Connect with us

Inspirasi

Terakhir Direvitalisasi 1976, Jembatan Lama Kediri Dinilai Sudah Saatnya Dirawat Total

Published

on

Kediriselaludihati – Jembatan Lama Kota Kediri atau Brug over den Brantas te Kediri genap berusia 157 tahun pada 18 Maret 2026 sejak pertama kali dioperasikan sebagai bagian dari jalur Groote Postweg (jalan raya) pada masa pemerintahan kolonial Belanda, tepatnya pada 18 Maret 1869.

Untuk memperingati momen bersejarah tersebut, sejumlah pemerhati budaya dan sejarah yang mengatasnamakan Juru Wotan menggelar peringatan hari jadi Jembatan Lama pada 14 Maret 2026 di kawasan jembatan tersebut.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Imam Mubarok, peneliti sejarah Jembatan Lama Kediri sekaligus pemerhati cagar budaya.

Menurut Mubarok, pelaksanaan peringatan dimajukan dari tanggal sebenarnya karena 18 Maret 2026 berdekatan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, sehingga banyak pihak diperkirakan telah memasuki masa persiapan hari raya.

“Karena tanggal 18 Maret tahun ini berdekatan dengan Idul Fitri, maka peringatan ulang tahun jembatan dimajukan menjadi 14 Maret agar masyarakat tetap dapat mengikuti kegiatan dengan baik,” ujar Imam Mubarok yang akrab disapa Gus Barok.
Acara tersebut dihadiri Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, S.H., M.Kn, Wakil Wali Kota Qowimuddin Thoha, Wakapolres Kediri Kota Kompol Putu Gde Caka Pratyaksa Ratsuko, S.I.K., M.I.K., Mayor Inf. Ngatari selaku Pabung Kodim 0809 Kediri, jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Kota Kediri, Dewan Kebudayaan Daerah Kota Kediri, serta sejumlah pegiat sejarah dari berbagai daerah.

Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan, Jembatan Lama bukan sekadar penghubung wilayah di atas Sungai Brantas, melainkan juga bagian penting dari sejarah dan identitas Kota Kediri.

Menurut dia, jembatan yang telah berdiri lebih dari satu setengah abad itu menjadi saksi perkembangan kehidupan masyarakat sekaligus perjalanan budaya di Kota Kediri.

“Jembatan Lama ini bukan hanya sekadar jembatan yang menghubungkan dua wilayah, tetapi juga menjadi saksi perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat Kota Kediri. Karena itu, momentum peringatan ini bukan hanya untuk mengenang sejarah, tetapi juga merawat warisan yang telah menjadi identitas kota,” ujarnya.

Peluncuran Tenun Ikat Motif Jembatan Lama

Selain selamatan ulang tahun ke-157, peringatan ini juga dirangkaikan dengan peluncuran tenun ikat Bandar bermotif Jembatan Lama karya perajin tenun ikat asal Bandar Kidul, Slamet Sugiyanto dari Palugada.

Tenun ikat dengan motif Jembatan Lama tersebut kemudian dikenakan dan diperagakan oleh para penari dalam pertunjukan seni yang menjadi bagian dari rangkaian acara.

Para penari dari Sanggar Tari Gondho Arum membawakan tarian Beksan Mangu-Mangu dengan iringan musik karya Saras Swara Indonesia.

Tarian ini mengandung pesan moral yang mengingatkan manusia agar senantiasa menjalankan kewajiban beribadah serta menghargai sesama dalam kehidupan bermasyarakat.

Jembatan Besi Pertama di Jawa

Jembatan Lama Kediri dikenal sebagai salah satu karya teknik penting pada abad ke-19. Struktur jembatan ini menggunakan konstruksi besi yang ditopang oleh tiang sekrup yang ditanam di dasar Sungai Brantas.

“Jembatan di atas Sungai Brantas di Kediri ini merupakan jembatan besi pertama di Jawa, bahkan di dunia pada masa itu, dan dianggap sebagai adikarya teknik oleh insinyurnya, Sytze Westerbaan Muurling,” kata Imam Mubarok yang juga Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur, Sabtu (14/3).

Ia menambahkan, usia jembatan tersebut bahkan lebih tua dibandingkan Jembatan Brooklyn di Amerika Serikat yang selesai dibangun pada 1883 dan menghubungkan Manhattan dengan Brooklyn di New York City melintasi Sungai East.

Menurut Mubarok—yang akrab disapa Gus Barok—status Jembatan Lama Kediri sebagai cagar budaya peringkat nasional menuntut adanya pengelolaan yang sesuai dengan ketentuan hukum.

“Karena sudah menjadi cagar budaya peringkat nasional, pemanfaatan jembatan harus mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Tidak boleh digunakan sembarangan untuk kepentingan pribadi, instansi, partai politik, maupun organisasi kemasyarakatan,” ujarnya.

Ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional

Pada tahun 2022, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim menetapkan 15 cagar budaya peringkat nasional pada periode Januari hingga Oktober 2022.

Kelima belas cagar budaya tersebut terdiri atas empat benda cagar budaya, satu struktur cagar budaya, lima bangunan cagar budaya, serta lima situs cagar budaya yang tersebar di lima provinsi di Indonesia.

Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Mendikbudristek Nomor 58/M/2022, 59/M/2022, 60/M/2022, 61/M/2022, dan 145/M/2022.

Salah satu yang termasuk dalam daftar tersebut adalah Jembatan Lama Kota Kediri yang berada di Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Data mengenai sejarah pembangunan jembatan ini diperoleh Imam Mubarok dari berbagai sumber primer, termasuk buku Belanda berjudul Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek. Ia juga mendapat bantuan dari Olivier Johanes, pengamat budaya Indonesia di Belanda, dalam menelusuri sejarah panjang jembatan yang hingga kini masih berfungsi dengan baik.

Sebagai penghubung wilayah barat dan timur Kota Kediri, jembatan ini sejak awal memiliki peran strategis. Pada masa lalu, jembatan tersebut bahkan menjadi satu-satunya jalur penghubung transportasi antara wilayah Madiun dan Surabaya.

Dimensi dan Sejarah Penetapan

Jembatan Lama Kediri memiliki panjang 160 meter, lebar 5,80 meter, dan tinggi 7,50 meter dari permukaan air Sungai Brantas.

Jembatan ini ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 12 Maret 2019. Penetapan tersebut kemudian diperkuat melalui keputusan Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar pada 18 Maret 2019, bertepatan dengan peresmian Jembatan Brawijaya Kediri.

Sebelumnya, sejak 2015, Jembatan Lama Kediri telah tercatat sebagai objek diduga cagar budaya (ODCB). Penelitian terhadap berbagai sumber sejarah, baik dari Indonesia maupun Belanda, telah dilakukan oleh Imam Mubarok sejak 1 Maret 2013.

Sosok Insinyur di Balik Pembangunan

Dari sisi sejarah teknik, Jembatan Lama Kediri merupakan karya insinyur Belanda Sytze Westerbaan Muurling.

Ia lahir di Belanda pada 29 November 1836 dan meninggal dunia di Batavia pada 17 Oktober 1876. Muurling merupakan putra dari Dr. W. Muurling, seorang pendeta sekaligus profesor teologi.

Muurling menempuh pendidikan dasar di sekolah Austria sebelum melanjutkan pendidikan menengah. Ia sempat mengambil jurusan hukum di Groningen, namun terpaksa berhenti karena sakit.

Setelah pulih, pada 1854 ia mengikuti ujian masuk Royal Academy di Delft dan berhasil meraih gelar insinyur sipil pada 1859. Pada 4 Februari 1860, ia kemudian ditugaskan oleh Menteri Koloni Belanda untuk bekerja di kantor Direktur Pekerjaan Umum di Hindia Belanda.

Bertahan dari Banjir hingga Perang

Sejumlah foto dalam koleksi Kediri’s Photograph Museum di Jalan Kapten Tendean 66, Ngronggo, menunjukkan betapa tangguhnya konstruksi jembatan ini.

Jembatan tersebut beberapa kali diterjang derasnya arus Sungai Brantas. Banjir paling parah tercatat terjadi pada 1954 yang merobohkan pagar jembatan. Namun struktur utama jembatan tetap kokoh dan tidak bergeser sedikit pun.

Jembatan ini juga pernah menjadi bagian dari perayaan kerajaan Belanda ketika Putri Juliana menikah dengan Pangeran Bernhard pada 7 Januari 1937. Saat itu jembatan dihiasi lampu-lampu hias dari ujung ke ujung.

Selain itu, jembatan sempat mengalami peninggian setelah erupsi Gunung Kelud pada 1901. Proyek peninggian dimulai pada awal 1912 dan selesai pada 10 Maret 1912.

Pada masa perang kemerdekaan, jembatan ini bahkan pernah direncanakan untuk diledakkan oleh pihak penjajah Jepang. Namun rencana tersebut berhasil digagalkan sehingga jembatan tetap berdiri hingga kini.

Sudah 50 Tahun Tanpa Revitalisasi Besar
Revitalisasi besar terakhir terhadap Jembatan Lama dilakukan pada 1976 dan selesai pada 20 November 1976.

Menurut Imam Mubarok, dengan usia pemeliharaan yang telah mencapai setengah abad, sudah saatnya dilakukan perawatan dan pemeliharaan menyeluruh.

“Artinya pada tahun 2026 ini sudah 50 tahun sejak pemeliharaan besar terakhir dilakukan. Karena itu sudah saatnya dilakukan perawatan total agar jembatan tetap terpelihara,” kata Gus Barok.

Ia menegaskan bahwa proses pemeliharaan harus tetap berkonsultasi dengan Kementerian Kebudayaan maupun Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, mengingat statusnya sebagai cagar budaya konstruksi peringkat nasional.

Kronologi Pembangunan Jembatan Lama Kediri

16 Mei 1854
Pemerintah Hindia Belanda memutuskan membangun jembatan batu berdasarkan desain seorang kapten zeni dengan anggaran f 128.891,00.

1855
Pekerjaan dimulai. Namun muncul keberatan dari insinyur kepala Waterstaatsafdeeling Surabaya karena tiang batu besar dinilai dapat menghambat aliran sungai.

September 1859
Fondasi penopang jembatan sisi barat selesai dibangun.

Juli 1861
Pemasangan paku bumi di tengah sungai mengalami kendala teknis. Anggaran membengkak hingga f 73.000,00 sehingga pekerjaan dihentikan.

1 Mei 1862
Insinyur Sytze Westerbaan Muurling mengajukan desain alternatif berupa jembatan besi dengan anggaran f 230.825,00.

27 April 1863
Tender pembangunan di Batavia gagal.

30 Desember 1863
Tender kedua melalui penunjukan langsung juga gagal.

31 Juli 1865
Tender ketiga berhasil dengan nilai kontrak f 212.000,00.

18 September 1865
Pembangunan jembatan besi dimulai dengan target penyelesaian dua tahun.

18 September 1867
Proyek mengalami keterlambatan akibat kendala teknis.

11 Maret 1869
Pekerjaan selesai dan jembatan dinyatakan lulus uji coba.

18 Maret 1869
Jembatan resmi dibuka untuk umum.

Sumber:
J. van Velzen, De ijzeren brug over de Kediri-rivier, ter hoofdplaats van de Residentie Kediri, dalam majalah Tijdschrift van het Koninklijk Instituut van Ingenieurs. Afdeeling Nederlandsch-Indië, 1877, hlm. 65–72. (res/aro)

Continue Reading

Inspirasi

63 Personel Reskrim Jalani Pemeriksaan, Seluruh Hasil Tes Dinyatakan Negatif Narkoba

Published

on

Kediriselaludihati – Upaya menjaga integritas aparat tidak cukup hanya dilakukan melalui pengawasan terhadap pelaksanaan tugas di lapangan. Pengawasan juga menyentuh kondisi internal personel, termasuk memastikan anggota kepolisian terbebas dari penyalahgunaan narkotika.

Langkah itu dilakukan Polres Kediri Kota melalui pemeriksaan urine terhadap personel fungsi Reskrim, Senin (24/8/2026). Sebanyak 63 personel mengikuti pemeriksaan yang digelar Seksi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polres Kediri Kota.

Pemeriksaan dimulai sekitar pukul 08.30 WIB di Mako Polres Kediri Kota, Jalan KDP Slamet Nomor 2, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Kegiatan diawali dengan pengarahan kepada seluruh personel sebelum menjalani pemeriksaan urine sesuai prosedur. Kabag SDM Polres Kediri Kota Kompol Riko Saksono, S.E., turut hadir bersama jajaran Sie Propam.

Dari 63 personel yang mengikuti pemeriksaan, seluruhnya dinyatakan negatif narkoba.

Kasi Propam Polres Kediri Kota mengatakan, pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari mitigasi dan pengawasan internal untuk mencegah penyalahgunaan narkoba di lingkungan kepolisian.

“Pemeriksaan ini merupakan langkah pencegahan sekaligus deteksi dini. Anggota Polri memiliki tanggung jawab dalam penegakan hukum, sehingga integritas itu harus dimulai dari internal,” ujarnya.

Menurut dia, pengawasan tidak semata-mata dilakukan ketika ditemukan pelanggaran. Langkah preventif diperlukan agar potensi persoalan dapat diketahui dan dicegah sejak awal.

“Propam bukan hanya menjalankan fungsi penindakan terhadap pelanggaran anggota. Pencegahan juga penting. Kami ingin memastikan personel memahami bahwa profesionalisme dan disiplin harus dijaga dalam pelaksanaan tugas maupun kehidupan sehari-hari,” katanya.

Pemeriksaan terhadap fungsi Reskrim juga memiliki arti penting karena personel pada satuan tersebut bersentuhan langsung dengan proses penyelidikan dan penyidikan berbagai perkara pidana, termasuk kasus yang berkaitan dengan narkotika.

Karena itu, kebersihan internal menjadi bagian penting dalam menjaga kredibilitas proses penegakan hukum.

Hasil negatif terhadap seluruh personel yang diperiksa menjadi catatan positif, namun pengawasan internal tetap diperlukan secara berkelanjutan.

Polres Kediri Kota menempatkan pemeriksaan urine sebagai salah satu instrumen pencegahan, bukan sekadar kegiatan administratif. Pengawasan secara berkala diharapkan dapat mempersempit ruang terjadinya pelanggaran sekaligus membangun budaya kerja yang disiplin dan bertanggung jawab.

Kapolres Kediri Kota AKBP Wisnu menegaskan bahwa pemberantasan narkoba harus berjalan konsisten, baik keluar maupun ke dalam institusi.

“Ketika Polri melakukan penegakan hukum terhadap penyalahgunaan narkoba di masyarakat, maka anggota sendiri harus terlebih dahulu memastikan dirinya bersih. Tidak boleh ada ruang bagi penyalahgunaan narkoba di lingkungan Polri,” tegas AKBP Wisnu.

Menurutnya, integritas personel menjadi salah satu fondasi kepercayaan publik terhadap kepolisian. Karena itu, setiap anggota dituntut menjaga perilaku dan profesionalisme sesuai tanggung jawab yang diemban.

Pemeriksaan terhadap 63 personel tersebut sekaligus menegaskan bahwa upaya memerangi penyalahgunaan narkoba tidak hanya diarahkan kepada masyarakat. Pengawasan juga dilakukan dari dalam tubuh kepolisian sebagai bagian dari menjaga integritas aparat dan kepercayaan masyarakat terhadap proses penegakan hukum. (res/aro)

Continue Reading

Inspirasi

Tekankan Peran Bhabinkamtibmas, AKBP Wisnu Minta Polisi Adaptif dan Dekat dengan Masyarakat

Published

on

Kediriselaludihati- Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto, S.H., S.I.K., M.Si., melakukan kunjungan kerja ke jajaran Polsek Kota dan Polsek Mojoroto, Senin (24/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi internal, mengecek kesiapsiagaan personel, sekaligus menyerap langsung berbagai kebutuhan serta kendala yang dihadapi anggota di tingkat Polsek.

Dalam kunjungan tersebut, Kapolres Kediri Kota didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Kediri Kota Ny. Aie Wisnu, Wakapolres Kediri Kota Kompol Putu Gde Caka Pratyaksa Ratsuko, S.I.K., M.I.K., serta para pejabat utama Polres Kediri Kota.

Rombongan pertama mendatangi Mako Polsek Kota. Kedatangan Kapolres disambut Kapolsek Kota Kompol Bowo Wicaksono, S.Sos., bersama jajaran anggota.

Kegiatan diawali dengan pengecekan Sistem Pengamanan Markas Komando (Sispam Mako), pemeriksaan area mako dan zone escape, serta peninjauan UMKM Bhayangkari Ranting Kota.

Kapolsek Kota Kompol Bowo Wicaksono menyampaikan bahwa wilayah hukum Polsek Kota yang mencakup 17 kelurahan secara umum dalam kondisi terjaga dengan dukungan 68 personel Polri dan 5 ASN.

“Pelaksanaan tugas Bhabinkamtibmas di masing-masing wilayah berjalan dengan baik. Sampai saat ini belum terdapat kegiatan maupun permasalahan menonjol yang mengganggu situasi kamtibmas,” kata Kompol Bowo.

Dalam arahannya, Kapolres Kediri Kota AKBP Wisnu menegaskan bahwa tantangan kepolisian saat ini membutuhkan kedekatan yang lebih kuat dengan masyarakat.

Menurutnya, jumlah personel yang ada harus diimbangi dengan kemampuan membangun komunikasi dan kolaborasi bersama warga.

“Dengan jumlah personel yang terbatas, tentunya kita tidak mungkin mengamankan seluruh wilayah secara maksimal tanpa dukungan masyarakat. Karena itu hubungan dengan masyarakat harus terus dibangun,” ujar AKBP Wisnu.

Ia juga menekankan pentingnya optimalisasi peran Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak kepolisian yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

“Bhabinkamtibmas harus menjadi mata dan telinga Polri di tengah masyarakat. Setiap kendala maupun kebutuhan di lapangan harus disampaikan agar bisa segera dievaluasi dan dicarikan solusi,” jelasnya.

AKBP Wisnu juga meminta jajarannya mampu menyesuaikan pola komunikasi dengan perkembangan zaman, terutama menghadapi karakter generasi muda.

“Kita harus mampu masuk ke dunia generasi Z. Jangan hanya menggunakan cara lama, tetapi harus menyesuaikan cara komunikasi dan pelayanan dengan kondisi masyarakat saat ini,” katanya.

Selain itu, Kapolres mengingatkan agar proses penegakan hukum dilakukan secara profesional sesuai aturan yang berlaku.

“Dalam setiap proses hukum harus dilaksanakan sesuai prosedur agar tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari,” tegasnya.

Dalam sesi dialog, sejumlah anggota menyampaikan aspirasi terkait kegiatan sosial masyarakat yang membutuhkan partisipasi personel serta pola penyelesaian permasalahan internal anggota.

Menanggapi hal tersebut, Kapolres menyampaikan bahwa setiap bentuk partisipasi harus tetap memperhatikan aturan dan tidak menimbulkan persepsi negatif terhadap institusi Polri.

Setelah dari Polsek Kota, rombongan melanjutkan kunjungan ke Mako Polsek Mojoroto. Kedatangan Kapolres disambut Wakapolsek Mojoroto AKP Wilu Suwandoko bersama anggota.

Di Polsek Mojoroto, Kapolres kembali melakukan pengecekan Sispam Mako dan meninjau UMKM Bhayangkari Ranting Mojoroto sebelum memberikan arahan kepada personel.

Wakapolsek Mojoroto AKP Wilu Suwandoko menyampaikan bahwa wilayah hukum Polsek Mojoroto saat ini didukung 63 personel yang terdiri dari 60 anggota Polri dan 3 ASN.

Ia menjelaskan bahwa secara umum situasi kamtibmas berjalan baik, namun tetap diperlukan perhatian terhadap potensi gangguan keamanan, termasuk aktivitas kelompok perguruan silat.

Dalam arahannya, AKBP Wisnu meminta seluruh personel meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.

“Setiap anggota harus mampu memprediksi dan mengantisipasi skenario terburuk, terutama dalam pengamanan markas komando. Kesiapan bukan hanya ketika terjadi gangguan, tetapi harus dibangun sejak awal,” ujarnya.

Kapolres kembali mengingatkan bahwa hakikat tugas Polri adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Kita harus meluruskan pola pikir bahwa masyarakat membutuhkan kita. Polri hadir untuk melayani, melindungi, dan mengayomi masyarakat,” kata AKBP Wisnu.

Ia juga menegaskan posisi Bhabinkamtibmas sebagai wajah Polri di tengah masyarakat.

“Bhabinkamtibmas adalah ujung tombak Polres Kediri Kota. Karena mereka yang paling sering bersentuhan langsung dengan masyarakat,” tambahnya.

Dalam dialog bersama anggota, sejumlah kebutuhan operasional turut disampaikan, di antaranya kondisi fasilitas ruang SPKT, kendaraan dinas Bhabinkamtibmas, serta kebutuhan sarana pendukung fungsi Reskrim.

Terkait hal tersebut, Kapolres meminta agar kebutuhan personel dipetakan dan diajukan sesuai skala prioritas.

“Kebutuhan yang sudah menjadi ketentuan agar didata, mana yang bisa dipenuhi secara internal dan mana yang membutuhkan dukungan pemerintah daerah,” jelasnya.

Kunjungan kerja tersebut ditutup dengan ramah tamah dan foto bersama. Melalui kegiatan ini, Polres Kediri Kota berupaya memperkuat komunikasi antara pimpinan dan anggota sekaligus memastikan pelayanan kepolisian kepada masyarakat terus berjalan optimal. (res/aro)

Continue Reading

Inspirasi

Ngopi Bareng Awak Media, Kapolres Kediri Kota Buka Ruang Komunikasi dan Kritik untuk Perkuat Kamtibmas

Published

on

Kediriselaludihati- Kapolres Kediri Kota AKBP Wisnu memperkuat komunikasi dengan insan pers melalui kegiatan Ngopi Bareng Awak Media (Piramida) bersama organisasi wartawan dan pimpinan media di Kediri Raya, Rabu (19/8/2026) sore.

Pertemuan yang berlangsung di Pawon Mak Gomah, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus membangun kolaborasi antara kepolisian dan media dalam menghadirkan informasi yang positif serta menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Pejabat Utama (PJU) Polres Kediri Kota bersama perwakilan organisasi wartawan, di antaranya Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), serta sejumlah pimpinan media di wilayah Kediri Raya.

Dalam suasana santai dan penuh keakraban, Kapolres Kediri Kota bersama awak media membahas berbagai dinamika yang berkembang di masyarakat, sekaligus pentingnya komunikasi terbuka antara kepolisian dan pers.

Ketua PWI Kediri Raya Bambang Ishwahyoedhi mengatakan, hubungan antara kepolisian dan media memiliki peran strategis dalam membangun suasana yang aman serta memberikan informasi yang berimbang kepada masyarakat.

“Ini menjadi poin penting sebagai bentuk sinergitas antara kepolisian dengan media. Melalui pemberitaan, kita juga bisa ikut menciptakan keamanan dan kenyamanan,” kata Bambang.

Menurutnya, media tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dalam membantu menciptakan suasana yang kondusif melalui pemberitaan yang mengedepankan fakta dan kepentingan publik.

“Persoalan keamanan bukan hanya menjadi tanggung jawab kepolisian, tetapi juga berbagai pihak termasuk media. Peran media sangat diperlukan untuk menciptakan situasi yang aman,” ujarnya.

Bambang mengapresiasi langkah Kapolres Kediri Kota yang membuka ruang komunikasi bersama insan pers. Menurutnya, hubungan yang baik antara kepolisian dan media akan memudahkan penyampaian informasi kepada masyarakat sekaligus menjadi ruang evaluasi bersama.

Ia berharap kegiatan seperti Piramida dapat dilakukan secara berkelanjutan karena perkembangan situasi masyarakat dan kebutuhan informasi publik terus mengalami perubahan.

“Beliau ingin kebersamaan. Masalah keamanan bukan hanya polisi saja, tetapi media juga memiliki peran. Beliau juga terbuka terhadap kritik, saran, dan masukan,” ungkapnya.

Sementara itu, melalui kegiatan tersebut, AKBP Wisnu menunjukkan komitmennya untuk membangun komunikasi yang terbuka dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk insan pers.

Bagi kepolisian, media merupakan mitra strategis dalam menyampaikan pesan-pesan kamtibmas, mengedukasi masyarakat, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi Polri.

Komunikasi yang terbangun antara kepolisian dan media diharapkan mampu menghadirkan pemberitaan yang memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dalam menjaga suasana Kediri Kota tetap aman dan nyaman.

Silaturahmi tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun kedekatan antara Polres Kediri Kota dengan berbagai unsur masyarakat. Dengan komunikasi yang berjalan baik, berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat dapat direspons secara lebih cepat dan tepat.

AKBP Wisnu sebelumnya juga menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keamanan. Menurutnya, keamanan bukan hanya tugas kepolisian, melainkan tanggung jawab bersama.

Melalui sinergi antara kepolisian dan media, diharapkan tercipta ekosistem informasi yang sehat, kritis, dan tetap mengedepankan kepentingan masyarakat Kota Kediri. (res/aro)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 kediriselaludihati.com

You cannot copy content of this page