Peristiwa
Polsek Kediri Kota Patroli Harkamtibmas ke Timur Stadion Brawijaya
Kediriselaludihati.com – Polsek Kediri Kota melaksanakan Patroli Harkamtibmas diwilayah hukumnya. Kegiatan pada Hari Jum,at 17 Maret 2023 pukul 22.00 WIB s.d selesai.
Tempat kegiatan, di Perbatasan Tepus Kota Kediri, Timur Stadion Brawijaya Jalan A. Yani Kota Kediri. Pintu Barat Stadion Brawijaya Kota Kediri.
Sepanjang Jalan PK. Bangsa Kota Kediri. Bank Jatim Kota Kediri.Cafe Okui Jalan PK. Bangsa Kota Kediri. SPBU Semampir Jalan Mayor Bismo Kota Kediri. ATM BNI Jalan Mayor Bismo Kota Kediri dan Indomaret Semampir Jalan Mayor Bismo Kota Kediri.
Jumlah personil, Iptu Henry Mudi Y . S.H.,MH. ( Pawas ), Iptu Sumarsongko, S.H. ( Padal ). Aiptu April Prasetyo SH.,MH. Aipda Sony Andian, SH.
M, Aipda Taufik Hidayat SH. Bripka I Gede Arya, SH.
Petugas melaksanakan Patroli Harkamtibmas, menjelang pelaksanaan Liga 1 BRI antara Persik Kediri dengan Persebaya Surabaya.
“Kegiatan Patroli Berlangsung Tertib, Aman dan lancar,” kata Kapolsek Kediri Kota Kompol Mustakim, S.H. (res/an).
Peristiwa
Pengamanan Dilakukan di Permukiman, Perbankan hingga Pusat Perbelanjaan
Kediriselaludihati – Personel Pos Pengamanan (Pospam) II Bence Polres Kediri Kota mengintensifkan patroli keamanan pada dini hari sebagai bagian dari pelaksanaan Operasi Ketupat Semeru 2026, Minggu (15/3/2026).
Kegiatan patroli dilakukan oleh Regu II yang mulai bertugas sekitar pukul 02.00 WIB di wilayah hukum Polsek Pesantren dan sekitarnya. Patroli menyasar sejumlah titik yang dinilai memiliki potensi kerawanan, seperti objek vital, kawasan permukiman warga, pusat perbelanjaan, hingga area perbankan dan mesin ATM.
Selain itu, personel juga melakukan pemantauan di sekitar pos pengamanan serta patroli di sejumlah titik yang berpotensi menimbulkan kepadatan lalu lintas. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap terjaga selama pelaksanaan operasi.
Patroli dini hari ini merupakan bagian dari upaya preventif kepolisian dalam mengantisipasi potensi gangguan keamanan, terutama meningkatnya aktivitas masyarakat selama bulan Ramadhan serta menjelang perayaan Idul Fitri.
Sementara itu, pengamanan juga dilakukan di Pos Pengamanan III Terminal Baru Tamanan oleh Regu II yang bertugas mulai pukul 00.00 WIB. Kegiatan pengamanan dipimpin oleh Kapospam AKP Wasis Suprianto bersama Padal IPTU Agung Sukotjo dan sejumlah personel gabungan dari berbagai instansi.
Sebanyak 12 personel gabungan terlibat dalam pengamanan di pos tersebut, terdiri dari anggota Polri, TNI, Satpol PP, petugas kesehatan, Dinas Perhubungan, serta unsur Linmas.
Dalam kegiatan tersebut, personel melakukan pemantauan situasi keamanan di sekitar kawasan Terminal Baru Tamanan yang menjadi salah satu titik penting mobilitas masyarakat. Pengawasan juga dilakukan terhadap aktivitas masyarakat dan arus lalu lintas di sekitar kawasan terminal.
Kegiatan di Pos Pam III Terminal Baru Tamanan juga mendapat supervisi langsung dari Kabag Ops dan Kasat Samapta Polres Kediri Kota guna memastikan pelaksanaan pengamanan berjalan optimal.
Seluruh rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Operasi Ketupat Semeru 2026 yang berlangsung selama 13 hari, mulai 13 hingga 25 Maret 2026. Operasi ini digelar untuk menjamin keamanan dan kenyamanan masyarakat selama bulan Ramadhan serta menjelang perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah.
Dalam operasi tersebut, kepolisian mengedepankan langkah preemtif dan preventif melalui patroli, penjagaan pos pengamanan, pengaturan arus lalu lintas, hingga pengawasan terhadap objek vital dan pusat keramaian.
Selain itu, operasi ini juga bertujuan menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif serta memastikan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas selama meningkatnya mobilitas masyarakat.
Selama kegiatan patroli dan pemantauan berlangsung di Pospam II Bence maupun Pos Pam III Terminal Baru Tamanan, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat dilaporkan dalam kondisi aman, tertib, dan kondusif. (res/aro)
Lalu Lintas
Kasat Lantas: Antisipasi Kepadatan Lalu Lintas Selama Operasi Ketupat Semeru 2026
Kediriselaludihati – Satuan Lalu Lintas Polres Kediri Kota mengintensifkan patroli di sejumlah objek vital, pusat perbelanjaan, serta kawasan parkir di wilayah Kota Kediri, Minggu (15/3/2026). Kegiatan ini dilakukan oleh Tim Urai Kamseltibcarlantas sebagai bagian dari pengamanan Operasi Ketupat Semeru 2026.
Patroli dimulai sekitar pukul 16.00 WIB dengan menyasar sejumlah lokasi yang menjadi pusat aktivitas masyarakat. Kegiatan tersebut dipimpin oleh Kanit Turjawali Satlantas Polres Kediri Kota bersama anggota Tim Urai Kamseltibcarlantas.
Dalam patroli tersebut, petugas melakukan pemantauan di berbagai objek vital, kawasan mal atau pusat perbelanjaan, serta area parkir yang berpotensi menimbulkan kepadatan lalu lintas maupun pelanggaran lalu lintas.
Kehadiran personel di lapangan bertujuan untuk mengantisipasi kemacetan serta menjaga keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di wilayah hukum Polres Kediri Kota.
Kasat Lantas Polres Kediri Kota AKP Tutud Yudho Prastyawan mengatakan patroli Tim Urai Kamseltibcarlantas merupakan langkah preventif untuk menjaga kondisi lalu lintas tetap aman dan lancar selama meningkatnya aktivitas masyarakat di bulan Ramadhan.
“Patroli ini kami lakukan untuk memantau objek vital, pusat perbelanjaan, serta titik-titik yang berpotensi terjadi kepadatan arus lalu lintas. Kehadiran petugas di lapangan diharapkan dapat memberikan rasa aman dan memastikan lalu lintas tetap tertib dan lancar,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Operasi Ketupat Semeru 2026 yang dilaksanakan selama 13 hari, mulai 13 hingga 25 Maret 2026.
Operasi tersebut bertujuan untuk menjamin keamanan dan kenyamanan masyarakat selama bulan Ramadhan serta menjelang perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah. Selain itu, operasi ini juga difokuskan untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif serta memastikan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas selama periode mudik dan aktivitas masyarakat meningkat.
Dalam pelaksanaannya, Operasi Ketupat Semeru 2026 mengedepankan langkah preemtif dan preventif dengan melibatkan sinergi antara kepolisian, TNI, pemerintah daerah, serta berbagai instansi terkait lainnya.
Selama kegiatan patroli berlangsung, situasi di sejumlah lokasi yang menjadi sasaran pemantauan terpantau aman, tertib, dan kondusif. Arus lalu lintas di wilayah Kota Kediri juga dilaporkan berjalan lancar tanpa adanya gangguan yang berarti.
Polres Kediri Kota memastikan kegiatan patroli dan pemantauan akan terus dilakukan secara rutin selama Operasi Ketupat Semeru 2026 guna memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang beraktivitas selama bulan Ramadhan. (res/aro)
Inspirasi
Terakhir Direvitalisasi 1976, Jembatan Lama Kediri Dinilai Sudah Saatnya Dirawat Total

Kediriselaludihati – Jembatan Lama Kota Kediri atau Brug over den Brantas te Kediri genap berusia 157 tahun pada 18 Maret 2026 sejak pertama kali dioperasikan sebagai bagian dari jalur Groote Postweg (jalan raya) pada masa pemerintahan kolonial Belanda, tepatnya pada 18 Maret 1869.
Untuk memperingati momen bersejarah tersebut, sejumlah pemerhati budaya dan sejarah yang mengatasnamakan Juru Wotan menggelar peringatan hari jadi Jembatan Lama pada 14 Maret 2026 di kawasan jembatan tersebut.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Imam Mubarok, peneliti sejarah Jembatan Lama Kediri sekaligus pemerhati cagar budaya.
Menurut Mubarok, pelaksanaan peringatan dimajukan dari tanggal sebenarnya karena 18 Maret 2026 berdekatan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, sehingga banyak pihak diperkirakan telah memasuki masa persiapan hari raya.
“Karena tanggal 18 Maret tahun ini berdekatan dengan Idul Fitri, maka peringatan ulang tahun jembatan dimajukan menjadi 14 Maret agar masyarakat tetap dapat mengikuti kegiatan dengan baik,” ujar Imam Mubarok yang akrab disapa Gus Barok.
Acara tersebut dihadiri Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, S.H., M.Kn, Wakil Wali Kota Qowimuddin Thoha, Wakapolres Kediri Kota Kompol Putu Gde Caka Pratyaksa Ratsuko, S.I.K., M.I.K., Mayor Inf. Ngatari selaku Pabung Kodim 0809 Kediri, jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Kota Kediri, Dewan Kebudayaan Daerah Kota Kediri, serta sejumlah pegiat sejarah dari berbagai daerah.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan, Jembatan Lama bukan sekadar penghubung wilayah di atas Sungai Brantas, melainkan juga bagian penting dari sejarah dan identitas Kota Kediri.
Menurut dia, jembatan yang telah berdiri lebih dari satu setengah abad itu menjadi saksi perkembangan kehidupan masyarakat sekaligus perjalanan budaya di Kota Kediri.
“Jembatan Lama ini bukan hanya sekadar jembatan yang menghubungkan dua wilayah, tetapi juga menjadi saksi perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat Kota Kediri. Karena itu, momentum peringatan ini bukan hanya untuk mengenang sejarah, tetapi juga merawat warisan yang telah menjadi identitas kota,” ujarnya.
Peluncuran Tenun Ikat Motif Jembatan Lama
Selain selamatan ulang tahun ke-157, peringatan ini juga dirangkaikan dengan peluncuran tenun ikat Bandar bermotif Jembatan Lama karya perajin tenun ikat asal Bandar Kidul, Slamet Sugiyanto dari Palugada.
Tenun ikat dengan motif Jembatan Lama tersebut kemudian dikenakan dan diperagakan oleh para penari dalam pertunjukan seni yang menjadi bagian dari rangkaian acara.
Para penari dari Sanggar Tari Gondho Arum membawakan tarian Beksan Mangu-Mangu dengan iringan musik karya Saras Swara Indonesia.
Tarian ini mengandung pesan moral yang mengingatkan manusia agar senantiasa menjalankan kewajiban beribadah serta menghargai sesama dalam kehidupan bermasyarakat.
Jembatan Besi Pertama di Jawa
Jembatan Lama Kediri dikenal sebagai salah satu karya teknik penting pada abad ke-19. Struktur jembatan ini menggunakan konstruksi besi yang ditopang oleh tiang sekrup yang ditanam di dasar Sungai Brantas.
“Jembatan di atas Sungai Brantas di Kediri ini merupakan jembatan besi pertama di Jawa, bahkan di dunia pada masa itu, dan dianggap sebagai adikarya teknik oleh insinyurnya, Sytze Westerbaan Muurling,” kata Imam Mubarok yang juga Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur, Sabtu (14/3).
Ia menambahkan, usia jembatan tersebut bahkan lebih tua dibandingkan Jembatan Brooklyn di Amerika Serikat yang selesai dibangun pada 1883 dan menghubungkan Manhattan dengan Brooklyn di New York City melintasi Sungai East.
Menurut Mubarok—yang akrab disapa Gus Barok—status Jembatan Lama Kediri sebagai cagar budaya peringkat nasional menuntut adanya pengelolaan yang sesuai dengan ketentuan hukum.
“Karena sudah menjadi cagar budaya peringkat nasional, pemanfaatan jembatan harus mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Tidak boleh digunakan sembarangan untuk kepentingan pribadi, instansi, partai politik, maupun organisasi kemasyarakatan,” ujarnya.
Ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional
Pada tahun 2022, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim menetapkan 15 cagar budaya peringkat nasional pada periode Januari hingga Oktober 2022.
Kelima belas cagar budaya tersebut terdiri atas empat benda cagar budaya, satu struktur cagar budaya, lima bangunan cagar budaya, serta lima situs cagar budaya yang tersebar di lima provinsi di Indonesia.
Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Mendikbudristek Nomor 58/M/2022, 59/M/2022, 60/M/2022, 61/M/2022, dan 145/M/2022.
Salah satu yang termasuk dalam daftar tersebut adalah Jembatan Lama Kota Kediri yang berada di Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Data mengenai sejarah pembangunan jembatan ini diperoleh Imam Mubarok dari berbagai sumber primer, termasuk buku Belanda berjudul Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek. Ia juga mendapat bantuan dari Olivier Johanes, pengamat budaya Indonesia di Belanda, dalam menelusuri sejarah panjang jembatan yang hingga kini masih berfungsi dengan baik.
Sebagai penghubung wilayah barat dan timur Kota Kediri, jembatan ini sejak awal memiliki peran strategis. Pada masa lalu, jembatan tersebut bahkan menjadi satu-satunya jalur penghubung transportasi antara wilayah Madiun dan Surabaya.
Dimensi dan Sejarah Penetapan
Jembatan Lama Kediri memiliki panjang 160 meter, lebar 5,80 meter, dan tinggi 7,50 meter dari permukaan air Sungai Brantas.
Jembatan ini ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 12 Maret 2019. Penetapan tersebut kemudian diperkuat melalui keputusan Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar pada 18 Maret 2019, bertepatan dengan peresmian Jembatan Brawijaya Kediri.
Sebelumnya, sejak 2015, Jembatan Lama Kediri telah tercatat sebagai objek diduga cagar budaya (ODCB). Penelitian terhadap berbagai sumber sejarah, baik dari Indonesia maupun Belanda, telah dilakukan oleh Imam Mubarok sejak 1 Maret 2013.
Sosok Insinyur di Balik Pembangunan
Dari sisi sejarah teknik, Jembatan Lama Kediri merupakan karya insinyur Belanda Sytze Westerbaan Muurling.
Ia lahir di Belanda pada 29 November 1836 dan meninggal dunia di Batavia pada 17 Oktober 1876. Muurling merupakan putra dari Dr. W. Muurling, seorang pendeta sekaligus profesor teologi.
Muurling menempuh pendidikan dasar di sekolah Austria sebelum melanjutkan pendidikan menengah. Ia sempat mengambil jurusan hukum di Groningen, namun terpaksa berhenti karena sakit.
Setelah pulih, pada 1854 ia mengikuti ujian masuk Royal Academy di Delft dan berhasil meraih gelar insinyur sipil pada 1859. Pada 4 Februari 1860, ia kemudian ditugaskan oleh Menteri Koloni Belanda untuk bekerja di kantor Direktur Pekerjaan Umum di Hindia Belanda.
Bertahan dari Banjir hingga Perang
Sejumlah foto dalam koleksi Kediri’s Photograph Museum di Jalan Kapten Tendean 66, Ngronggo, menunjukkan betapa tangguhnya konstruksi jembatan ini.
Jembatan tersebut beberapa kali diterjang derasnya arus Sungai Brantas. Banjir paling parah tercatat terjadi pada 1954 yang merobohkan pagar jembatan. Namun struktur utama jembatan tetap kokoh dan tidak bergeser sedikit pun.
Jembatan ini juga pernah menjadi bagian dari perayaan kerajaan Belanda ketika Putri Juliana menikah dengan Pangeran Bernhard pada 7 Januari 1937. Saat itu jembatan dihiasi lampu-lampu hias dari ujung ke ujung.
Selain itu, jembatan sempat mengalami peninggian setelah erupsi Gunung Kelud pada 1901. Proyek peninggian dimulai pada awal 1912 dan selesai pada 10 Maret 1912.
Pada masa perang kemerdekaan, jembatan ini bahkan pernah direncanakan untuk diledakkan oleh pihak penjajah Jepang. Namun rencana tersebut berhasil digagalkan sehingga jembatan tetap berdiri hingga kini.
Sudah 50 Tahun Tanpa Revitalisasi Besar
Revitalisasi besar terakhir terhadap Jembatan Lama dilakukan pada 1976 dan selesai pada 20 November 1976.
Menurut Imam Mubarok, dengan usia pemeliharaan yang telah mencapai setengah abad, sudah saatnya dilakukan perawatan dan pemeliharaan menyeluruh.
“Artinya pada tahun 2026 ini sudah 50 tahun sejak pemeliharaan besar terakhir dilakukan. Karena itu sudah saatnya dilakukan perawatan total agar jembatan tetap terpelihara,” kata Gus Barok.
Ia menegaskan bahwa proses pemeliharaan harus tetap berkonsultasi dengan Kementerian Kebudayaan maupun Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, mengingat statusnya sebagai cagar budaya konstruksi peringkat nasional.
Kronologi Pembangunan Jembatan Lama Kediri
16 Mei 1854
Pemerintah Hindia Belanda memutuskan membangun jembatan batu berdasarkan desain seorang kapten zeni dengan anggaran f 128.891,00.
1855
Pekerjaan dimulai. Namun muncul keberatan dari insinyur kepala Waterstaatsafdeeling Surabaya karena tiang batu besar dinilai dapat menghambat aliran sungai.
September 1859
Fondasi penopang jembatan sisi barat selesai dibangun.
Juli 1861
Pemasangan paku bumi di tengah sungai mengalami kendala teknis. Anggaran membengkak hingga f 73.000,00 sehingga pekerjaan dihentikan.
1 Mei 1862
Insinyur Sytze Westerbaan Muurling mengajukan desain alternatif berupa jembatan besi dengan anggaran f 230.825,00.
27 April 1863
Tender pembangunan di Batavia gagal.
30 Desember 1863
Tender kedua melalui penunjukan langsung juga gagal.
31 Juli 1865
Tender ketiga berhasil dengan nilai kontrak f 212.000,00.
18 September 1865
Pembangunan jembatan besi dimulai dengan target penyelesaian dua tahun.
18 September 1867
Proyek mengalami keterlambatan akibat kendala teknis.
11 Maret 1869
Pekerjaan selesai dan jembatan dinyatakan lulus uji coba.
18 Maret 1869
Jembatan resmi dibuka untuk umum.
Sumber:
J. van Velzen, De ijzeren brug over de Kediri-rivier, ter hoofdplaats van de Residentie Kediri, dalam majalah Tijdschrift van het Koninklijk Instituut van Ingenieurs. Afdeeling Nederlandsch-Indië, 1877, hlm. 65–72. (res/aro)
-
Peristiwa5 years agoNing Sheila Hasina Binti KH Zamzami Lirboyo Juara 1 MHQ 30 Juz , MTQ XIV Kapolda Jatim Cup
-
Kriminal6 years agoJangan Coba Coba Balap Liar di Kota Kediri, Dihukum Dorong Motor Dua Kilometer
-
Peristiwa6 years agoPonpes Tarbiyatul Qur’an Al Falah Ploso Kediri Gelar Haflah dan Wisuda Khatmil Qur’an
-
Uncategorized5 years ago6 Pelatihan Sertifikasi Gada Pratama di Mako Brimob Kediri Terima Anumerta Peserta Terbaik
-
Peristiwa6 years agoPengunjung Pasar Bolawen Kabupaten Kediri Diimbau Jaga Jarak dan Cuci Tangan
-
Peristiwa6 years agoRibuan Umat Muslim Ikuti Pengajian Rutin Malam Rabu Gus Lik Kediri
-
Peristiwa3 years agoInilah Kegiatan Malam Tirakatan Jumat Legi di Gereja Puhsarang
-
Inspirasi6 years agoMengenal Sosok Kasatreskrim AKP I Gusti Agung Ananta
