatu ketika, sembari tersenyum menyebut bahwa takdir justru mempertemukannya dengan istri yang berprofesi sebagai dokter, Harli Pramitasari Nasution.
Di balik pilihan seragam cokelat itu, ada filosofi Bugis–Bone yang kuat. Sejak kecil, Afandy dibesarkan dengan semboyan Mali’ siparappe, tallang sipahua: jika dihanyutkan air, harus diupayakan sampai ke tepian; jika tenggelam, harus diangkat dan diselamatkan. Falsafah ini mengajarinya untuk tidak membiarkan siapapun “tenggelam” sendirian, entah di tengah kesulitan hidup ataupun di jalan raya yang penuh risiko. Ia juga memegang erat nilai sipakatau, sipakalebbi, sipakainge — saling memanusiakan, saling memuliakan, dan saling mengingatkan. Nilai-nilai inilah yang kemudian mewarnai gaya kepemimpinannya sebagai Kasat Lantas: tegas menindak, tetapi tetap menghormati dan mengedukasi.
Jalan Afandy menuju Akademi Kepolisian tidak mulus. Setelah menempuh pendidikan di SD Negeri Lalowosula, SMP Negeri 1 Lappariaja, dan SMA Negeri 1 Ulaweng, ia berulang kali gagal dalam seleksi penerimaan Akpol dan Bintara. Ia mendaftar Akpol tahun 2009, gagal di pantukhir daerah. Tahun 2010 ikut seleksi Akpol dan Bintara, kembali belum berhasil. Tahun 2011 ia mencoba lagi; kali ini, pintu Akpol terbuka. Ia tercatat sebagai alumni pertama SMAN 1 Ulaweng yang berhasil masuk Akpol — sebuah tonggak penting yang mengubah arah hidupnya.
Lulus Akpol, pangkat Inspektur Polisi Dua ia sandang pada 2015. Afandy terus mengasah kapasitasnya dengan melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada 2020. Berbagai penugasan di Brimob, satuan operasi, hingga jabatan fungsional menjadi ruang tempanya. Medan tugas yang keras mengajarkan satu hal: perintah yang paling didengar anggota adalah contoh di lapangan, bukan sekadar instruksi dari balik meja.
Penugasan-penugasannya tak hanya berputar pada lapangan, tetapi juga pada ranah strategi. Pengalaman sebagai perwira di berbagai lini, termasuk tugas intelijen dan peran strategis lain, membentuknya sebagai figur yang terbiasa berpikir sistemik, melihat keamanan bukan hanya dari hilir, tetapi juga dari hulu: budaya, kebijakan, dan perilaku masyarakat.
Ketika dipercaya menjadi Kasat Lantas Polres Kediri Kota pada Agustus 2024, Afandy datang membawa satu gagasan utama: lalu lintas bukan sekadar urusan tilang dan kemacetan, melainkan ekosistem keselamatan manusia. Di bawah kepemimpinannya, Satlantas Polres Kediri Kota menjalankan program unggulan “Polantas Menyapa Kediri Tertib Berlalu Lintas”, sebuah payung besar yang memadukan edukasi, penegakan hukum berbasis teknologi, dan pendekatan humanis.
Di sekolah-sekolah, Afandy dan anggotanya hadir lewat program Police Goes to School, Duta Lalu Lintas, dan Polisi Sahabat Anak. Pelajar diajak memahami bahwa helm bukan aksesori, bahwa larangan berkendara di bawah umur bukan sekadar aturan kaku, melainkan perlindungan bagi mereka sendiri. “Kami ingin keberhasilan itu hadir ketika masyarakat patuh bukan karena diawasi, tetapi karena peduli pada keselamatan bersama,” demikian garis besar pandangannya.
Di sisi lain, penegakan hukum ia dorong lebih modern dan transparan. ETLE statis dan mobile dimanfaatkan secara optimal, dipadukan dengan layanan publik yang diperkuat seperti SIM online, Samsat Keliling, Samsat Drive Thru, Samsat Payment Point, Samsat Corner, hingga layanan di mal pelayanan publik. Baginya, pelayanan yang cepat, jelas, dan manusiawi adalah pintu masuk kepercayaan publik. “Masyarakat berhak mendapat layanan yang modern dan akuntabel. Polisi lalu lintas bukan hanya hadir ketika menindak, tetapi juga ketika melayani dan membantu,” begitu ia sering menekankan kepada anggotanya.
Pemanfaatan teknologi tidak berhenti di ETLE. Melalui Road Traffic Management Center (RTMC), Satlantas Polres Kediri Kota aktif mendukung terwujudnya konsep kota cerdas dan kota aman (smart city dan safe city). Jaringan CCTV di titik-titik strategis digunakan untuk memantau arus lalu lintas secara real time, mengurai kemacetan, dan merespons cepat insiden di jalan. Bagi Afandy, layar-layar RTMC bukan sekadar medium kontrol, tetapi jendela untuk membaca denyut kota.
Sinergi lintas sektor juga menjadi ciri kepemimpinannya. Bersama Dinas Perhubungan, Jasa Raharja, dan komunitas otomotif, Afandy mendorong penataan lalu lintas, penanganan korban kecelakaan, hingga kampanye keselamatan berkendara di berbagai ruang publik. Ia meyakini keselamatan jalan adalah tanggung jawab bersama; Satlantas hanya salah satu aktornya. “Budaya tertib berlalu lintas harus lahir dari kesadaran bersama, bukan semata-mata dari penegakan hukum,” begitu prinsip yang ia pegang.
Tantangan besar datang ketika Kota Kediri menghadapi situasi pasca kerusuhan 30 Agustus 2025. Tekanan tugas meningkat, situasi psikologis masyarakat dan anggota di lapangan ikut terpengaruh. Di tengah situasi itu, Afandy memilih lebih banyak berdiri di garis depan. Ia mendampingi anggota di lapangan, mengatur pengamanan, dan menjaga ritme pengendalian lalu lintas di titik-titik rawan. “Tantangan terberat adalah menjaga semangat anggota di tengah tekanan tugas yang tinggi. Bagi saya, kepemimpinan bukan hanya memberi perintah, tetapi ikut merasakan apa yang dirasakan anggota,” refleksinya.
Di internal, ia mengelola soliditas Satlantas dengan pola kepemimpinan yang dekat, terbuka, dan menumbuhkan rasa dipercaya. Ia mendorong anggotanya melihat setiap tugas bukan sekadar kewajiban struktural, tetapi bentuk pengabdian. Ketika anggota merasa didengar, dihargai, dan didukung, mereka cenderung bekerja dengan hati dan menjaga integritas. Di sisi lain, pelanggaran disiplin tetap ditindak, sebagai pesan bahwa profesionalisme dan kejujuran adalah garis merah yang tidak bisa ditawar.
Selama menjabat, Afandy juga tak menutup mata terhadap fungsi sosial Satlantas. Kegiatan sosial, bakti sosial, donor darah, santunan korban kecelakaan, hingga kampanye keselamatan jalan ia rangkai sebagai bagian dari strategi pembinaan masyarakat. Dalam banyak kesempatan, ia mengingatkan bahwa polisi lalu lintas bukan hanya hadir saat ada pelanggaran, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan uluran tangan.
Puncak ujian kepemimpinannya sebagai Kasat Lantas terlihat jelas dalam pelaksanaan Operasi Zebra Semeru 2025, yang digelar pada 17–30 November 2025. Di bawah komandonya, Operasi Zebra di Kota Kediri bukan hanya menjadi agenda rutin, tetapi dirancang sebagai gerakan besar penyelamatan pengguna jalan. Selama 14 hari, puluhan ribu pelanggaran berhasil ditindak melalui kombinasi ETLE statis, ETLE mobile, teguran, dan tilang manual. Data analisa menunjukkan bahwa pelanggaran tidak memakai helm berstandar SNI, pengendara di bawah umur, pengemudi mobil yang tidak menggunakan sabuk keselamatan, melawan arus, serta pelanggaran lain-lain yang bersifat administratif dan teknis mendominasi catatan pelanggaran.
Afandy berulang kali menegaskan bahwa fokus penindakan diarahkan pada pelanggaran yang berpotensi menimbulkan kecelakaan fatal. Penertiban balap liar, misalnya, menjadi salah satu prioritas. Dalam satu rangkaian kegiatan, puluhan remaja yang terlibat balap liar diamankan, puluhan sepeda motor disita, dan orang tua mereka dipanggil untuk mengikuti pembinaan bersama. “Kami tidak ingin ada korban jiwa karena balap liar. Anak-anak yang terlibat kami bina, kami edukasi bersama orang tuanya. Penindakan harus diiringi pembinaan, agar mereka benar-benar jera dan berubah,” tegasnya.
Di sisi lain, kegiatan preemtif dan preventif selama Operasi Zebra juga diperkuat. Himbauan dan pembagian brosur di simpang-simpang utama, edukasi di sekolah, pemasangan banner di titik strategis, hingga kegiatan Police Goes to School dan Polsanak digelar hampir setiap hari. Satlantas berupaya hadir bukan hanya sebagai penindak, tetapi juga sebagai sahabat masyarakat yang mengingatkan.
Rekap kecelakaan selama periode Operasi Zebra menunjukkan penurunan angka korban meninggal dibanding 14 hari sebelumnya. Meski kecelakaan masih tercatat, tren tersebut menjadi indikator bahwa kombinasi edukasi, pengawasan, dan penegakan hukum memberi dampak nyata. “Operasi Zebra Semeru kami jalankan sebagai langkah menyelamatkan masyarakat. Tujuan akhirnya adalah keselamatan, bukan sekadar angka penindakan,” ujar Afandy dalam evaluasi operasi.
Di balik semua itu, ada narasi panjang tentang identitas budaya yang ia bawa. Sebagai putra Bone, ia tumbuh dalam tradisi yang menjunjung keberanian, kehormatan, dan solidaritas. Ia mengenal kisah La Galigo sebagai epos panjang yang memuat nilai kesetiaan, keberanian, dan hubungan manusia dengan alam dan Yang Ilahi. Ia juga paham betul figur Karaeng Galesong, bangsawan Gowa yang pada abad ke-17 meninggalkan kampung halaman dan ikut berjuang bersama Trunojoyo di tanah Jawa — termasuk di Kediri, dengan pusat kekuasaan yang kala itu berada di kawasan Setono Gedong, tak jauh dari lokasi Mako Satlantas Polres Kediri Kota sekarang.
Bagi Afandy, kisah Karaeng Galesong bukan sekadar catatan sejarah, tetapi semacam cermin takdir. “Karaeng Galesong berasal dari keturunan bangsawan Gowa dan namanya diabadikan sebagai simbol keberanian melawan penjajahan, salah satunya di Kediri. Mungkin ini sudah takdir yang membawa saya ke sini, melanjutkan jejak leluhur kami dalam bentuk pengabdian yang berbeda,” ujarnya suatu ketika.
Dari Bone ke Kediri, dari cita-cita sebagai pedagang menjadi perwira polisi, dari kegagalan seleksi berulang hingga memimpin operasi lalu lintas dalam skala kota, garis hidup Afandy Dwi Takdir memperlihatkan bahwa ketekunan dan nilai-nilai yang dipegang teguh dapat mengubah kegagalan menjadi pijakan. Di penghujung masa tugasnya sebagai Kasat Lantas Polres Kediri Kota, 2 Desember 2025, ia meninggalkan jejak berupa program-program yang masih bisa dilanjutkan, budaya kerja yang menekankan humanisme dan teknologi, serta pesan sederhana yang terus ia ulang: keselamatan di jalan adalah tanggung jawab bersama.
Ia kerap menitipkan pesan kepada warga Kediri: patuhi aturan bukan karena takut petugas, melainkan karena sayang pada diri sendiri dan orang lain. Di tengah hiruk-pikuk kendaraan, peluit, dan sorot kamera CCTV, Afandy ingin Kota Kediri dikenang sebagai kota yang tak hanya tumbuh secara fisik, tetapi juga dewasa dalam budaya tertib berlalu lintas — kota yang benar-benar Sekartaji: selaras, berkaromah, tangguh, dan terpuji. (res/aro)
Lalu Lintas
Polisi Datangi Bengkel di Balowerti Kediri, Tekankan Keselamatan dan Kepatuhan Aturan Lalu Lintas
Kediriselaludihati – Satlantas Polres Kediri Kota mengingatkan pemilik bengkel kendaraan bermotor agar tidak melakukan modifikasi yang bertentangan dengan standar dan ketentuan keselamatan. Imbauan tersebut disampaikan melalui kegiatan edukasi langsung kepada pemilik bengkel di kawasan Balowerti, Kecamatan Kota, Kota Kediri, Kamis (8/10/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan Unit Keamanan dan Keselamatan (Kamsel) Satlantas Polres Kediri Kota itu berlangsung di sebuah bengkel di Gang I, Kelurahan Balowerti, mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB.
Kanit Kamsel bersama sejumlah anggota mendatangi bengkel untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kendaraan tetap memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan.
Kasat Lantas Polres Kediri Kota AKP Septia Intan Putri, S.T.K., S.I.K., M.H. menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesadaran keselamatan berlalu lintas, termasuk melalui pelaku usaha jasa perbaikan dan modifikasi kendaraan.
“Unit Kamsel melaksanakan imbauan kepada pemilik bengkel mengenai larangan modifikasi kendaraan bermotor yang tidak sesuai standar, sekaligus mengingatkan pentingnya berkendara dengan mematuhi rambu-rambu dan aturan lalu lintas,” demikian keterangan kegiatan Satlantas Polres Kediri Kota yang disampaikan melalui laporan Kasat Lantas.
Modifikasi Kendaraan Harus Memenuhi Standar
Modifikasi kendaraan bermotor menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan karena perubahan pada komponen kendaraan dapat memengaruhi aspek keselamatan apabila dilakukan tanpa memperhatikan persyaratan teknis.
Tidak semua bentuk modifikasi kendaraan dilarang. Namun, perubahan yang menyebabkan kendaraan tidak memenuhi ketentuan teknis maupun persyaratan laik jalan dapat menimbulkan persoalan keselamatan serta konsekuensi hukum.
Karena itu, pemilik bengkel memiliki peran penting dalam memastikan pekerjaan yang dilakukan tidak mengabaikan standar keselamatan kendaraan.
Melalui sosialisasi tersebut, kepolisian mengingatkan agar kegiatan perbaikan maupun modifikasi tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku.
Edukasi langsung kepada pemilik bengkel juga menjadi salah satu pendekatan pencegahan. Bengkel merupakan tempat pemilik kendaraan berkonsultasi mengenai perbaikan, penggantian komponen maupun perubahan pada kendaraannya.
Dengan pemahaman yang baik, pelaku usaha bengkel diharapkan dapat membantu mengingatkan pelanggan mengenai pentingnya menjaga kendaraan tetap aman digunakan di jalan.
Pengendara Diingatkan Patuhi Rambu Lalu Lintas
Selain membahas modifikasi kendaraan, personel Unit Kamsel juga menyampaikan pesan keselamatan berkendara.
Pengguna kendaraan bermotor diingatkan untuk mematuhi rambu-rambu, menaati peraturan lalu lintas serta memperhatikan kondisi kendaraan sebelum digunakan.
Keselamatan berlalu lintas tidak hanya bergantung pada perilaku pengemudi, tetapi juga kondisi teknis kendaraan yang digunakan.
Kendaraan yang tidak memenuhi standar berpotensi menimbulkan risiko bagi pengendaranya maupun pengguna jalan lainnya.
Karena itu, upaya meningkatkan keselamatan perlu melibatkan berbagai pihak, termasuk pemilik kendaraan, pengemudi dan pelaku usaha bengkel.
Mengedepankan Edukasi dan Pencegahan
Dalam kegiatan di Balowerti tersebut, Satlantas Polres Kediri Kota mengedepankan pendekatan edukatif melalui penyampaian imbauan secara langsung.
Laporan kegiatan tidak menyebutkan adanya temuan pelanggaran, pemeriksaan kendaraan tertentu maupun tindakan penegakan hukum terhadap pemilik bengkel.
Dengan demikian, kegiatan tersebut merupakan sosialisasi mengenai larangan modifikasi yang tidak sesuai standar, bukan operasi penindakan.
Satlantas Polres Kediri Kota berharap pemilik bengkel dapat ikut berperan dalam membangun budaya tertib berlalu lintas dengan memperhatikan aspek keselamatan pada setiap pekerjaan perbaikan maupun modifikasi kendaraan.
Edukasi kepada pelaku usaha bengkel menjadi bagian dari upaya pencegahan agar kendaraan yang digunakan masyarakat tetap memenuhi persyaratan keselamatan dan tidak membahayakan pengguna jalan. (res/aro)
Lalu Lintas
Habib Syech Hadir di Puncak Festival Santri Nusantara Kediri, 503 Personel Internal Disebar di 47 Titik

Kediriselaludihati – Sekitar 50.000 jemaah diperkirakan menghadiri Lirboyo Bersholawat bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Kamis (8/10/2026) malam. Mengantisipasi besarnya massa, pengamanan, rekayasa lalu lintas, jalur evakuasi hingga larangan konvoi mulai dipersiapkan.
Lirboyo Bersholawat menjadi acara puncak Festival Santri Nusantara 2026 yang berlangsung pada 4-8 Oktober 2026. Acara puncak dijadwalkan mulai pukul 19.00 WIB di lapangan sebelah barat Aula Al Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo.
Persiapan pengamanan dibahas dalam rapat koordinasi di Rupatama Polres Kediri Kota, Selasa (6/10/2026) mulai pukul 13.00 WIB.
Rapat dipimpin Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto, S.H., S.I.K., M.Si. dan diikuti unsur kepolisian dari sejumlah daerah, TNI, Brimob, Subdenpom, Satpol PP, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, Kesbangpol, panitia serta unsur Pagar Nusa dan GASMI.
Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto meminta panitia menyampaikan secara rinci seluruh rencana kegiatan agar potensi persoalan dapat dipetakan sebelum acara berlangsung.
“Panitia agar memaparkan pelaksanaan kegiatan apa adanya dan secara detail sehingga kita bisa bekerja sama menyiapkan pengamanan,” kata Wisnu dalam rapat koordinasi.
Diperkirakan 50.000 Jemaah
Panitia memperkirakan sekitar 50.000 jemaah akan menghadiri Lirboyo Bersholawat. Kegiatan tersebut terbuka untuk masyarakat umum.
Sejumlah tamu dari tingkat Provinsi Jawa Timur juga masuk dalam daftar undangan panitia. Untuk mengatur pergerakan massa, jalur tamu VVIP dan VIP direncanakan melalui sisi timur, sedangkan masyarakat umum disiapkan dua akses masuk dari arah barat.
Panitia juga menyiapkan sejumlah layar di beberapa lokasi untuk memecah konsentrasi jemaah.
Untuk pengamanan internal, Pondok Pesantren Lirboyo menyiapkan 503 personel yang akan ditempatkan di 47 titik, baik di dalam maupun sekitar kawasan pesantren.
Wisnu meminta petugas internal yang telah ditunjuk benar-benar dimaksimalkan untuk membantu aparat di lapangan.
“Orang-orang yang ditunjuk untuk pengamanan di titik internal pondok agar dimaksimalkan sehingga bisa membantu petugas pengamanan,” ujarnya.
Sementara Polres Kediri Kota akan lebih memfokuskan pengamanan pada sektor luar kawasan pesantren, terutama ruas dan persimpangan yang berpotensi mengalami kepadatan lalu lintas.
Kabag Ops Polres Kediri Kota Kompol Iwan Setyo Budhi, S.H. mengatakan personel akan ditempatkan pada titik-titik yang telah dipetakan agar aktivitas masyarakat di sekitar Lirboyo tetap dapat dikelola.
“Kami memfokuskan pengamanan sektor luar dan beberapa titik yang berpotensi menimbulkan kemacetan. Personel akan diploting pada titik pengamanan agar kegiatan tidak mengganggu masyarakat,” kata Iwan.
Jalan Ditutup Mulai Pukul 17.00 WIB
Dalam rakor, panitia menyampaikan penutupan jalan di sekitar lokasi direncanakan mulai pukul 17.00 WIB atau sekitar dua jam sebelum Lirboyo Bersholawat dimulai.
Jemaah yang menggunakan kendaraan roda empat akan diarahkan menuju kantong-kantong parkir yang telah disiapkan.
Pengelolaan parkir selama kegiatan akan dikoordinasikan dengan Karang Taruna setempat.
Pedagang juga menjadi perhatian karena keberadaannya di badan jalan berpotensi mempersempit ruang lalu lintas ketika puluhan ribu jemaah datang.
“Terkait pedagang yang biasanya memakan jalur lalu lintas, ini harus diperhatikan karena nantinya dapat menimbulkan kemacetan,” kata Wisnu.
Panitia menyatakan telah berkoordinasi dengan Karang Taruna agar pedagang tidak menggunakan badan jalan.
Selain pengaturan lalu lintas, jalur evakuasi menjadi salah satu poin yang mendapat perhatian khusus.
“Jalur evakuasi harus steril dari kendaraan,” kata Iwan.
Panitia memastikan jalur tersebut akan dijaga tetap steril selama kegiatan.
Tiga ambulans juga disiapkan untuk mendukung pelayanan kesehatan. Selain itu, panitia menyiapkan tenda darurat dan fasilitas UKS.
Larangan Konvoi Jadi Perhatian
Potensi konvoi menuju lokasi acara turut dibahas secara khusus.Wisnu meminta pengurus Pagar Nusa mengingatkan anggotanya agar tidak melakukan konvoi menuju Pondok Pesantren Lirboyo.
“Kami mengimbau kepada panitia dan pengurus cabang Pagar Nusa agar mengingatkan adik-adiknya untuk tidak melakukan konvoi,” kata Wisnu.
Kabag Ops juga meminta dilakukan langkah penggalangan serta penyekatan untuk mencegah konvoi.
Pengurus Pagar Nusa menyatakan telah memberikan imbauan kepada anggotanya. Dalam rakor juga dibahas rencana pembuatan video instruksi dari pimpinan cabang agar larangan tersebut tersampaikan hingga tingkat ranting.
Perhatian terhadap konvoi menguat setelah beredar sejumlah flyer di media sosial yang mencantumkan ajakan terkait kehadiran kelompok pencak silat.
Panitia menegaskan tidak mengundang perguruan pencak silat secara khusus dalam kegiatan tersebut.
“Di sini kami tidak mengundang perguruan atau pencak silat, tetapi ada beberapa flyer yang beredar seolah-olah kami mengundang,” demikian penjelasan panitia dalam rakor.
Karena itu, pengurus Pagar Nusa diminta ikut menyampaikan klarifikasi dan imbauan kepada jaringan di tingkat bawah.
Bendera Besar Juga Diantisipasi
Kasat Binmas Polres Kediri Kota AKP Cahyo turut menyoroti kebiasaan membawa bendera berukuran besar dalam kegiatan sholawat.
Ia meminta bendera besar tidak dikibarkan di dalam lapangan karena berpotensi mengganggu pandangan maupun kenyamanan jemaah lainnya.
Selain Polres Kediri Kota, persiapan pengamanan melibatkan unsur Polres Tulungagung, Polres Nganjuk dan Polres Kediri. TNI juga terlibat melalui Brigif Wira Yudha dan Kodim 0809/Kediri, bersama Brimob Kediri serta Subdenpom V/2-2 Kediri.
Dari Pemerintah Kota Kediri, koordinasi melibatkan Satpol PP, Dinas Perhubungan, Kesbangpol dan Dinas Kesehatan.
Polres Kediri Kota meminta seluruh perwira pengendali membawa alat komunikasi handy talky (HT) untuk mempermudah koordinasi ketika kegiatan berlangsung.
Dengan perkiraan puluhan ribu jemaah, pengamanan akan difokuskan pada pengendalian arus kedatangan dan kepulangan, titik rawan kemacetan, kantong parkir, pencegahan konvoi serta memastikan jalur evakuasi tetap dapat digunakan dalam kondisi darurat. (res/aro)
Lalu Lintas
Polisi Jaga Simpang RS Baptis dan Bence, Cegah Balap Liar serta Kejahatan 3C
Kediriselaludihati – -Polsek Pesantren meningkatkan patroli Harkamtibmas dan cipta kondisi di wilayah Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Minggu (4/10/2026) dini hari. Delapan personel diterjunkan ke Simpang Empat RS Baptis dan Simpang Empat Bence mulai pukul 00.10 WIB untuk mengantisipasi balap liar sekaligus mencegah kejahatan 3C.
Patroli dilakukan dengan menempatkan personel pada dua persimpangan yang telah ditentukan. Polisi melakukan pemantauan terhadap aktivitas kendaraan dan situasi lingkungan ketika kondisi jalan mulai lengang.
Kapolsek Pesantren Kompol Siswandi, S.H. mengatakan, kegiatan tersebut difokuskan pada upaya pencegahan terhadap potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat pada malam hingga dini hari.
“Pelaksanaan kegiatan Harkamtibmas, cipta kondisi dan antisipasi balap liar dilakukan guna mencegah 3C serta menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif dan aman,” kata Siswandi, berdasarkan keterangan kegiatan Polsek Pesantren.
Tiga jenis kejahatan yang menjadi perhatian dalam patroli tersebut adalah pencurian dengan pemberatan, pencurian dengan kekerasan dan pencurian kendaraan bermotor.
Di Simpang Empat RS Baptis, empat personel diterjunkan, yakni Iptu Andris, Aiptu Efindra, Aiptu Agus S. dan Aipda Ainul, S.H.
Sementara empat personel lainnya ditempatkan di Simpang Empat Bence, terdiri dari Aiptu M. Rofik, Aiptu Agus Karyono, Aiptu Feri dan Aiptu Aris Tri.
Personel melakukan pemantauan terhadap kendaraan yang melintas sekaligus mengawasi kemungkinan munculnya aktivitas balap liar.
Pengawasan dilakukan sejak dini hari sebagai langkah preventif. Kehadiran polisi di jalan diharapkan dapat mempersempit ruang bagi kelompok yang hendak menggunakan jalan umum untuk adu kecepatan.
Balap liar menjadi salah satu sasaran pencegahan karena aktivitas tersebut berpotensi membahayakan pengendara yang terlibat maupun masyarakat lain yang masih menggunakan jalan.
Selain itu, kondisi sejumlah ruas yang semakin sepi pada dini hari membutuhkan peningkatan kewaspadaan terhadap potensi kejahatan jalanan.
Siswandi menegaskan bahwa patroli diarahkan untuk menjaga kondisi wilayah tetap aman sekaligus mencegah gangguan sebelum berkembang menjadi tindak kriminal maupun gangguan lalu lintas.
“Antisipasi balap liar dilakukan sekaligus untuk mencegah 3C dan menjaga situasi kamtibmas tetap aman,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut tidak dilaporkan adanya balap liar yang ditemukan ataupun kendaraan yang diamankan. Polisi juga tidak melaporkan adanya kejadian 3C selama periode pemantauan.
Dengan demikian, patroli yang dilakukan Polsek Pesantren pada Minggu dini hari tersebut lebih diarahkan sebagai langkah pencegahan.
Polsek Pesantren juga mengingatkan masyarakat, khususnya kalangan remaja, agar tidak menggunakan jalan umum sebagai lokasi balapan.
Selain membahayakan diri sendiri, balap liar dapat mengancam keselamatan pengguna jalan lainnya serta mengganggu masyarakat yang tinggal di sekitar ruas jalan.
Patroli Harkamtibmas dan cipta kondisi akan menjadi bagian dari upaya Polsek Pesantren meningkatkan kehadiran personel pada jam-jam rawan, terutama untuk mencegah balap liar, pencurian kendaraan bermotor dan kejahatan jalanan lainnya di wilayah Kota Kediri. (res/aro)
-
Peristiwa6 years agoNing Sheila Hasina Binti KH Zamzami Lirboyo Juara 1 MHQ 30 Juz , MTQ XIV Kapolda Jatim Cup
-
Peristiwa7 years agoPonpes Tarbiyatul Qur’an Al Falah Ploso Kediri Gelar Haflah dan Wisuda Khatmil Qur’an
-
Kriminal7 years agoJangan Coba Coba Balap Liar di Kota Kediri, Dihukum Dorong Motor Dua Kilometer
-
Uncategorized6 years ago6 Pelatihan Sertifikasi Gada Pratama di Mako Brimob Kediri Terima Anumerta Peserta Terbaik
-
Peristiwa6 years agoPengunjung Pasar Bolawen Kabupaten Kediri Diimbau Jaga Jarak dan Cuci Tangan
-
Peristiwa7 years agoRibuan Umat Muslim Ikuti Pengajian Rutin Malam Rabu Gus Lik Kediri
-
Peristiwa3 years agoInilah Kegiatan Malam Tirakatan Jumat Legi di Gereja Puhsarang
-
Inspirasi7 years agoMengenal Sosok Kasatreskrim AKP I Gusti Agung Ananta
