Inspirasi
Terakhir Direvitalisasi 1976, Jembatan Lama Kediri Dinilai Sudah Saatnya Dirawat Total

Kediriselaludihati – Jembatan Lama Kota Kediri atau Brug over den Brantas te Kediri genap berusia 157 tahun pada 18 Maret 2026 sejak pertama kali dioperasikan sebagai bagian dari jalur Groote Postweg (jalan raya) pada masa pemerintahan kolonial Belanda, tepatnya pada 18 Maret 1869.
Untuk memperingati momen bersejarah tersebut, sejumlah pemerhati budaya dan sejarah yang mengatasnamakan Juru Wotan menggelar peringatan hari jadi Jembatan Lama pada 14 Maret 2026 di kawasan jembatan tersebut.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Imam Mubarok, peneliti sejarah Jembatan Lama Kediri sekaligus pemerhati cagar budaya.
Menurut Mubarok, pelaksanaan peringatan dimajukan dari tanggal sebenarnya karena 18 Maret 2026 berdekatan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, sehingga banyak pihak diperkirakan telah memasuki masa persiapan hari raya.
“Karena tanggal 18 Maret tahun ini berdekatan dengan Idul Fitri, maka peringatan ulang tahun jembatan dimajukan menjadi 14 Maret agar masyarakat tetap dapat mengikuti kegiatan dengan baik,” ujar Imam Mubarok yang akrab disapa Gus Barok.
Acara tersebut dihadiri Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, S.H., M.Kn, Wakil Wali Kota Qowimuddin Thoha, Wakapolres Kediri Kota Kompol Putu Gde Caka Pratyaksa Ratsuko, S.I.K., M.I.K., Mayor Inf. Ngatari selaku Pabung Kodim 0809 Kediri, jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Kota Kediri, Dewan Kebudayaan Daerah Kota Kediri, serta sejumlah pegiat sejarah dari berbagai daerah.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan, Jembatan Lama bukan sekadar penghubung wilayah di atas Sungai Brantas, melainkan juga bagian penting dari sejarah dan identitas Kota Kediri.
Menurut dia, jembatan yang telah berdiri lebih dari satu setengah abad itu menjadi saksi perkembangan kehidupan masyarakat sekaligus perjalanan budaya di Kota Kediri.
“Jembatan Lama ini bukan hanya sekadar jembatan yang menghubungkan dua wilayah, tetapi juga menjadi saksi perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat Kota Kediri. Karena itu, momentum peringatan ini bukan hanya untuk mengenang sejarah, tetapi juga merawat warisan yang telah menjadi identitas kota,” ujarnya.
Peluncuran Tenun Ikat Motif Jembatan Lama
Selain selamatan ulang tahun ke-157, peringatan ini juga dirangkaikan dengan peluncuran tenun ikat Bandar bermotif Jembatan Lama karya perajin tenun ikat asal Bandar Kidul, Slamet Sugiyanto dari Palugada.
Tenun ikat dengan motif Jembatan Lama tersebut kemudian dikenakan dan diperagakan oleh para penari dalam pertunjukan seni yang menjadi bagian dari rangkaian acara.
Para penari dari Sanggar Tari Gondho Arum membawakan tarian Beksan Mangu-Mangu dengan iringan musik karya Saras Swara Indonesia.
Tarian ini mengandung pesan moral yang mengingatkan manusia agar senantiasa menjalankan kewajiban beribadah serta menghargai sesama dalam kehidupan bermasyarakat.
Jembatan Besi Pertama di Jawa
Jembatan Lama Kediri dikenal sebagai salah satu karya teknik penting pada abad ke-19. Struktur jembatan ini menggunakan konstruksi besi yang ditopang oleh tiang sekrup yang ditanam di dasar Sungai Brantas.
“Jembatan di atas Sungai Brantas di Kediri ini merupakan jembatan besi pertama di Jawa, bahkan di dunia pada masa itu, dan dianggap sebagai adikarya teknik oleh insinyurnya, Sytze Westerbaan Muurling,” kata Imam Mubarok yang juga Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur, Sabtu (14/3).
Ia menambahkan, usia jembatan tersebut bahkan lebih tua dibandingkan Jembatan Brooklyn di Amerika Serikat yang selesai dibangun pada 1883 dan menghubungkan Manhattan dengan Brooklyn di New York City melintasi Sungai East.
Menurut Mubarok—yang akrab disapa Gus Barok—status Jembatan Lama Kediri sebagai cagar budaya peringkat nasional menuntut adanya pengelolaan yang sesuai dengan ketentuan hukum.
“Karena sudah menjadi cagar budaya peringkat nasional, pemanfaatan jembatan harus mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Tidak boleh digunakan sembarangan untuk kepentingan pribadi, instansi, partai politik, maupun organisasi kemasyarakatan,” ujarnya.
Ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional
Pada tahun 2022, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim menetapkan 15 cagar budaya peringkat nasional pada periode Januari hingga Oktober 2022.
Kelima belas cagar budaya tersebut terdiri atas empat benda cagar budaya, satu struktur cagar budaya, lima bangunan cagar budaya, serta lima situs cagar budaya yang tersebar di lima provinsi di Indonesia.
Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Mendikbudristek Nomor 58/M/2022, 59/M/2022, 60/M/2022, 61/M/2022, dan 145/M/2022.
Salah satu yang termasuk dalam daftar tersebut adalah Jembatan Lama Kota Kediri yang berada di Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Data mengenai sejarah pembangunan jembatan ini diperoleh Imam Mubarok dari berbagai sumber primer, termasuk buku Belanda berjudul Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek. Ia juga mendapat bantuan dari Olivier Johanes, pengamat budaya Indonesia di Belanda, dalam menelusuri sejarah panjang jembatan yang hingga kini masih berfungsi dengan baik.
Sebagai penghubung wilayah barat dan timur Kota Kediri, jembatan ini sejak awal memiliki peran strategis. Pada masa lalu, jembatan tersebut bahkan menjadi satu-satunya jalur penghubung transportasi antara wilayah Madiun dan Surabaya.
Dimensi dan Sejarah Penetapan
Jembatan Lama Kediri memiliki panjang 160 meter, lebar 5,80 meter, dan tinggi 7,50 meter dari permukaan air Sungai Brantas.
Jembatan ini ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 12 Maret 2019. Penetapan tersebut kemudian diperkuat melalui keputusan Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar pada 18 Maret 2019, bertepatan dengan peresmian Jembatan Brawijaya Kediri.
Sebelumnya, sejak 2015, Jembatan Lama Kediri telah tercatat sebagai objek diduga cagar budaya (ODCB). Penelitian terhadap berbagai sumber sejarah, baik dari Indonesia maupun Belanda, telah dilakukan oleh Imam Mubarok sejak 1 Maret 2013.
Sosok Insinyur di Balik Pembangunan
Dari sisi sejarah teknik, Jembatan Lama Kediri merupakan karya insinyur Belanda Sytze Westerbaan Muurling.
Ia lahir di Belanda pada 29 November 1836 dan meninggal dunia di Batavia pada 17 Oktober 1876. Muurling merupakan putra dari Dr. W. Muurling, seorang pendeta sekaligus profesor teologi.
Muurling menempuh pendidikan dasar di sekolah Austria sebelum melanjutkan pendidikan menengah. Ia sempat mengambil jurusan hukum di Groningen, namun terpaksa berhenti karena sakit.
Setelah pulih, pada 1854 ia mengikuti ujian masuk Royal Academy di Delft dan berhasil meraih gelar insinyur sipil pada 1859. Pada 4 Februari 1860, ia kemudian ditugaskan oleh Menteri Koloni Belanda untuk bekerja di kantor Direktur Pekerjaan Umum di Hindia Belanda.
Bertahan dari Banjir hingga Perang
Sejumlah foto dalam koleksi Kediri’s Photograph Museum di Jalan Kapten Tendean 66, Ngronggo, menunjukkan betapa tangguhnya konstruksi jembatan ini.
Jembatan tersebut beberapa kali diterjang derasnya arus Sungai Brantas. Banjir paling parah tercatat terjadi pada 1954 yang merobohkan pagar jembatan. Namun struktur utama jembatan tetap kokoh dan tidak bergeser sedikit pun.
Jembatan ini juga pernah menjadi bagian dari perayaan kerajaan Belanda ketika Putri Juliana menikah dengan Pangeran Bernhard pada 7 Januari 1937. Saat itu jembatan dihiasi lampu-lampu hias dari ujung ke ujung.
Selain itu, jembatan sempat mengalami peninggian setelah erupsi Gunung Kelud pada 1901. Proyek peninggian dimulai pada awal 1912 dan selesai pada 10 Maret 1912.
Pada masa perang kemerdekaan, jembatan ini bahkan pernah direncanakan untuk diledakkan oleh pihak penjajah Jepang. Namun rencana tersebut berhasil digagalkan sehingga jembatan tetap berdiri hingga kini.
Sudah 50 Tahun Tanpa Revitalisasi Besar
Revitalisasi besar terakhir terhadap Jembatan Lama dilakukan pada 1976 dan selesai pada 20 November 1976.
Menurut Imam Mubarok, dengan usia pemeliharaan yang telah mencapai setengah abad, sudah saatnya dilakukan perawatan dan pemeliharaan menyeluruh.
“Artinya pada tahun 2026 ini sudah 50 tahun sejak pemeliharaan besar terakhir dilakukan. Karena itu sudah saatnya dilakukan perawatan total agar jembatan tetap terpelihara,” kata Gus Barok.
Ia menegaskan bahwa proses pemeliharaan harus tetap berkonsultasi dengan Kementerian Kebudayaan maupun Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, mengingat statusnya sebagai cagar budaya konstruksi peringkat nasional.
Kronologi Pembangunan Jembatan Lama Kediri
16 Mei 1854
Pemerintah Hindia Belanda memutuskan membangun jembatan batu berdasarkan desain seorang kapten zeni dengan anggaran f 128.891,00.
1855
Pekerjaan dimulai. Namun muncul keberatan dari insinyur kepala Waterstaatsafdeeling Surabaya karena tiang batu besar dinilai dapat menghambat aliran sungai.
September 1859
Fondasi penopang jembatan sisi barat selesai dibangun.
Juli 1861
Pemasangan paku bumi di tengah sungai mengalami kendala teknis. Anggaran membengkak hingga f 73.000,00 sehingga pekerjaan dihentikan.
1 Mei 1862
Insinyur Sytze Westerbaan Muurling mengajukan desain alternatif berupa jembatan besi dengan anggaran f 230.825,00.
27 April 1863
Tender pembangunan di Batavia gagal.
30 Desember 1863
Tender kedua melalui penunjukan langsung juga gagal.
31 Juli 1865
Tender ketiga berhasil dengan nilai kontrak f 212.000,00.
18 September 1865
Pembangunan jembatan besi dimulai dengan target penyelesaian dua tahun.
18 September 1867
Proyek mengalami keterlambatan akibat kendala teknis.
11 Maret 1869
Pekerjaan selesai dan jembatan dinyatakan lulus uji coba.
18 Maret 1869
Jembatan resmi dibuka untuk umum.
Sumber:
J. van Velzen, De ijzeren brug over de Kediri-rivier, ter hoofdplaats van de Residentie Kediri, dalam majalah Tijdschrift van het Koninklijk Instituut van Ingenieurs. Afdeeling Nederlandsch-Indië, 1877, hlm. 65–72. (res/aro)
Inspirasi
Satlantas Polres Kediri Kota Gelar Bakti Sosial, Wujud Kepedulian Polri kepada Masyarakat yang Membutuhkan

Kediriselaludihati – Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80, Polres Kediri Kota melalui Satuan Lalu Lintas (Satlantas) menggelar kegiatan bakti sosial berupa pembagian air bersih kepada masyarakat di Kelurahan Campurejo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Senin (22/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 13.00 WIB tersebut dipimpin langsung oleh Kasatlantas Polres Kediri Kota AKP Tutud Yudho Prastyawan, S.H., bersama para perwira dan anggota Satlantas Polres Kediri Kota.
Bakti sosial pembagian air bersih ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan sosial yang digelar Polres Kediri Kota dalam memperingati HUT Bhayangkara ke-80. Melalui kegiatan tersebut, Polri berupaya hadir di tengah masyarakat tidak hanya dalam menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga memberikan bantuan nyata yang dibutuhkan warga.
Kasatlantas Polres Kediri Kota AKP Tutud Yudho Prastyawan mengatakan kegiatan bakti sosial tersebut merupakan bentuk kepedulian Polri terhadap masyarakat sekaligus implementasi semangat pengabdian yang menjadi tema peringatan Hari Bhayangkara tahun ini.
“Melalui kegiatan pembagian air bersih ini, kami ingin berbagi manfaat kepada masyarakat sekaligus menunjukkan bahwa Polri selalu hadir untuk membantu warga dalam berbagai situasi dan kebutuhan sosial,” ujarnya.
Menurutnya, momentum Hari Bhayangkara tidak hanya menjadi peringatan hari lahir institusi Polri, tetapi juga menjadi refleksi untuk terus meningkatkan pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat.
Kehadiran personel Satlantas Polres Kediri Kota di tengah masyarakat mendapat sambutan positif dari warga Kelurahan Campurejo. Bantuan air bersih yang disalurkan diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus mempererat hubungan antara Polri dan warga.
Selain menjalankan tugas pokok di bidang keamanan, ketertiban, dan keselamatan berlalu lintas, jajaran Polres Kediri Kota juga aktif melaksanakan berbagai kegiatan sosial sebagai bentuk tanggung jawab kemanusiaan dan pelayanan publik.
Melalui kegiatan bakti sosial tersebut, Polres Kediri Kota menegaskan komitmennya untuk terus hadir sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Semangat Hari Bhayangkara ke-80 menjadi momentum untuk memperkuat kedekatan antara Polri dan masyarakat dalam mewujudkan lingkungan yang aman, nyaman, serta penuh kepedulian sosial. (res/aro)
Inspirasi
Seruan Masyayikh NU Jelang Munas-Konbes 2026: Tolak Perubahan Syarat AHWA, Minta Muktamar Tetap Digelar di Pesantren
Kediriselaludihati – Sejumlah masyayikh, alim ulama, dan pengasuh pondok pesantren Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan seruan bersama menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 yang digelar di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri, Sabtu (20/6/2026).
Seruan tersebut disampaikan dalam forum Ramah Tamah Masyayikh Nahdlatul Ulama yang berlangsung menjelang pembukaan Munas-Konbes NU dan memuat sejumlah pandangan strategis terkait Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), posisi pesantren dalam tubuh organisasi, hingga pentingnya menjaga persatuan menjelang Muktamar NU.
Juru bicara masyayikh, KH Abdurrohman Al-Katsar atau Gus Kautsar, mengatakan dokumen tersebut merupakan hasil kesepahaman para ulama senior dari berbagai daerah yang memiliki perhatian terhadap arah perjalanan organisasi Nahdlatul Ulama.
“Dalam dokumen yang ditandatangani sejumlah ulama senior NU dari berbagai daerah itu, para masyayikh menyampaikan sejumlah pandangan terkait Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), posisi pesantren dalam tubuh NU, hingga pentingnya menjaga persatuan organisasi menjelang Muktamar NU,” ujar Gus Kautsar.
Salah satu poin utama dalam seruan tersebut adalah penolakan terhadap wacana perubahan syarat anggota AHWA. Menurut para masyayikh, AHWA merupakan forum keulamaan yang memiliki posisi strategis dalam mekanisme pemilihan Rais Aam PBNU sehingga harus tetap berpijak pada kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, keluasan pengabdian, serta pengakuan keulamaan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Karena itu, mereka meminta agar usulan penambahan syarat calon anggota AHWA yang mewajibkan berasal dari unsur pengurus syuriyah serta berbasis representasi kewilayahan tidak dilanjutkan dalam pembahasan Munas-Konbes.
“Karena itu, para masyayikh secara tegas meminta agar usulan penambahan syarat calon anggota AHWA yang mewajibkan berasal dari unsur pengurus syuriyah dan berbasis representasi kewilayahan dibatalkan,” kata Gus Kautsar.
Selain menyoroti AHWA, para ulama juga meminta agar usulan perubahan aturan mengenai larangan rangkap jabatan politik tidak diteruskan dalam forum Munas-Konbes.
Dalam seruan tersebut, para masyayikh menegaskan bahwa pesantren merupakan fondasi utama Nahdlatul Ulama sejak organisasi itu didirikan. Pesantren dinilai menjadi pusat transmisi ilmu, pembentukan akhlak, pelestarian tradisi, sekaligus tempat kaderisasi kepemimpinan ulama yang menjaga keberlangsungan jam’iyah.
Atas dasar itu, mereka berharap pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama Tahun 2026 tetap diselenggarakan di lingkungan pondok pesantren sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang organisasi.
“Pesantren merupakan rumah besar Nahdlatul Ulama, pusat transmisi ilmu, akhlak, tradisi, dan kepemimpinan keulamaan yang menjadi fondasi utama jam’iyah,” tegas Gus Kautsar menyampaikan isi seruan tersebut.
Poin lain yang disampaikan para masyayikh adalah ajakan kepada seluruh peserta, panitia, pimpinan, dan unsur organisasi yang terlibat dalam Munas-Konbes agar menjaga adab bermusyawarah serta mengedepankan ukhuwah dan kepentingan organisasi di atas berbagai perbedaan pandangan.
Mereka menilai penghormatan terhadap ulama dan pesantren merupakan modal utama bagi Nahdlatul Ulama dalam menjalankan peran keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Menurut para kiai, marwah organisasi tidak hanya ditentukan oleh keputusan yang dihasilkan dalam forum, tetapi juga oleh proses musyawarah yang berlangsung secara santun, penuh tanggung jawab, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan.
Seruan tersebut ditandatangani oleh sejumlah tokoh dan masyayikh senior Nahdlatul Ulama dari berbagai wilayah Indonesia. Di antaranya KH Nurul Huda Jazuli dari Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, KH Anwar Manshur dari Pondok Pesantren Lirboyo, KH A. Kafabihi Mahrus, KH Abdullah Ubab Maimoen, KH Ubaidillah Shodaqoh, KH Ali Kholil, KH Ahmad Syatibi Hambali, KH Mas’ud Masduqi, serta sejumlah tokoh nasional NU seperti KH Ma’ruf Amin, KH Said Aqil Siroj, dan KH Asep Saifuddin Chalim.
Kehadiran nama-nama tersebut dinilai menunjukkan besarnya perhatian kalangan ulama pesantren terhadap dinamika yang berkembang menjelang Munas-Konbes dan Muktamar NU.
Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2026 sendiri merupakan forum permusyawaratan tertinggi kedua di lingkungan Nahdlatul Ulama setelah Muktamar. Forum yang digelar di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso tersebut membahas berbagai isu strategis organisasi, rekomendasi keagamaan, serta sejumlah usulan yang akan menjadi bahan menuju pelaksanaan Muktamar NU mendatang.
Menutup seruan tersebut, para masyayikh memanjatkan doa agar Allah SWT senantiasa menjaga persatuan warga Nahdlatul Ulama, membimbing para pemimpinnya, serta melimpahkan keberkahan kepada para ulama, santri, dan seluruh pengabdi organisasi demi keberlangsungan jam’iyah yang berakar kuat pada tradisi pesantren.(res/aro)
Inspirasi
Hari Bhayangkara ke-80, Polres Kediri Kota Perkuat Toleransi Lewat Aksi Bersih-Bersih Masjid, Gereja, Pura, dan Vihara

Kediriselaludihati – Menyambut Hari Bhayangkara ke-80 yang diperingati pada 1 Juli 2026, Polres Kediri Kota menggelar bakti sosial berupa aksi bersih-bersih di sejumlah tempat ibadah lintas agama di wilayah Kota Kediri, Jumat (19/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Bakti Bhayangkara sekaligus wujud nyata pengabdian Polri kepada masyarakat.
Sejak pagi, personel Polres Kediri Kota bersama masyarakat dan pengurus tempat ibadah bergotong royong membersihkan lingkungan masjid, gereja, pura, hingga vihara. Kegiatan meliputi penyapuan halaman, pembersihan ruang ibadah, penataan area sekitar, hingga pengangkutan sampah agar lingkungan menjadi lebih bersih, nyaman, dan layak digunakan untuk beribadah.
Bakti sosial ini juga menjadi simbol komitmen Polres Kediri Kota dalam memperkuat semangat toleransi dan menjaga kerukunan antarumat beragama melalui aksi nyata yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Kapolres Kediri Kota AKBP Dr. Anggi Saputra Ibrahim, S.H., S.I.K., M.H., melalui Kasat Binmas AKP Cahyo Widodo menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu agenda dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80 yang mengusung semangat pengabdian Polri kepada masyarakat.
“Pelaksanaan Bakti Bhayangkara tidak hanya dilakukan di satu lokasi. Kemarin kami melaksanakan kegiatan di pura yang berada di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, kemudian hari ini dilanjutkan di Vihara Jaya Saccako, Kelurahan Semampir. Sementara itu, jajaran Polsek juga melaksanakan kegiatan serupa di masjid-masjid yang berada di wilayah hukumnya masing-masing,” ujar AKP Cahyo Widodo.
Menurutnya, melalui kegiatan tersebut Polri ingin menunjukkan kehadiran yang lebih dekat dengan masyarakat, bukan hanya sebagai institusi yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga sebagai mitra sosial yang aktif berkontribusi dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.
“Bakti sosial ini menjadi bentuk nyata kepedulian Polri terhadap lingkungan dan sarana ibadah masyarakat. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat sekaligus memperkuat sinergi antara Polri dan seluruh elemen masyarakat,” katanya.
AKP Cahyo menambahkan, semangat Hari Bhayangkara ke-80 menjadi momentum bagi seluruh anggota Polri untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik dan mempererat hubungan baik dengan masyarakat melalui berbagai program yang berdampak langsung.
Selama pelaksanaan kegiatan, personel kepolisian tampak berbaur dengan warga dan pengurus tempat ibadah. Mereka bekerja bersama membersihkan berbagai sudut area ibadah dengan penuh semangat gotong royong, menciptakan suasana yang akrab dan penuh kebersamaan.
Kehadiran jajaran Polres Kediri Kota juga mendapat apresiasi dari pengurus tempat ibadah maupun masyarakat sekitar. Mereka menilai kegiatan tersebut tidak hanya membantu menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman, tetapi juga memperkuat nilai toleransi serta kebersamaan di tengah keberagaman.
Bakti sosial bersih-bersih tempat ibadah merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang digelar Polres Kediri Kota dalam menyambut Hari Bhayangkara ke-80. Selain menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat, kegiatan tersebut diharapkan semakin mempererat kemitraan antara Polri dengan seluruh komponen masyarakat dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban yang aman, damai, dan kondusif di Kota Kediri.
Melalui momentum Hari Bhayangkara ke-80, Polres Kediri Kota menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat dengan mengedepankan nilai-nilai humanis, kepedulian sosial, serta semangat kebersamaan demi terwujudnya Kota Kediri yang harmonis dan sejahtera. (res/aro)
-
Peristiwa5 years agoNing Sheila Hasina Binti KH Zamzami Lirboyo Juara 1 MHQ 30 Juz , MTQ XIV Kapolda Jatim Cup
-
Peristiwa6 years agoPonpes Tarbiyatul Qur’an Al Falah Ploso Kediri Gelar Haflah dan Wisuda Khatmil Qur’an
-
Kriminal6 years agoJangan Coba Coba Balap Liar di Kota Kediri, Dihukum Dorong Motor Dua Kilometer
-
Uncategorized6 years ago6 Pelatihan Sertifikasi Gada Pratama di Mako Brimob Kediri Terima Anumerta Peserta Terbaik
-
Peristiwa6 years agoPengunjung Pasar Bolawen Kabupaten Kediri Diimbau Jaga Jarak dan Cuci Tangan
-
Peristiwa6 years agoRibuan Umat Muslim Ikuti Pengajian Rutin Malam Rabu Gus Lik Kediri
-
Peristiwa3 years agoInilah Kegiatan Malam Tirakatan Jumat Legi di Gereja Puhsarang
-
Inspirasi6 years agoMengenal Sosok Kasatreskrim AKP I Gusti Agung Ananta
