Inspirasi
Terakhir Direvitalisasi 1976, Jembatan Lama Kediri Dinilai Sudah Saatnya Dirawat Total

Kediriselaludihati – Jembatan Lama Kota Kediri atau Brug over den Brantas te Kediri genap berusia 157 tahun pada 18 Maret 2026 sejak pertama kali dioperasikan sebagai bagian dari jalur Groote Postweg (jalan raya) pada masa pemerintahan kolonial Belanda, tepatnya pada 18 Maret 1869.
Untuk memperingati momen bersejarah tersebut, sejumlah pemerhati budaya dan sejarah yang mengatasnamakan Juru Wotan menggelar peringatan hari jadi Jembatan Lama pada 14 Maret 2026 di kawasan jembatan tersebut.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Imam Mubarok, peneliti sejarah Jembatan Lama Kediri sekaligus pemerhati cagar budaya.
Menurut Mubarok, pelaksanaan peringatan dimajukan dari tanggal sebenarnya karena 18 Maret 2026 berdekatan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, sehingga banyak pihak diperkirakan telah memasuki masa persiapan hari raya.
“Karena tanggal 18 Maret tahun ini berdekatan dengan Idul Fitri, maka peringatan ulang tahun jembatan dimajukan menjadi 14 Maret agar masyarakat tetap dapat mengikuti kegiatan dengan baik,” ujar Imam Mubarok yang akrab disapa Gus Barok.
Acara tersebut dihadiri Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, S.H., M.Kn, Wakil Wali Kota Qowimuddin Thoha, Wakapolres Kediri Kota Kompol Putu Gde Caka Pratyaksa Ratsuko, S.I.K., M.I.K., Mayor Inf. Ngatari selaku Pabung Kodim 0809 Kediri, jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Kota Kediri, Dewan Kebudayaan Daerah Kota Kediri, serta sejumlah pegiat sejarah dari berbagai daerah.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan, Jembatan Lama bukan sekadar penghubung wilayah di atas Sungai Brantas, melainkan juga bagian penting dari sejarah dan identitas Kota Kediri.
Menurut dia, jembatan yang telah berdiri lebih dari satu setengah abad itu menjadi saksi perkembangan kehidupan masyarakat sekaligus perjalanan budaya di Kota Kediri.
“Jembatan Lama ini bukan hanya sekadar jembatan yang menghubungkan dua wilayah, tetapi juga menjadi saksi perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat Kota Kediri. Karena itu, momentum peringatan ini bukan hanya untuk mengenang sejarah, tetapi juga merawat warisan yang telah menjadi identitas kota,” ujarnya.
Peluncuran Tenun Ikat Motif Jembatan Lama
Selain selamatan ulang tahun ke-157, peringatan ini juga dirangkaikan dengan peluncuran tenun ikat Bandar bermotif Jembatan Lama karya perajin tenun ikat asal Bandar Kidul, Slamet Sugiyanto dari Palugada.
Tenun ikat dengan motif Jembatan Lama tersebut kemudian dikenakan dan diperagakan oleh para penari dalam pertunjukan seni yang menjadi bagian dari rangkaian acara.
Para penari dari Sanggar Tari Gondho Arum membawakan tarian Beksan Mangu-Mangu dengan iringan musik karya Saras Swara Indonesia.
Tarian ini mengandung pesan moral yang mengingatkan manusia agar senantiasa menjalankan kewajiban beribadah serta menghargai sesama dalam kehidupan bermasyarakat.
Jembatan Besi Pertama di Jawa
Jembatan Lama Kediri dikenal sebagai salah satu karya teknik penting pada abad ke-19. Struktur jembatan ini menggunakan konstruksi besi yang ditopang oleh tiang sekrup yang ditanam di dasar Sungai Brantas.
“Jembatan di atas Sungai Brantas di Kediri ini merupakan jembatan besi pertama di Jawa, bahkan di dunia pada masa itu, dan dianggap sebagai adikarya teknik oleh insinyurnya, Sytze Westerbaan Muurling,” kata Imam Mubarok yang juga Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur, Sabtu (14/3).
Ia menambahkan, usia jembatan tersebut bahkan lebih tua dibandingkan Jembatan Brooklyn di Amerika Serikat yang selesai dibangun pada 1883 dan menghubungkan Manhattan dengan Brooklyn di New York City melintasi Sungai East.
Menurut Mubarok—yang akrab disapa Gus Barok—status Jembatan Lama Kediri sebagai cagar budaya peringkat nasional menuntut adanya pengelolaan yang sesuai dengan ketentuan hukum.
“Karena sudah menjadi cagar budaya peringkat nasional, pemanfaatan jembatan harus mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Tidak boleh digunakan sembarangan untuk kepentingan pribadi, instansi, partai politik, maupun organisasi kemasyarakatan,” ujarnya.
Ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional
Pada tahun 2022, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim menetapkan 15 cagar budaya peringkat nasional pada periode Januari hingga Oktober 2022.
Kelima belas cagar budaya tersebut terdiri atas empat benda cagar budaya, satu struktur cagar budaya, lima bangunan cagar budaya, serta lima situs cagar budaya yang tersebar di lima provinsi di Indonesia.
Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Mendikbudristek Nomor 58/M/2022, 59/M/2022, 60/M/2022, 61/M/2022, dan 145/M/2022.
Salah satu yang termasuk dalam daftar tersebut adalah Jembatan Lama Kota Kediri yang berada di Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Data mengenai sejarah pembangunan jembatan ini diperoleh Imam Mubarok dari berbagai sumber primer, termasuk buku Belanda berjudul Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek. Ia juga mendapat bantuan dari Olivier Johanes, pengamat budaya Indonesia di Belanda, dalam menelusuri sejarah panjang jembatan yang hingga kini masih berfungsi dengan baik.
Sebagai penghubung wilayah barat dan timur Kota Kediri, jembatan ini sejak awal memiliki peran strategis. Pada masa lalu, jembatan tersebut bahkan menjadi satu-satunya jalur penghubung transportasi antara wilayah Madiun dan Surabaya.
Dimensi dan Sejarah Penetapan
Jembatan Lama Kediri memiliki panjang 160 meter, lebar 5,80 meter, dan tinggi 7,50 meter dari permukaan air Sungai Brantas.
Jembatan ini ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 12 Maret 2019. Penetapan tersebut kemudian diperkuat melalui keputusan Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar pada 18 Maret 2019, bertepatan dengan peresmian Jembatan Brawijaya Kediri.
Sebelumnya, sejak 2015, Jembatan Lama Kediri telah tercatat sebagai objek diduga cagar budaya (ODCB). Penelitian terhadap berbagai sumber sejarah, baik dari Indonesia maupun Belanda, telah dilakukan oleh Imam Mubarok sejak 1 Maret 2013.
Sosok Insinyur di Balik Pembangunan
Dari sisi sejarah teknik, Jembatan Lama Kediri merupakan karya insinyur Belanda Sytze Westerbaan Muurling.
Ia lahir di Belanda pada 29 November 1836 dan meninggal dunia di Batavia pada 17 Oktober 1876. Muurling merupakan putra dari Dr. W. Muurling, seorang pendeta sekaligus profesor teologi.
Muurling menempuh pendidikan dasar di sekolah Austria sebelum melanjutkan pendidikan menengah. Ia sempat mengambil jurusan hukum di Groningen, namun terpaksa berhenti karena sakit.
Setelah pulih, pada 1854 ia mengikuti ujian masuk Royal Academy di Delft dan berhasil meraih gelar insinyur sipil pada 1859. Pada 4 Februari 1860, ia kemudian ditugaskan oleh Menteri Koloni Belanda untuk bekerja di kantor Direktur Pekerjaan Umum di Hindia Belanda.
Bertahan dari Banjir hingga Perang
Sejumlah foto dalam koleksi Kediri’s Photograph Museum di Jalan Kapten Tendean 66, Ngronggo, menunjukkan betapa tangguhnya konstruksi jembatan ini.
Jembatan tersebut beberapa kali diterjang derasnya arus Sungai Brantas. Banjir paling parah tercatat terjadi pada 1954 yang merobohkan pagar jembatan. Namun struktur utama jembatan tetap kokoh dan tidak bergeser sedikit pun.
Jembatan ini juga pernah menjadi bagian dari perayaan kerajaan Belanda ketika Putri Juliana menikah dengan Pangeran Bernhard pada 7 Januari 1937. Saat itu jembatan dihiasi lampu-lampu hias dari ujung ke ujung.
Selain itu, jembatan sempat mengalami peninggian setelah erupsi Gunung Kelud pada 1901. Proyek peninggian dimulai pada awal 1912 dan selesai pada 10 Maret 1912.
Pada masa perang kemerdekaan, jembatan ini bahkan pernah direncanakan untuk diledakkan oleh pihak penjajah Jepang. Namun rencana tersebut berhasil digagalkan sehingga jembatan tetap berdiri hingga kini.
Sudah 50 Tahun Tanpa Revitalisasi Besar
Revitalisasi besar terakhir terhadap Jembatan Lama dilakukan pada 1976 dan selesai pada 20 November 1976.
Menurut Imam Mubarok, dengan usia pemeliharaan yang telah mencapai setengah abad, sudah saatnya dilakukan perawatan dan pemeliharaan menyeluruh.
“Artinya pada tahun 2026 ini sudah 50 tahun sejak pemeliharaan besar terakhir dilakukan. Karena itu sudah saatnya dilakukan perawatan total agar jembatan tetap terpelihara,” kata Gus Barok.
Ia menegaskan bahwa proses pemeliharaan harus tetap berkonsultasi dengan Kementerian Kebudayaan maupun Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, mengingat statusnya sebagai cagar budaya konstruksi peringkat nasional.
Kronologi Pembangunan Jembatan Lama Kediri
16 Mei 1854
Pemerintah Hindia Belanda memutuskan membangun jembatan batu berdasarkan desain seorang kapten zeni dengan anggaran f 128.891,00.
1855
Pekerjaan dimulai. Namun muncul keberatan dari insinyur kepala Waterstaatsafdeeling Surabaya karena tiang batu besar dinilai dapat menghambat aliran sungai.
September 1859
Fondasi penopang jembatan sisi barat selesai dibangun.
Juli 1861
Pemasangan paku bumi di tengah sungai mengalami kendala teknis. Anggaran membengkak hingga f 73.000,00 sehingga pekerjaan dihentikan.
1 Mei 1862
Insinyur Sytze Westerbaan Muurling mengajukan desain alternatif berupa jembatan besi dengan anggaran f 230.825,00.
27 April 1863
Tender pembangunan di Batavia gagal.
30 Desember 1863
Tender kedua melalui penunjukan langsung juga gagal.
31 Juli 1865
Tender ketiga berhasil dengan nilai kontrak f 212.000,00.
18 September 1865
Pembangunan jembatan besi dimulai dengan target penyelesaian dua tahun.
18 September 1867
Proyek mengalami keterlambatan akibat kendala teknis.
11 Maret 1869
Pekerjaan selesai dan jembatan dinyatakan lulus uji coba.
18 Maret 1869
Jembatan resmi dibuka untuk umum.
Sumber:
J. van Velzen, De ijzeren brug over de Kediri-rivier, ter hoofdplaats van de Residentie Kediri, dalam majalah Tijdschrift van het Koninklijk Instituut van Ingenieurs. Afdeeling Nederlandsch-Indië, 1877, hlm. 65–72. (res/aro)
Inspirasi
Jumat Keliling di Jamsaren, Kompol Siswandi Tegaskan Polisi Harus Hadir Mendengar Keluhan Masyarakat
Kediriselalaludihati – Kapolsek Pesantren Polres Kediri Kota, Kompol Siswandi, S.H., mengajak masyarakat menjaga persaudaraan dan tidak membiarkan perbedaan pendapat menjadi penyebab perpecahan. Pesan tersebut disampaikan saat melaksanakan program Quick Win Jumat Keliling di Masjid Ar Rahmat, Lingkungan Kleco, Kelurahan Jamsaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Jumat (16/10/2026).
Dalam kegiatan yang dimulai sekitar pukul 11.30 WIB tersebut, Kompol Siswandi menekankan pentingnya membangun komunikasi antara kepolisian dan masyarakat melalui pendekatan yang terbuka, humanis, serta mengutamakan penyelesaian persoalan secara musyawarah.
Kegiatan Jumat Keliling itu dihadiri para kanit dan kasi Polsek Pesantren, Bhabinkamtibmas Kelurahan Jamsaren Aiptu Rofiq, pengurus takmir masjid, serta jamaah salat Jumat.
Di hadapan jamaah, Kompol Siswandi menyampaikan bahwa kehadiran polisi di lingkungan masyarakat bukan semata-mata untuk menjalankan tugas penegakan hukum, melainkan juga membangun hubungan sosial yang lebih dekat.
Ia menegaskan bahwa semangat Polisi Bersama Masyarakat harus diwujudkan melalui komunikasi dan kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi warga.
“Polri wajib hadir di tengah-tengah masyarakat guna mendengarkan keluh kesah yang dialaminya supaya bisa dipecahkan permasalahan sama-sama, rembuk mencari jalan yang mulus dan baik,” ujar Kompol Siswandi.
Menurutnya, pesan tersebut merupakan bagian dari arahan pimpinan Polri agar seluruh jajaran kepolisian semakin terbuka terhadap aspirasi masyarakat.
Kapolsek menegaskan bahwa hubungan antara polisi dan masyarakat seharusnya tidak dibatasi oleh jarak maupun sekat-sekat sosial.
“Polisi Bersama Masyarakat, supaya tidak ada perbedaan antara kami dengan panjenengan semuanya,” katanya.
Kompol Siswandi menjelaskan bahwa kedatangannya ke Masjid Ar Rahmat merupakan bagian dari silaturahmi sekaligus kesempatan menyampaikan perkembangan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah Kecamatan Pesantren.
Ia berharap kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperkuat hubungan antara kepolisian, tokoh agama, dan warga.
Salah satu pesan utama yang disampaikan Kapolsek adalah pentingnya menjaga ukhuwah islamiyah atau persaudaraan sesama umat Islam, sekaligus kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan hal yang dapat terjadi dalam kehidupan sosial. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya berkembang menjadi permusuhan yang merusak hubungan antarsesama.
“Mari kita semuanya menjaga ukhuwah islamiyah dan kerukunan. Jangan sampai bersaudara kita pecah gara-gara perbedaan pendapat,” tegas Kompol Siswandi.
Ia mengajak masyarakat mengutamakan dialog dan musyawarah apabila menghadapi persoalan, baik dalam lingkungan keluarga, antartetangga, maupun kehidupan sosial yang lebih luas.
“Harapan kami, carilah solusi bersama-sama sehingga tercipta situasi kamtibmas yang aman dan kondusif,” lanjutnya.
Selain mengingatkan pentingnya persatuan, Kompol Siswandi juga menyoroti kepedulian sosial sebagai salah satu fondasi kehidupan masyarakat yang harmonis.
Ia mengajak jamaah tidak hanya memperhatikan kondisi keluarga sendiri, tetapi juga peka terhadap kesulitan yang dialami tetangga, sahabat, maupun warga lainnya.
Menurutnya, kepedulian terhadap sesama dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk bantuan sesuai kemampuan masing-masing.
“Mari kita bersama-sama meningkatkan kepedulian terhadap sesama, terutama bagi tetangga yang mengalami kesulitan,” pesannya.
Kapolsek secara khusus mengajak masyarakat memberikan perhatian kepada anak yatim dan kaum duafa yang membutuhkan dukungan sosial.
Ia mengingatkan bahwa membantu orang lain tidak harus dilakukan dengan kemampuan materi yang besar, melainkan dapat dimulai dari niat baik dan keikhlasan.
“Yang paling utama kepada anak yatim dan kaum duafa, sesuai batas dan kemampuan kita masing-masing serta keikhlasan panjenengan semuanya,” ujarnya.
Melalui pesan tersebut, Kompol Siswandi mengaitkan upaya menjaga keamanan lingkungan dengan penguatan nilai persaudaraan dan kepedulian sosial.
Sebab, situasi masyarakat yang aman dan kondusif tidak hanya bergantung pada kehadiran aparat kepolisian, tetapi juga membutuhkan kesadaran warga untuk saling menghormati, membantu, dan menyelesaikan persoalan secara damai.
Program Jumat Keliling menjadi salah satu pendekatan Polsek Pesantren untuk membangun komunikasi langsung dengan masyarakat melalui kegiatan keagamaan.
Dengan hadir di tengah jamaah, kepolisian memiliki kesempatan menyampaikan pesan kamtibmas sekaligus mempererat hubungan dengan tokoh agama dan warga setempat.
Kompol Siswandi berharap komunikasi semacam ini dapat terus terjalin sehingga masyarakat tidak ragu menyampaikan persoalan yang berkaitan dengan keamanan maupun ketertiban lingkungan.
Di akhir penyampaiannya, Kapolsek menyampaikan terima kasih kepada pengurus masjid dan jamaah yang telah memberikan kesempatan untuk bersilaturahmi.
“Matur nuwun atas waktunya yang diberikan kepada kami dan mohon maaf apabila ada salah dan khilaf kami,” ucapnya.
Seluruh rangkaian kegiatan Jumat Keliling di Masjid Ar Rahmat, Kelurahan Jamsaren, dilaporkan berlangsung tertib, aman, dan lancar.
Melalui kegiatan tersebut, Polsek Pesantren berupaya memperkuat semangat Polisi Bersama Masyarakat dengan mengedepankan dialog, persaudaraan, serta kepedulian sosial sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan dan ketertiban di Kota Kediri. (res/aro)
Inspirasi
Polisi Siapkan Penyekatan dan Larang Konvoi Perguruan Silat Saat Puncak Festival Santri Nusantara di Lirboyo
Kediriselaludihati – Sebanyak 784 personel gabungan TNI, Polri, dan instansi terkait dikerahkan untuk mengamankan kegiatan Lirboyo Bersholawat bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Kamis (8/10/2026) malam.
Pengamanan dilakukan untuk mengantisipasi kepadatan jemaah, gangguan ketertiban, serta potensi konvoi kelompok perguruan pencak silat menuju kawasan pesantren.
Sebelum diterjunkan ke lapangan, ratusan personel mengikuti apel kesiapan pengamanan di Markas Polres Kediri Kota, Kamis sore.
Apel dipimpin Kabag Ops Polres Kediri Kota Kompol Iwan Setyo Budhi, S.H., dan diikuti pejabat utama Polres Kediri Kota, para perwira pengendali serta personel gabungan dari sejumlah satuan.
Lirboyo Bersholawat merupakan puncak rangkaian Festival Santri Nusantara 2026 yang digelar pada 4-8 Oktober 2026.
Dalam arahannya, Iwan menegaskan bahwa pengamanan telah dipersiapkan melalui rapat koordinasi lintas instansi. Seluruh personel diminta memahami tugas masing-masing dan mengantisipasi potensi gangguan sebelum kegiatan dimulai.
“Saat ini merupakan puncak kegiatan Festival Santri 2026, yaitu sholawatan. Kegiatan ini sebelumnya sudah dilaksanakan rapat koordinasi,” kata Iwan saat memberikan arahan kepada peserta apel.
784 Personel dari Berbagai Satuan
Pengamanan Lirboyo Bersholawat melibatkan personel gabungan dari kepolisian, TNI, serta Pemerintah Kota Kediri.
Berdasarkan laporan pengamanan, kekuatan personel terdiri atas 350 anggota Polres Kediri Kota dan polsek jajaran, 100 personel Kodim 0809/Kediri, 90 personel Satbrimob Polda Jawa Timur, 30 personel Brigif Wirayudha, serta 90 personel Yonif 521 Kediri.
Selain itu, terdapat 90 personel Direktorat Samapta Polda Jawa Timur, empat anggota Subdenpom, 20 personel Satpol PP Kota Kediri, dan 10 petugas Dinas Perhubungan Kota Kediri.
Seluruh kekuatan tersebut disiapkan untuk mendukung pengamanan kegiatan yang diperkirakan dihadiri puluhan ribu jemaah.
Dalam rapat koordinasi sebelumnya, panitia memperkirakan sekitar 50.000 orang akan menghadiri Lirboyo Bersholawat.
Jumlah tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam penempatan petugas, terutama pada jalur menuju pesantren dan titik yang berpotensi mengalami kepadatan.
Polisi Antisipasi Konvoi Perguruan Silat
Salah satu perhatian utama dalam apel pengamanan adalah kemungkinan kedatangan kelompok perguruan pencak silat yang melakukan konvoi menuju kawasan Lirboyo.
Iwan meminta personel mengantisipasi potensi tersebut melalui pengawasan dan koordinasi dengan kepolisian di wilayah sekitar Kediri.
“Yang perlu diantisipasi adalah kedatangan kelompok perguruan yang berkumpul untuk melakukan konvoi,” ujar Iwan.
Ia menegaskan, kegiatan Lirboyo Bersholawat merupakan acara keagamaan sehingga peserta diminta mengikuti ketentuan yang telah disiapkan penyelenggara.
“Dalam kegiatan ini tidak diperbolehkan ada atribut perguruan. Yang diperbolehkan masuk adalah yang berpakaian busana muslim,” katanya.
Kepolisian juga menyiapkan langkah penyekatan untuk mencegah konvoi kelompok perguruan menuju lokasi acara.
Menurut Iwan, koordinasi dengan polres wilayah sekitar telah dilakukan untuk mendukung pengamanan tersebut.
“Kita juga berkoordinasi dengan polres samping untuk membantu melakukan penyekatan,” ujarnya.
Personel diminta mengarahkan kembali rombongan yang datang untuk melakukan konvoi menuju wilayah masing-masing.
Langkah itu merupakan bagian dari upaya menjaga ketertiban dan mengantisipasi pertemuan kelompok massa di sekitar kawasan pesantren.
Personel Diminta Tetap Berada di Titik Pengamanan
Selain mengantisipasi konvoi, Iwan memberikan perhatian khusus terhadap kedisiplinan personel selama bertugas.
Petugas diminta segera menempati lokasi pengamanan masing-masing setelah waktu Magrib.
“Saya minta setelah Magrib rekan-rekan sudah berada di titik masing-masing,” kata Iwan.
Ia juga mengingatkan seluruh anggota agar tidak meninggalkan lokasi tugas sebelum ada instruksi resmi dari pimpinan pengamanan.
“Pencabutan personel menunggu perintah. Jangan sampai belum ada perintah, rekan-rekan sudah meninggalkan titik,” tegasnya.
Arahan tersebut diberikan untuk memastikan pengamanan tetap berjalan hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai dan pergerakan jemaah dapat dikendalikan.
Setelah pengarahan, kegiatan dilanjutkan dengan Tactical Floor Game (TFG), yakni simulasi taktis untuk memantapkan pemahaman petugas terhadap penempatan dan pola pengamanan.
Melalui kegiatan tersebut, personel memperoleh gambaran mengenai pembagian tugas dan koordinasi antarsatuan selama pengamanan berlangsung.
Pengamanan Dipersiapkan Sejak Rapat Koordinasi
Sebelumnya, Polres Kediri Kota telah menggelar rapat koordinasi pengamanan Festival Santri Nusantara 2026 pada Selasa (6/10/2026).
Rapat tersebut membahas berbagai kebutuhan teknis, mulai dari pengaturan arus kendaraan, lokasi parkir, jalur masuk jemaah, pelayanan kesehatan, hingga jalur evakuasi.
Panitia juga menyiapkan 503 personel pengamanan internal yang direncanakan ditempatkan pada 47 titik di dalam dan sekitar kawasan Pondok Pesantren Lirboyo.
Dalam koordinasi tersebut, pengamanan kepolisian difokuskan pada kawasan luar pesantren, terutama ruas jalan dan persimpangan yang berpotensi mengalami kemacetan.
Panitia sebelumnya juga menyampaikan rencana penutupan jalan di sekitar lokasi mulai pukul 17.00 WIB.
Kendaraan jemaah akan diarahkan menuju lokasi parkir yang telah disiapkan, sementara jalur evakuasi harus dijaga agar tidak terhalang kendaraan.
Kegiatan Lirboyo Bersholawat bersama Habib Syech menjadi salah satu agenda puncak Festival Santri Nusantara 2026 yang terbuka bagi masyarakat umum.
Dengan pengerahan ratusan personel gabungan, kepolisian memprioritaskan pengamanan jemaah, pengaturan lalu lintas, pencegahan konvoi, serta koordinasi antarsatuan hingga kegiatan selesai.
Masyarakat yang akan menghadiri acara diimbau mengikuti arahan petugas, mematuhi pengaturan lalu lintas, dan tidak melakukan konvoi yang berpotensi mengganggu ketertiban di sekitar Pondok Pesantren Lirboyo. (res/aro)
Inspirasi
Pengabdian Berbuah Kenaikan Pangkat, Anggota Polri dan PNS Polres Kediri Kota Terima Penghargaan
Kediriselalaludihati – Polres Kediri Kota menggelar upacara laporan kenaikan pangkat pengabdian anggota Polri dan kenaikan pangkat reguler PNS Polri periode 1 Oktober 2026.
Dua personel menerima kenaikan pangkat dalam upacara yang berlangsung di halaman apel Polres Kediri Kota, Selasa (6/10/2026) mulai pukul 07.30 WIB.
Satu anggota Polri mendapatkan kenaikan pangkat pengabdian dari Ajun Inspektur Polisi Satu (Aiptu) menjadi Inspektur Polisi Dua (Ipda). Sementara satu PNS Polri memperoleh kenaikan pangkat reguler dari Pengatur Muda Tingkat I menjadi Pengatur.
Anggota Polri yang menerima kenaikan pangkat pengabdian adalah Imam Ardi Sriwijaya, personel Polsek Mojoroto Polres Kediri Kota. Dengan kenaikan tersebut, pangkatnya berubah dari Aiptu menjadi Ipda.
Sementara PNS Polri yang memperoleh kenaikan pangkat reguler adalah Edi Siswanto, S.Sos., yang bertugas sebagai Pengadministrasi Perkantoran pada Satlantas Polres Kediri Kota.
Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto, S.H., S.I.K., M.Si. bertindak sebagai inspektur upacara.
Upacara turut dihadiri Wakapolres Kediri Kota Kompol Putu Gde Caka Pratyaksa Ratsuko, S.I.K., M.I.K., jajaran pejabat utama, para kapolsek, perwira, bintara serta PNS Polres Kediri Kota.
Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto mengatakan, kenaikan pangkat tersebut merupakan bentuk penghargaan institusi kepada personel sesuai masa kerja dan pengabdian yang telah dijalankan.
“Pada periode 1 Oktober 2026 terdapat satu anggota Polri yang menerima kenaikan pangkat pengabdian dari Aiptu menjadi Ipda dan satu PNS Polri yang mendapatkan kenaikan pangkat reguler,” kata Wisnu.
Kenaikan pangkat pengabdian yang diterima Imam Ardi Sriwijaya menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya sebagai anggota Polri.
Berbeda dengan kenaikan pangkat reguler, kenaikan pangkat pengabdian diberikan menjelang berakhirnya masa dinas kepada anggota yang memenuhi persyaratan sesuai ketentuan yang berlaku.
Sementara kenaikan pangkat yang diterima Edi Siswanto merupakan kenaikan reguler dalam jenjang kepangkatan PNS Polri. Ia sehari-hari menjalankan tugas administrasi perkantoran di Satlantas Polres Kediri Kota.
Prosesi upacara diawali dengan kedatangan Kapolres sebagai inspektur upacara, dilanjutkan penghormatan pasukan dan laporan komandan upacara.
Personel penerima kenaikan pangkat kemudian mengambil tempat untuk mengikuti laporan resmi kenaikan pangkat di hadapan inspektur upacara.
Kapolres Kediri Kota dalam momentum tersebut juga mengingatkan bahwa kenaikan pangkat tidak hanya bermakna perubahan jenjang kepangkatan, tetapi harus diikuti peningkatan tanggung jawab dalam menjalankan tugas.
“Kenaikan pangkat harus menjadi motivasi untuk terus memberikan pengabdian terbaik kepada institusi dan masyarakat. Pangkat yang diterima juga membawa tanggung jawab yang harus dijaga,” ujar Wisnu.
Bagi personel lainnya, momentum tersebut diharapkan menjadi dorongan untuk terus menjaga profesionalisme dan kualitas pelaksanaan tugas.
Upacara kemudian ditutup dengan doa dan foto bersama. Kenaikan pangkat dua personel tersebut sekaligus menjadi bentuk penghargaan terhadap perjalanan pengabdian anggota Polri dan PNS di lingkungan Polres Kediri Kota. (res/aro)
-
Peristiwa6 years agoNing Sheila Hasina Binti KH Zamzami Lirboyo Juara 1 MHQ 30 Juz , MTQ XIV Kapolda Jatim Cup
-
Peristiwa7 years agoPonpes Tarbiyatul Qur’an Al Falah Ploso Kediri Gelar Haflah dan Wisuda Khatmil Qur’an
-
Kriminal7 years agoJangan Coba Coba Balap Liar di Kota Kediri, Dihukum Dorong Motor Dua Kilometer
-
Uncategorized6 years ago6 Pelatihan Sertifikasi Gada Pratama di Mako Brimob Kediri Terima Anumerta Peserta Terbaik
-
Peristiwa6 years agoPengunjung Pasar Bolawen Kabupaten Kediri Diimbau Jaga Jarak dan Cuci Tangan
-
Peristiwa7 years agoRibuan Umat Muslim Ikuti Pengajian Rutin Malam Rabu Gus Lik Kediri
-
Peristiwa3 years agoInilah Kegiatan Malam Tirakatan Jumat Legi di Gereja Puhsarang
-
Inspirasi7 years agoMengenal Sosok Kasatreskrim AKP I Gusti Agung Ananta
