Lalu Lintas
Kasat Lantas Muda yang Menyatukan Budaya, Teknologi, dan Humanisme di Lalu Lintas
Kediriselalidihati – Di balik berbagai operasi kepolisian, deru sirene patroli, hingga tilang elektronik yang senyap namun tegas, ada sosok perwira muda yang selama lebih dari satu tahun terakhir menjadi wajah lalu lintas di Kota Kediri: AKP Afandy Dwi Takdir, S.T.K., S.I.K. Sejak 30 Agustus 2024 hingga 2 Desember 2025, ia memimpin Satuan Lalu Lintas Polres Kediri Kota dengan pendekatan yang memadukan disiplin, teknologi, dan sentuhan humanis.
Dan kini ia melanjutkan pengabdiannya menjadi Paur Samsat Surabaya Utara Polda Jatim.
Afandy datang ke Kediri membawa jejak panjang dari Bumi Arung Palakka, Bone, Sulawesi Selatan, tempat ia lahir pada 28 Desember 1991. Ia tumbuh dalam keluarga pedagang yang menjunjung tinggi kehormatan dan kerja keras. Ayahnya, Haji Takdir, dan ibunya, Hajah Harjunah, menanamkan nilai bahwa hidup bukan sekadar mencari nafkah, melainkan juga menjaga marwah keluarga dan bermanfaat bagi banyak orang. Sejak kecil, ia akrab dengan dunia perdagangan, karena di keluarganya pedagang bukan sekadar profesi, melainkan warisan.
Menariknya, cita-cita awal Afandy bukan menjadi polisi. Ia justru membayangkan dirinya sebagai pedagang sukses seperti orang tuanya, atau bahkan dokter, melanjutkan mimpi sang ibu yang dulu tak kesampaian. “Pedagang itu turun-temurun. Dalam keluarga kami, pedagang itu bukan pekerjaan, tapi tradisi. Karena itu saya mencari profesi yang berbeda dan lebih pasti, salah satunya menjadi polisi. Polisi bisa berdagang, tapi pedagang belum tentu bisa menjadi polisi,” ujarnya suatu ketika, sembari tersenyum menyebut bahwa takdir justru mempertemukannya dengan istri yang berprofesi sebagai dokter, Harli Pramitasari Nasution.
Di balik pilihan seragam cokelat itu, ada filosofi Bugis–Bone yang kuat. Sejak kecil, Afandy dibesarkan dengan semboyan Mali’ siparappe, tallang sipahua: jika dihanyutkan air, harus diupayakan sampai ke tepian; jika tenggelam, harus diangkat dan diselamatkan. Falsafah ini mengajarinya untuk tidak membiarkan siapapun “tenggelam” sendirian, entah di tengah kesulitan hidup ataupun di jalan raya yang penuh risiko. Ia juga memegang erat nilai sipakatau, sipakalebbi, sipakainge — saling memanusiakan, saling memuliakan, dan saling mengingatkan. Nilai-nilai inilah yang kemudian mewarnai gaya kepemimpinannya sebagai Kasat Lantas: tegas menindak, tetapi tetap menghormati dan mengedukasi.
Jalan Afandy menuju Akademi Kepolisian tidak mulus. Setelah menempuh pendidikan di SD Negeri Lalowosula, SMP Negeri 1 Lappariaja, dan SMA Negeri 1 Ulaweng, ia berulang kali gagal dalam seleksi penerimaan Akpol dan Bintara. Ia mendaftar Akpol tahun 2009, gagal di pantukhir daerah. Tahun 2010 ikut seleksi Akpol dan Bintara, kembali belum berhasil. Tahun 2011 ia mencoba lagi; kali ini, pintu Akpol terbuka. Ia tercatat sebagai alumni pertama SMAN 1 Ulaweng yang berhasil masuk Akpol — sebuah tonggak penting yang mengubah arah hidupnya.
Lulus Akpol, pangkat Inspektur Polisi Dua ia sandang pada 2015. Afandy terus mengasah kapasitasnya dengan melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada 2020. Berbagai penugasan di Brimob, satuan operasi, hingga jabatan fungsional menjadi ruang tempanya. Medan tugas yang keras mengajarkan satu hal: perintah yang paling didengar anggota adalah contoh di lapangan, bukan sekadar instruksi dari balik meja.
Penugasan-penugasannya tak hanya berputar pada lapangan, tetapi juga pada ranah strategi. Pengalaman sebagai perwira di berbagai lini, termasuk tugas intelijen dan peran strategis lain, membentuknya sebagai figur yang terbiasa berpikir sistemik, melihat keamanan bukan hanya dari hilir, tetapi juga dari hulu: budaya, kebijakan, dan perilaku masyarakat.
Ketika dipercaya menjadi Kasat Lantas Polres Kediri Kota pada Agustus 2024, Afandy datang membawa satu gagasan utama: lalu lintas bukan sekadar urusan tilang dan kemacetan, melainkan ekosistem keselamatan manusia. Di bawah kepemimpinannya, Satlantas Polres Kediri Kota menjalankan program unggulan “Polantas Menyapa Kediri Tertib Berlalu Lintas”, sebuah payung besar yang memadukan edukasi, penegakan hukum berbasis teknologi, dan pendekatan humanis.
Di sekolah-sekolah, Afandy dan anggotanya hadir lewat program Police Goes to School, Duta Lalu Lintas, dan Polisi Sahabat Anak. Pelajar diajak memahami bahwa helm bukan aksesori, bahwa larangan berkendara di bawah umur bukan sekadar aturan kaku, melainkan perlindungan bagi mereka sendiri. “Kami ingin keberhasilan itu hadir ketika masyarakat patuh bukan karena diawasi, tetapi karena peduli pada keselamatan bersama,” demikian garis besar pandangannya.
Di sisi lain, penegakan hukum ia dorong lebih modern dan transparan. ETLE statis dan mobile dimanfaatkan secara optimal, dipadukan dengan layanan publik yang diperkuat seperti SIM online, Samsat Keliling, Samsat Drive Thru, Samsat Payment Point, Samsat Corner, hingga layanan di mal pelayanan publik. Baginya, pelayanan yang cepat, jelas, dan manusiawi adalah pintu masuk kepercayaan publik. “Masyarakat berhak mendapat layanan yang modern dan akuntabel. Polisi lalu lintas bukan hanya hadir ketika menindak, tetapi juga ketika melayani dan membantu,” begitu ia sering menekankan kepada anggotanya.
Pemanfaatan teknologi tidak berhenti di ETLE. Melalui Road Traffic Management Center (RTMC), Satlantas Polres Kediri Kota aktif mendukung terwujudnya konsep kota cerdas dan kota aman (smart city dan safe city). Jaringan CCTV di titik-titik strategis digunakan untuk memantau arus lalu lintas secara real time, mengurai kemacetan, dan merespons cepat insiden di jalan. Bagi Afandy, layar-layar RTMC bukan sekadar medium kontrol, tetapi jendela untuk membaca denyut kota.
Sinergi lintas sektor juga menjadi ciri kepemimpinannya. Bersama Dinas Perhubungan, Jasa Raharja, dan komunitas otomotif, Afandy mendorong penataan lalu lintas, penanganan korban kecelakaan, hingga kampanye keselamatan berkendara di berbagai ruang publik. Ia meyakini keselamatan jalan adalah tanggung jawab bersama; Satlantas hanya salah satu aktornya. “Budaya tertib berlalu lintas harus lahir dari kesadaran bersama, bukan semata-mata dari penegakan hukum,” begitu prinsip yang ia pegang.
Tantangan besar datang ketika Kota Kediri menghadapi situasi pasca kerusuhan 30 Agustus 2025. Tekanan tugas meningkat, situasi psikologis masyarakat dan anggota di lapangan ikut terpengaruh. Di tengah situasi itu, Afandy memilih lebih banyak berdiri di garis depan. Ia mendampingi anggota di lapangan, mengatur pengamanan, dan menjaga ritme pengendalian lalu lintas di titik-titik rawan. “Tantangan terberat adalah menjaga semangat anggota di tengah tekanan tugas yang tinggi. Bagi saya, kepemimpinan bukan hanya memberi perintah, tetapi ikut merasakan apa yang dirasakan anggota,” refleksinya.
Di internal, ia mengelola soliditas Satlantas dengan pola kepemimpinan yang dekat, terbuka, dan menumbuhkan rasa dipercaya. Ia mendorong anggotanya melihat setiap tugas bukan sekadar kewajiban struktural, tetapi bentuk pengabdian. Ketika anggota merasa didengar, dihargai, dan didukung, mereka cenderung bekerja dengan hati dan menjaga integritas. Di sisi lain, pelanggaran disiplin tetap ditindak, sebagai pesan bahwa profesionalisme dan kejujuran adalah garis merah yang tidak bisa ditawar.
Selama menjabat, Afandy juga tak menutup mata terhadap fungsi sosial Satlantas. Kegiatan sosial, bakti sosial, donor darah, santunan korban kecelakaan, hingga kampanye keselamatan jalan ia rangkai sebagai bagian dari strategi pembinaan masyarakat. Dalam banyak kesempatan, ia mengingatkan bahwa polisi lalu lintas bukan hanya hadir saat ada pelanggaran, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan uluran tangan.
Puncak ujian kepemimpinannya sebagai Kasat Lantas terlihat jelas dalam pelaksanaan Operasi Zebra Semeru 2025, yang digelar pada 17–30 November 2025. Di bawah komandonya, Operasi Zebra di Kota Kediri bukan hanya menjadi agenda rutin, tetapi dirancang sebagai gerakan besar penyelamatan pengguna jalan. Selama 14 hari, puluhan ribu pelanggaran berhasil ditindak melalui kombinasi ETLE statis, ETLE mobile, teguran, dan tilang manual. Data analisa menunjukkan bahwa pelanggaran tidak memakai helm berstandar SNI, pengendara di bawah umur, pengemudi mobil yang tidak menggunakan sabuk keselamatan, melawan arus, serta pelanggaran lain-lain yang bersifat administratif dan teknis mendominasi catatan pelanggaran.
Afandy berulang kali menegaskan bahwa fokus penindakan diarahkan pada pelanggaran yang berpotensi menimbulkan kecelakaan fatal. Penertiban balap liar, misalnya, menjadi salah satu prioritas. Dalam satu rangkaian kegiatan, puluhan remaja yang terlibat balap liar diamankan, puluhan sepeda motor disita, dan orang tua mereka dipanggil untuk mengikuti pembinaan bersama. “Kami tidak ingin ada korban jiwa karena balap liar. Anak-anak yang terlibat kami bina, kami edukasi bersama orang tuanya. Penindakan harus diiringi pembinaan, agar mereka benar-benar jera dan berubah,” tegasnya.
Di sisi lain, kegiatan preemtif dan preventif selama Operasi Zebra juga diperkuat. Himbauan dan pembagian brosur di simpang-simpang utama, edukasi di sekolah, pemasangan banner di titik strategis, hingga kegiatan Police Goes to School dan Polsanak digelar hampir setiap hari. Satlantas berupaya hadir bukan hanya sebagai penindak, tetapi juga sebagai sahabat masyarakat yang mengingatkan.
Rekap kecelakaan selama periode Operasi Zebra menunjukkan penurunan angka korban meninggal dibanding 14 hari sebelumnya. Meski kecelakaan masih tercatat, tren tersebut menjadi indikator bahwa kombinasi edukasi, pengawasan, dan penegakan hukum memberi dampak nyata. “Operasi Zebra Semeru kami jalankan sebagai langkah menyelamatkan masyarakat. Tujuan akhirnya adalah keselamatan, bukan sekadar angka penindakan,” ujar Afandy dalam evaluasi operasi.
Di balik semua itu, ada narasi panjang tentang identitas budaya yang ia bawa. Sebagai putra Bone, ia tumbuh dalam tradisi yang menjunjung keberanian, kehormatan, dan solidaritas. Ia mengenal kisah La Galigo sebagai epos panjang yang memuat nilai kesetiaan, keberanian, dan hubungan manusia dengan alam dan Yang Ilahi. Ia juga paham betul figur Karaeng Galesong, bangsawan Gowa yang pada abad ke-17 meninggalkan kampung halaman dan ikut berjuang bersama Trunojoyo di tanah Jawa — termasuk di Kediri, dengan pusat kekuasaan yang kala itu berada di kawasan Setono Gedong, tak jauh dari lokasi Mako Satlantas Polres Kediri Kota sekarang.
Bagi Afandy, kisah Karaeng Galesong bukan sekadar catatan sejarah, tetapi semacam cermin takdir. “Karaeng Galesong berasal dari keturunan bangsawan Gowa dan namanya diabadikan sebagai simbol keberanian melawan penjajahan, salah satunya di Kediri. Mungkin ini sudah takdir yang membawa saya ke sini, melanjutkan jejak leluhur kami dalam bentuk pengabdian yang berbeda,” ujarnya suatu ketika.
Dari Bone ke Kediri, dari cita-cita sebagai pedagang menjadi perwira polisi, dari kegagalan seleksi berulang hingga memimpin operasi lalu lintas dalam skala kota, garis hidup Afandy Dwi Takdir memperlihatkan bahwa ketekunan dan nilai-nilai yang dipegang teguh dapat mengubah kegagalan menjadi pijakan. Di penghujung masa tugasnya sebagai Kasat Lantas Polres Kediri Kota, 2 Desember 2025, ia meninggalkan jejak berupa program-program yang masih bisa dilanjutkan, budaya kerja yang menekankan humanisme dan teknologi, serta pesan sederhana yang terus ia ulang: keselamatan di jalan adalah tanggung jawab bersama.
Ia kerap menitipkan pesan kepada warga Kediri: patuhi aturan bukan karena takut petugas, melainkan karena sayang pada diri sendiri dan orang lain. Di tengah hiruk-pikuk kendaraan, peluit, dan sorot kamera CCTV, Afandy ingin Kota Kediri dikenang sebagai kota yang tak hanya tumbuh secara fisik, tetapi juga dewasa dalam budaya tertib berlalu lintas — kota yang benar-benar Sekartaji: selaras, berkaromah, tangguh, dan terpuji. (res/aro)
Lalu Lintas
Jembatan Kaliombo 1 Selesai, Rekayasa Lalu Lintas Dikembalikan dan Jalan Urip Sumoharjo Kembali Normal Pukul 17.00
Kediriselaludihati – Jalan Urip Sumoharjo Kota Kediri kembali dibuka untuk kendaraan setelah proses pengerjaan Jembatan Kaliombo 1 dinyatakan selesai. Pembukaan jalur tersebut dilakukan lebih cepat dari rencana awal setelah dilakukan pengecekan kesiapan oleh sejumlah instansi terkait, Sabtu (22/8/2026).
Pengecekan dilakukan oleh Satlantas Polres Kediri Kota bersama Dinas Perhubungan Kota Kediri, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Jawa Timur, serta pihak pengelola Jembatan Kaliombo 1.
Kanit Turjawali Satlantas Polres Kediri Kota bersama tim melakukan pemeriksaan sejumlah aspek pendukung sebelum jalur kembali digunakan masyarakat, mulai dari kebersihan area jembatan hingga kesiapan pengaturan lalu lintas.
Dalam pengecekan tersebut, petugas memastikan material sisa pekerjaan telah dibersihkan dari sekitar jembatan. Selain itu, dilakukan pengecatan marka jalan sementara di area Jembatan Kaliombo 1 sebagai bagian dari kesiapan keselamatan pengguna jalan.
Kasat Lantas Polres Kediri Kota AKP Tutud Yudho Prastyawan , S.H, M.H mengatakan, pembukaan kembali Jalan Urip Sumoharjo dilakukan setelah seluruh unsur terkait memastikan kondisi jalur siap dilalui kendaraan.
“Pengecekan dilakukan bersama instansi terkait untuk memastikan aspek keselamatan dan kelancaran lalu lintas sebelum jalan dibuka kembali,” ujarnya.
Selain kondisi fisik jalan, Satlantas bersama Dishub juga melakukan penyesuaian kembali sistem lampu lalu lintas di sejumlah persimpangan yang sebelumnya mengalami pengaturan akibat penutupan jalur.
Normalisasi pengaturan lampu lalu lintas dilakukan pada beberapa titik, di antaranya Simpang Empat Alun-Alun, Simpang Empat Baruna, Simpang Empat Tosaren, Simpang Empat Bence, Simpang Empat Kakso, dan Simpang Empat Jetis.
Jalan Urip Sumoharjo rencananya kembali dibuka normal mulai pukul 17.00 WIB, lebih awal dari informasi sebelumnya yang telah disampaikan melalui media sosial.
Dengan dibukanya kembali jalur tersebut, masyarakat pengguna jalan diharapkan dapat kembali beraktivitas dengan lancar. Satlantas Polres Kediri Kota juga mengimbau pengendara tetap memperhatikan rambu lalu lintas dan menjaga keselamatan selama berkendara. (res/aro)
kriminal
Jaga Kondusivitas Akhir Pekan, Patroli Gabungan Polres Kediri Kota Sasar Titik Rawan Aktivitas Anak Muda
Kediriselaludihati – Polres Kediri Kota meningkatkan kegiatan patroli malam melalui Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan (KRYD) untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), khususnya aktivitas anak muda, balap liar, serta penggunaan kendaraan yang tidak sesuai standar teknis.
Kegiatan patroli dan pengamanan simpul titik rawan tersebut dilaksanakan mulai Sabtu (21/8/2026) pukul 00.00 WIB dengan diawali apel kesiapan di Mapolres Kediri Kota.
Patroli dipimpin Kabag Ops Polres Kediri Kota Kompol Iwan Setyo Budhi, S.H., dengan melibatkan personel gabungan dari Sat Samapta, Sat Lantas, Sat Reskrim, Sat Narkoba, Sat Intelkam, serta personel Propam.
Kabag Ops Polres Kediri Kota Kompol Iwan Setyo Budhi mengatakan, kegiatan tersebut merupakan langkah preventif kepolisian untuk menjaga situasi tetap aman, terutama pada waktu malam hingga dini hari yang menjadi perhatian terhadap potensi gangguan kamtibmas.
“Kegiatan ini merupakan upaya pencegahan. Kami hadir di lapangan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat sekaligus mengantisipasi aktivitas yang dapat mengganggu ketertiban umum,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan patroli, petugas melakukan pemantauan di sejumlah titik yang menjadi simpul aktivitas masyarakat, terutama lokasi yang berpotensi digunakan untuk kegiatan anak muda pada malam hari.
Selain melakukan pengawasan situasi, petugas juga memberikan perhatian terhadap kendaraan yang tidak memenuhi persyaratan teknis, seperti penggunaan knalpot tidak sesuai standar atau kendaraan dengan perubahan spesifikasi yang berpotensi mengganggu kenyamanan masyarakat.
Menurut Kompol Iwan, pendekatan yang dilakukan dalam kegiatan tersebut tetap mengedepankan tindakan humanis dan persuasif, dengan tujuan menciptakan kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga keamanan lingkungan.
“Kami mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tetap menjaga ketertiban. Ruang berkumpul dan berekspresi tetap ada, tetapi harus dilakukan dengan cara yang tidak mengganggu pengguna jalan maupun warga lainnya,” katanya.
Kegiatan KRYD tersebut menjadi bagian dari komitmen Polres Kediri Kota dalam menjaga stabilitas keamanan wilayah, terutama pada malam akhir pekan ketika aktivitas masyarakat meningkat. (res/aro)
kriminal
Libatkan TNI dan Instansi Terkait, Patroli Gabungan Polres Kediri Kota Sasar Titik Rawan Keamanan

Kediriselaludihati – Polres Kediri Kota menggelar apel dan patroli gabungan skala besar sebagai upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah hukumnya, Jumat (21/8/2026) malam.
Kegiatan yang dimulai pukul 19.00 WIB tersebut berlangsung dari halaman Mapolres Kediri Kota dan melibatkan personel gabungan dari berbagai satuan fungsi kepolisian serta unsur TNI dan pemerintah daerah.
Patroli skala besar tersebut dilakukan untuk mengantisipasi berbagai potensi gangguan keamanan, seperti aksi tawuran, balap liar, konvoi kelompok perguruan, maupun aktivitas masyarakat yang berpotensi menimbulkan gangguan ketertiban umum.
Kabag Ops Polres Kediri Kota Kompol Iwan Setyo Budhi, S.H. mengatakan, kegiatan patroli gabungan merupakan langkah preventif kepolisian untuk memastikan situasi wilayah tetap aman sekaligus memberikan rasa nyaman kepada masyarakat.
“Patroli ini merupakan bentuk kehadiran kepolisian bersama unsur terkait di tengah masyarakat. Kami melakukan pemantauan secara langsung di sejumlah titik untuk mencegah potensi gangguan kamtibmas,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, personel yang terlibat berasal dari Sat Samapta, Sat Intelkam, Sat Lantas, Sat Reskrim, Sat Narkoba, Provost, serta personel pendukung lainnya.
Selain dari jajaran Polres Kediri Kota, kegiatan juga melibatkan unsur satuan samping, yakni Subdenpom Kediri, Kodim 0809 Kediri, dan Dinas Perhubungan Kota Kediri sebagai bentuk sinergi antarinstansi dalam menjaga keamanan wilayah.
Patroli menyusuri sejumlah jalur yang menjadi pusat aktivitas masyarakat, mulai dari kawasan Bundaran Sekartaji, Jalan Jaksa Agung Suprapto, Mataram Barat, Jalan Gatot Subroto, Simpang Empat Mrican, Simpang Empat Banyakan, kawasan Jalan Imigrasi, Pasar Gringging, PG Mrican, Semampir, Mayor Bismo, Kantor Pos, Simpang Tiga Kodim, kawasan Water Torn, Burengan, Terminal Lama, Alun-Alun Kota Kediri, Bandar Ngalim, hingga kembali ke Mapolres Kediri Kota.
Selama kegiatan berlangsung, petugas melakukan pemantauan situasi serta memastikan aktivitas masyarakat berjalan dengan tertib.
Kompol Iwan menambahkan, keamanan wilayah merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, kepolisian terus mengajak masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan masing-masing dan segera melaporkan apabila menemukan potensi gangguan keamanan.
“Kami berharap masyarakat tetap beraktivitas dengan tertib dan bersama-sama menjaga Kota Kediri tetap aman dan nyaman,” katanya.
Melalui kegiatan patroli rutin dan sinergi lintas sektor tersebut, Polres Kediri Kota berkomitmen menjaga stabilitas keamanan sekaligus memperkuat kehadiran polisi di tengah masyarakat. (res/aro)
-
Peristiwa6 years agoNing Sheila Hasina Binti KH Zamzami Lirboyo Juara 1 MHQ 30 Juz , MTQ XIV Kapolda Jatim Cup
-
Peristiwa7 years agoPonpes Tarbiyatul Qur’an Al Falah Ploso Kediri Gelar Haflah dan Wisuda Khatmil Qur’an
-
Kriminal7 years agoJangan Coba Coba Balap Liar di Kota Kediri, Dihukum Dorong Motor Dua Kilometer
-
Uncategorized6 years ago6 Pelatihan Sertifikasi Gada Pratama di Mako Brimob Kediri Terima Anumerta Peserta Terbaik
-
Peristiwa6 years agoPengunjung Pasar Bolawen Kabupaten Kediri Diimbau Jaga Jarak dan Cuci Tangan
-
Peristiwa6 years agoRibuan Umat Muslim Ikuti Pengajian Rutin Malam Rabu Gus Lik Kediri
-
Peristiwa3 years agoInilah Kegiatan Malam Tirakatan Jumat Legi di Gereja Puhsarang
-
Inspirasi7 years agoMengenal Sosok Kasatreskrim AKP I Gusti Agung Ananta
