Connect with us

Peristiwa

Laboratorium Sosial Dalam Pemolisian berbasis riset dan keilmuan

Published

on

Goldstein dalam bukunya Problem Oriented Policing (1979), mengkritik Polisi dalam menjalankan tugas Pokok nya sering terjebak pada tindakan reaktif.
Dalam beberapa kajian tugas Polisi sebaiknya reflektif. Reflektif dari Masyarakat yang dilayaninya. kaonsep pelaksanaan tugas Polisi terkandung beberapa hal yang sangat demokratis bagi stake holdernya, karena di dalam sifat pelaksanaan tugas yang reflektif, terkandung rasa empati, adanya perasaan sebagai bagian dari lingkungannya, sehingga akan lebih bersifat humanis dan sesuai dengan keinginan masyarakat bagai mana seharusnya menjalankan tugas dalam melindungi dan melayani masyarakat yang diejawantahkan dalam bentuk kegiatan melindungi, mengayomi, melayani dan penegakan hukum.

Di era kekinian, era dimana kebebasan masyarakat perlu dilindungi, kemajuan IT terus melesat, penggerusan kearifan lokal yang semakin ekstrim, dan berdampak pada perubahan budaya serta karakter bangsa, di butuhkan penjaminan kebebasan dan kemanan yang reflektif serta prediktif.

Polisi dan pemolisiannya perlu mengembangkan dan menyesuaikan gaya Pemolisian agar adaptif dengan dinamika yang terjadi. Oleh karenanya Polisi perlu asupan dan suplay yang bersifat kekinian utamanya yg bersumber keilmuan, riset dan keakademian.
————
Polisi dan Laboratorium Sosial.

Laboratorium sosial adalah ruang, baik fisik maupun konseptual, yang dirancang untuk mengamati, meneliti, dan bereksperimen dengan dinamika sosial, perilaku masyarakat, serta solusi atas tantangan sistemik. Wadah ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk berkolaborasi, menciptakan inovasi sosial, dan menguji solusi dalam dunia nyata. 

Ilmu Kepolisian.

Ilmu kepolisian adalah Ilmu Sosial yang bersifat interdisipliner yang mempelajari fungsi, peran, dan lembaga kepolisian dalam upaya pencegahan kejahatan, dan penanggulangan serta penyelesaiannya, memelihara keamanan, ketertiban umum, serta penegakan hukum. Ilmu ini mengintegrasikan berbagai cabang ilmu seperti kriminologi, hukum, sosiologi, antropologi, psikologi, dan forensik, dan sebagainya untuk memahami pemolisian, perilaku kepolisian, dan penanganan masalah sosial untuk mewujudkan keteraturan sosial. (Suparlan, 2001).
Karena ruangnya yang berada dilingkungan sosial, maka Polisi perlu didikung, Berbagai ilmu pengetahuan melalui riset, kajian dan dukungan keakademian untuk melaksanakan tugas pemolisian. Karenanya Polisi Perlu laboratorium
Sosial.

Polisi perlu laboratorium sosial karena tugas kepolisian saat ini tidak hanya berfokus pada penegakan hukum konvensional (penindakan), tetapi juga pada upaya preventif (pencegahan) dan preemtif yang berbasis sosiologis dan humanis, yang bersifat Reflektif bukan reaktif.
Laboratorium sosial berfungsi sebagai pusat analisis perilaku, dinamika, dan konflik sosial di masyarakat untuk menciptakan keamanan yang lebih efektif. 
Beberapa alasan utama mengapa polisi memerlukan laboratorium sosial.

Deteksi dan mintigasi Konflik Sosial.

Laboratorium sosial memungkinkan polisi untuk memetakan wilayah rawan, mengidentifikasi potensi konflik, dan menganalisis akar permasalahan sebelum kekerasan fisik pecah.

Pemecahan masalah Sosial.

Polri dituntut menjadi problem solver(penyelesai masalah) dalam konflik sosial masyarakat, bukan sekadar penindak hukum.
Permasalahan yang timbul dalam masyarakat, pada dasarnya kunci penyelesaian nya juga ada dalam masyarakat itu sendiri. namun perlu pihak yang dapat menjembatani, Polisi yang berada dalam ruang masyarakat sosial adalah “Ilmuwan Sosial” yang berada dalam laboratorium sosial. keberadaannya merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam masyarakat itu sendiri (Living laboratory). keberadaan di ruang sosial diharapkan dapat menumbuhkan kedekatan dg lingkungannya sehingga mampu melakukan berbagai pendekatan saat terjadi permasalahan sosial. Pendekatan sosial membantu polisi menemukan solusi yang lebih humanis dan kolaboratif.

Memahami Dinamika Komunitas.

Dengan metode laboratorium sosial, polisi dapat mempelajari perilaku masyarakat, budaya lokal, dan struktur sosial untuk mempermudah pendekatan kepada berbagai komunitas (community policing).

Rekomendasi berbasis Riset dan analisis Akademik

Hasil analisis dari laboratorium sosial memberikan data empiris yang akurat bagi kepolisian untuk merancang strategi operasional yang tepat sasaran, yang didasarkan pada karakteristik wilayah, bukan sekadar asumsi.
Hasil Riset , pengujian dan analisis dari laboratorium sosial dapat memberikan rekomendasi berdasarkan fenomena dan gejala empiris. sehingga pengambil kebijakan akan dapat mengambil keputusan dan langkah yang tepat

Meningkatkan Profesionalisme
Pendekatan sosiologis membantu anggota Polri meningkatkan profesionalisme, khususnya dalam menangani konflik yang kompleks, sehingga pelayanan, perlindungan, dan pengayoman masyarakat menjadi lebih Humanis dan reflektif.

Menjawab tantangan Tugas Kepolisian.

Dalam rangka tindaklanjut transformasi Polri agar lebih Profesional dan humanis pelaksanaan tugas dan menyiapkan calon anggota Polisi dalam Proses pendidikan, keberadaan Laboratorium Sosial bagi Polisi dapat menjadi salah satu alternatif dan jawaban bagaimana menyiapkan yang Profesional dan Humanis.

Polri saat ini sedang merencanakan dan membangun Laboratorium Sosial Kepolisian dan Pusat Studi Kepolisian dengan bekerja sama dengan berbagai Perguruan tinggi di Indonesia baik Perguruan Tinggi Negeri Maupun Perguruan tinggi Swasta di Seluruh Indonesia. Saat ini telah ditandatangani 74 (tujuh puluh empat) Nota Kesepahaman antara Polri dengan PTN dan PTS.
keberadaan lembaga ini diharapkan dapat medorong percepatan terwujudnya Profesionalisme Polri dan model pemolisian berbasis Riset dan kajian Akademik.

Laboratorium Sosial sebaiknya jangan hanya dipahami dalam pengertian teknis semata, tetapi perlu dipahami sebagai ruang hidup atau “living Laboratory”. Tempat dimana Calon Polisi belajar memahami, mengalami, dan merefleksikan realitas kehidupan sosial, sehingga saat bertugas reflektif terhadap perkembangan dan permasalahan sosial sehingga lebih mengedepankan empati dan simpati saat bertugas dalam mewujudkan keteraturan sosial.

Keberadaan Laboratorium
sosial, merupakan salah satu implementasi dari Democratic Policing, dimana Polisi dalam melakukan pemolisiannya harus mengakomodir stake holdernya agar tidak kontraproduktif dalam melaksanakan tugas pokoknya.

Str’90

Irjen Pol. Dr. Susilo Teguh Raharjo, M.Si. Dosen Utama STIK Lemdiklat Polri

Continue Reading

Lalu Lintas

Aksi Humanis Anggota Satlantas Jadi Wujud Pelayanan di Jalan Raya

Published

on

Kediriselaludihati – Aksi sigap ditunjukkan anggota Satuan Lalu Lintas Polres Kediri Kota saat membantu seorang pengendara motor yang mengalami kendala di tengah jalan, Senin (30/3/2026) pagi.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 07.30 WIB di kawasan Jembatan Brawijaya, salah satu jalur utama di Kota Kediri. Saat itu, Aiptu Agung Broto, anggota Turjawali Satlantas Polres Kediri Kota, tengah melaksanakan patroli usai kegiatan pengaturan lalu lintas pagi.

Ketika melintas di lokasi, ia melihat seorang pengendara mendorong sepeda motor di atas jembatan. Setelah dihampiri, diketahui kendaraan tersebut mengalami kerusakan pada bagian rantai yang terlepas.

Tanpa menunggu lama, petugas langsung membantu memperbaiki rantai motor tersebut hingga kembali terpasang dengan baik. Setelah diperbaiki, kendaraan dapat digunakan kembali oleh pengendara.

Kasatlantas Polres Kediri Kota AKP Tutud Yudho Prastyawan, S.H., mengatakan bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari pelayanan kepolisian kepada masyarakat, khususnya di jalan raya.

“Anggota di lapangan tidak hanya bertugas mengatur lalu lintas, tetapi juga memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kehadiran polisi di jalan diharapkan dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengguna jalan, sekaligus menjadi solusi cepat ketika terjadi kendala di lapangan.

Aksi sederhana tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat sekitar, karena dinilai mencerminkan kepedulian dan respons cepat aparat kepolisian dalam membantu warga.

Kegiatan patroli dan pelayanan di jalan raya, lanjut Yudho, akan terus ditingkatkan guna mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di wilayah Kota Kediri. (res/aro)

Continue Reading

Inspirasi

Sinergi TNI, Pemda, dan Masyarakat Dinilai Kunci Kelancaran Arus Mudik dan Lebaran

Published

on

Kediriselaludihati – Kapolres Kediri Kota AKBP Anggi Saputra Ibrahim menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Operasi Ketupat Semeru 2026 serta kegiatan rutin yang ditingkatkan (KRYD) di wilayah hukum Polres Kediri Kota.

Apresiasi tersebut ditujukan kepada unsur TNI, pemerintah daerah, instansi terkait, serta seluruh elemen masyarakat yang dinilai telah berperan aktif dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), khususnya selama arus mudik dan perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Menurut Kapolres, keberhasilan pengamanan Lebaran tahun ini tidak lepas dari solidnya koordinasi dan sinergi lintas sektor. Hal itu terlihat dari kondisi arus mudik dan balik yang berjalan relatif lancar, serta minimnya gangguan keamanan selama periode operasi.

“Keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama dan komitmen bersama seluruh stakeholder dalam memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat,” ujarnya, Senin (30/3/2026).

Ia menambahkan, selain Operasi Ketupat Semeru, kegiatan rutin yang ditingkatkan (KRYD) juga turut berkontribusi dalam menjaga stabilitas kamtibmas di Kota Kediri selama momentum Lebaran.

Kapolres berharap, sinergitas yang telah terbangun dengan baik tersebut dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan di masa mendatang. Dengan demikian, situasi keamanan di wilayah Kota Kediri tetap terjaga dalam kondisi aman, tertib, dan kondusif.

“Kolaborasi ini harus terus dijaga agar ke depan kita semakin siap menghadapi berbagai tantangan kamtibmas,” katanya.

Ia juga menegaskan komitmen Polres Kediri Kota untuk terus hadir di tengah masyarakat, memberikan pelayanan terbaik, serta menjaga stabilitas keamanan demi mendukung aktivitas masyarakat yang aman dan lancar. (res/aro)

Continue Reading

Inspirasi

Silaturahmi dengan 60 Kades Jadi Momentum Perkuat Deteksi Dini dan Sinergi Kamtibmas

Published

on

Kediriselaludihati – Kapolres Kediri Kota AKBP Anggi Saputra Ibrahim, S.H, S.IK, M.H mengajak para kepala desa untuk menghidupkan kembali pengamanan swakarsa (pam swakarsa) sebagai upaya memperkuat keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di tingkat desa.

Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan silaturahmi dan halal bihalal bersama paguyuban kepala desa se-Kabupaten Kediri yang digelar di kawasan Bandar Waroeng, Kecamatan Banyakan, Senin (30/3/2026).

Kegiatan yang berlangsung sekitar satu jam itu dihadiri jajaran pejabat utama Polres Kediri Kota, para kapolsek, lima camat wilayah hukum, serta sekitar 60 kepala desa. Turut hadir Wakapolres Kediri Kota Kompol Putu Gede Caka Pratyaksa, Kabag Ops Kompol Iwan Setyo Budhi, serta sejumlah kasat fungsi.

Dalam sambutannya, Kapolres menekankan pentingnya peran desa sebagai garda terdepan dalam menjaga stabilitas keamanan. Menurut dia, tantangan kamtibmas ke depan semakin kompleks sehingga membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.

“Melalui momentum silaturahmi ini, kami mengajak seluruh kepala desa untuk kembali mengaktifkan pam swakarsa sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pam swakarsa merupakan bagian dari strategi perpolisian masyarakat (polmas) yang berbasis pada kesadaran dan partisipasi warga. Sistem ini dinilai efektif sebagai upaya deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan di tingkat akar rumput.

Menurut Kapolres, keberadaan pam swakarsa dapat menjadi penguat peran kepolisian, terutama dalam hal penyampaian informasi serta pencegahan dini terhadap konflik sosial maupun tindak kriminal.

“Pam swakarsa berfungsi sebagai ‘force multiplier’ bagi Polri. Dengan keterbatasan jumlah personel, peran masyarakat menjadi sangat penting dalam menciptakan situasi yang aman dan kondusif,” katanya.

Selain itu, Kapolres juga mendorong peningkatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan serta penguatan sistem komunikasi yang cepat dan efektif antara warga, perangkat desa, dan aparat kepolisian.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keamanan markas kepolisian sebagai simbol kehadiran negara. Untuk itu, sinergi antara kepala desa, camat, dan kapolsek dinilai krusial dalam menjaga stabilitas wilayah.

“Kami berharap ada sistem pelaporan cepat jika muncul potensi gangguan, sehingga bisa segera ditangani sebelum berkembang,” ujarnya.

Sementara itu, Camat Tarokan Suharsono dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai silaturahmi antara Polri dan pemerintah desa menjadi langkah strategis dalam memperkuat koordinasi dan komunikasi.

“Momentum Syawal ini semoga semakin mempererat hubungan dan sinergi antara Polri dengan pemerintah desa,” katanya.

Kegiatan diawali dengan registrasi dan pembukaan, dilanjutkan sambutan, sesi tanya jawab, doa bersama, serta diakhiri dengan ramah tamah. Seluruh rangkaian acara berlangsung dalam suasana tertib, aman, dan kondusif.

Polres Kediri Kota berharap sinergi yang terbangun melalui kegiatan ini dapat menjadi fondasi kuat dalam menciptakan lingkungan yang aman, tertib, dan harmonis di wilayah Kediri. (res/aro)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 kediriselaludihati.com

You cannot copy content of this page