Inspirasi
Terakhir Direvitalisasi 1976, Jembatan Lama Kediri Dinilai Sudah Saatnya Dirawat Total

Kediriselaludihati – Jembatan Lama Kota Kediri atau Brug over den Brantas te Kediri genap berusia 157 tahun pada 18 Maret 2026 sejak pertama kali dioperasikan sebagai bagian dari jalur Groote Postweg (jalan raya) pada masa pemerintahan kolonial Belanda, tepatnya pada 18 Maret 1869.
Untuk memperingati momen bersejarah tersebut, sejumlah pemerhati budaya dan sejarah yang mengatasnamakan Juru Wotan menggelar peringatan hari jadi Jembatan Lama pada 14 Maret 2026 di kawasan jembatan tersebut.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Imam Mubarok, peneliti sejarah Jembatan Lama Kediri sekaligus pemerhati cagar budaya.
Menurut Mubarok, pelaksanaan peringatan dimajukan dari tanggal sebenarnya karena 18 Maret 2026 berdekatan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, sehingga banyak pihak diperkirakan telah memasuki masa persiapan hari raya.
“Karena tanggal 18 Maret tahun ini berdekatan dengan Idul Fitri, maka peringatan ulang tahun jembatan dimajukan menjadi 14 Maret agar masyarakat tetap dapat mengikuti kegiatan dengan baik,” ujar Imam Mubarok yang akrab disapa Gus Barok.
Acara tersebut dihadiri Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, S.H., M.Kn, Wakil Wali Kota Qowimuddin Thoha, Wakapolres Kediri Kota Kompol Putu Gde Caka Pratyaksa Ratsuko, S.I.K., M.I.K., Mayor Inf. Ngatari selaku Pabung Kodim 0809 Kediri, jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Kota Kediri, Dewan Kebudayaan Daerah Kota Kediri, serta sejumlah pegiat sejarah dari berbagai daerah.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan, Jembatan Lama bukan sekadar penghubung wilayah di atas Sungai Brantas, melainkan juga bagian penting dari sejarah dan identitas Kota Kediri.
Menurut dia, jembatan yang telah berdiri lebih dari satu setengah abad itu menjadi saksi perkembangan kehidupan masyarakat sekaligus perjalanan budaya di Kota Kediri.
“Jembatan Lama ini bukan hanya sekadar jembatan yang menghubungkan dua wilayah, tetapi juga menjadi saksi perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat Kota Kediri. Karena itu, momentum peringatan ini bukan hanya untuk mengenang sejarah, tetapi juga merawat warisan yang telah menjadi identitas kota,” ujarnya.
Peluncuran Tenun Ikat Motif Jembatan Lama
Selain selamatan ulang tahun ke-157, peringatan ini juga dirangkaikan dengan peluncuran tenun ikat Bandar bermotif Jembatan Lama karya perajin tenun ikat asal Bandar Kidul, Slamet Sugiyanto dari Palugada.
Tenun ikat dengan motif Jembatan Lama tersebut kemudian dikenakan dan diperagakan oleh para penari dalam pertunjukan seni yang menjadi bagian dari rangkaian acara.
Para penari dari Sanggar Tari Gondho Arum membawakan tarian Beksan Mangu-Mangu dengan iringan musik karya Saras Swara Indonesia.
Tarian ini mengandung pesan moral yang mengingatkan manusia agar senantiasa menjalankan kewajiban beribadah serta menghargai sesama dalam kehidupan bermasyarakat.
Jembatan Besi Pertama di Jawa
Jembatan Lama Kediri dikenal sebagai salah satu karya teknik penting pada abad ke-19. Struktur jembatan ini menggunakan konstruksi besi yang ditopang oleh tiang sekrup yang ditanam di dasar Sungai Brantas.
“Jembatan di atas Sungai Brantas di Kediri ini merupakan jembatan besi pertama di Jawa, bahkan di dunia pada masa itu, dan dianggap sebagai adikarya teknik oleh insinyurnya, Sytze Westerbaan Muurling,” kata Imam Mubarok yang juga Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur, Sabtu (14/3).
Ia menambahkan, usia jembatan tersebut bahkan lebih tua dibandingkan Jembatan Brooklyn di Amerika Serikat yang selesai dibangun pada 1883 dan menghubungkan Manhattan dengan Brooklyn di New York City melintasi Sungai East.
Menurut Mubarok—yang akrab disapa Gus Barok—status Jembatan Lama Kediri sebagai cagar budaya peringkat nasional menuntut adanya pengelolaan yang sesuai dengan ketentuan hukum.
“Karena sudah menjadi cagar budaya peringkat nasional, pemanfaatan jembatan harus mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Tidak boleh digunakan sembarangan untuk kepentingan pribadi, instansi, partai politik, maupun organisasi kemasyarakatan,” ujarnya.
Ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional
Pada tahun 2022, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim menetapkan 15 cagar budaya peringkat nasional pada periode Januari hingga Oktober 2022.
Kelima belas cagar budaya tersebut terdiri atas empat benda cagar budaya, satu struktur cagar budaya, lima bangunan cagar budaya, serta lima situs cagar budaya yang tersebar di lima provinsi di Indonesia.
Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Mendikbudristek Nomor 58/M/2022, 59/M/2022, 60/M/2022, 61/M/2022, dan 145/M/2022.
Salah satu yang termasuk dalam daftar tersebut adalah Jembatan Lama Kota Kediri yang berada di Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Data mengenai sejarah pembangunan jembatan ini diperoleh Imam Mubarok dari berbagai sumber primer, termasuk buku Belanda berjudul Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek. Ia juga mendapat bantuan dari Olivier Johanes, pengamat budaya Indonesia di Belanda, dalam menelusuri sejarah panjang jembatan yang hingga kini masih berfungsi dengan baik.
Sebagai penghubung wilayah barat dan timur Kota Kediri, jembatan ini sejak awal memiliki peran strategis. Pada masa lalu, jembatan tersebut bahkan menjadi satu-satunya jalur penghubung transportasi antara wilayah Madiun dan Surabaya.
Dimensi dan Sejarah Penetapan
Jembatan Lama Kediri memiliki panjang 160 meter, lebar 5,80 meter, dan tinggi 7,50 meter dari permukaan air Sungai Brantas.
Jembatan ini ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 12 Maret 2019. Penetapan tersebut kemudian diperkuat melalui keputusan Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar pada 18 Maret 2019, bertepatan dengan peresmian Jembatan Brawijaya Kediri.
Sebelumnya, sejak 2015, Jembatan Lama Kediri telah tercatat sebagai objek diduga cagar budaya (ODCB). Penelitian terhadap berbagai sumber sejarah, baik dari Indonesia maupun Belanda, telah dilakukan oleh Imam Mubarok sejak 1 Maret 2013.
Sosok Insinyur di Balik Pembangunan
Dari sisi sejarah teknik, Jembatan Lama Kediri merupakan karya insinyur Belanda Sytze Westerbaan Muurling.
Ia lahir di Belanda pada 29 November 1836 dan meninggal dunia di Batavia pada 17 Oktober 1876. Muurling merupakan putra dari Dr. W. Muurling, seorang pendeta sekaligus profesor teologi.
Muurling menempuh pendidikan dasar di sekolah Austria sebelum melanjutkan pendidikan menengah. Ia sempat mengambil jurusan hukum di Groningen, namun terpaksa berhenti karena sakit.
Setelah pulih, pada 1854 ia mengikuti ujian masuk Royal Academy di Delft dan berhasil meraih gelar insinyur sipil pada 1859. Pada 4 Februari 1860, ia kemudian ditugaskan oleh Menteri Koloni Belanda untuk bekerja di kantor Direktur Pekerjaan Umum di Hindia Belanda.
Bertahan dari Banjir hingga Perang
Sejumlah foto dalam koleksi Kediri’s Photograph Museum di Jalan Kapten Tendean 66, Ngronggo, menunjukkan betapa tangguhnya konstruksi jembatan ini.
Jembatan tersebut beberapa kali diterjang derasnya arus Sungai Brantas. Banjir paling parah tercatat terjadi pada 1954 yang merobohkan pagar jembatan. Namun struktur utama jembatan tetap kokoh dan tidak bergeser sedikit pun.
Jembatan ini juga pernah menjadi bagian dari perayaan kerajaan Belanda ketika Putri Juliana menikah dengan Pangeran Bernhard pada 7 Januari 1937. Saat itu jembatan dihiasi lampu-lampu hias dari ujung ke ujung.
Selain itu, jembatan sempat mengalami peninggian setelah erupsi Gunung Kelud pada 1901. Proyek peninggian dimulai pada awal 1912 dan selesai pada 10 Maret 1912.
Pada masa perang kemerdekaan, jembatan ini bahkan pernah direncanakan untuk diledakkan oleh pihak penjajah Jepang. Namun rencana tersebut berhasil digagalkan sehingga jembatan tetap berdiri hingga kini.
Sudah 50 Tahun Tanpa Revitalisasi Besar
Revitalisasi besar terakhir terhadap Jembatan Lama dilakukan pada 1976 dan selesai pada 20 November 1976.
Menurut Imam Mubarok, dengan usia pemeliharaan yang telah mencapai setengah abad, sudah saatnya dilakukan perawatan dan pemeliharaan menyeluruh.
“Artinya pada tahun 2026 ini sudah 50 tahun sejak pemeliharaan besar terakhir dilakukan. Karena itu sudah saatnya dilakukan perawatan total agar jembatan tetap terpelihara,” kata Gus Barok.
Ia menegaskan bahwa proses pemeliharaan harus tetap berkonsultasi dengan Kementerian Kebudayaan maupun Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, mengingat statusnya sebagai cagar budaya konstruksi peringkat nasional.
Kronologi Pembangunan Jembatan Lama Kediri
16 Mei 1854
Pemerintah Hindia Belanda memutuskan membangun jembatan batu berdasarkan desain seorang kapten zeni dengan anggaran f 128.891,00.
1855
Pekerjaan dimulai. Namun muncul keberatan dari insinyur kepala Waterstaatsafdeeling Surabaya karena tiang batu besar dinilai dapat menghambat aliran sungai.
September 1859
Fondasi penopang jembatan sisi barat selesai dibangun.
Juli 1861
Pemasangan paku bumi di tengah sungai mengalami kendala teknis. Anggaran membengkak hingga f 73.000,00 sehingga pekerjaan dihentikan.
1 Mei 1862
Insinyur Sytze Westerbaan Muurling mengajukan desain alternatif berupa jembatan besi dengan anggaran f 230.825,00.
27 April 1863
Tender pembangunan di Batavia gagal.
30 Desember 1863
Tender kedua melalui penunjukan langsung juga gagal.
31 Juli 1865
Tender ketiga berhasil dengan nilai kontrak f 212.000,00.
18 September 1865
Pembangunan jembatan besi dimulai dengan target penyelesaian dua tahun.
18 September 1867
Proyek mengalami keterlambatan akibat kendala teknis.
11 Maret 1869
Pekerjaan selesai dan jembatan dinyatakan lulus uji coba.
18 Maret 1869
Jembatan resmi dibuka untuk umum.
Sumber:
J. van Velzen, De ijzeren brug over de Kediri-rivier, ter hoofdplaats van de Residentie Kediri, dalam majalah Tijdschrift van het Koninklijk Instituut van Ingenieurs. Afdeeling Nederlandsch-Indië, 1877, hlm. 65–72. (res/aro)
Inspirasi
Apel Kunjungan di Kediri, Komjen Pol Karyoto Tekankan Pendekatan Humanis dan Kebugaran Personel

Kediriselaludihati- Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri, Komjen Pol Karyoto,S..I.K menyoroti masih kurangnya kehadiran anggota Polri di tengah masyarakat saat melakukan kunjungan kerja ke Polres Kediri Kota, Senin (20/4/2026).
Sorotan itu disampaikan dalam amanatnya saat memimpin apel di lapangan Mako Polres Kediri Kota yang diikuti ratusan personel gabungan, mulai dari jajaran Polres, Bhabinkamtibmas, hingga unsur Damkar dan BPBD.
“Kehadiran kami bertujuan untuk melihat secara langsung serta memotret bagaimana perilaku anggota Polri di lapangan, khususnya yang bersentuhan langsung dengan masyarakat,” ujar Karyoto dalam amanatnya.

Ia menegaskan, berdasarkan sejumlah hasil survei internal, masih terdapat kekurangan dalam hal kehadiran polisi di ruang publik, terutama dalam kondisi berseragam. Hal tersebut dinilai menjadi catatan penting bagi seluruh jajaran untuk segera diperbaiki.
“Masih terdapat kekurangan dalam hal kehadiran anggota Polri di tengah masyarakat, khususnya dalam kondisi berseragam untuk menjadi perhatian penting,” kata Komjen Pol Karyoto.
Apel tersebut dipimpin langsung oleh Karyoto, dengan Komandan Apel Kapolres Kediri Kota, AKBP Anggi Saputra Ibrahim. Kegiatan berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga 10.00 WIB dengan rangkaian upacara yang berjalan tertib, mulai dari penghormatan pasukan hingga pemeriksaan kendaraan dinas.
Selain jajaran internal Polri, kegiatan ini juga dihadiri sejumlah pejabat dari Polda Jawa Timur, di antaranya Brigjen Pol Muhammad Rudy Syarifudin dan Brigjen Pol Mokhamad Ngajib, serta pejabat utama Polres Kediri Kota.
Dalam arahannya, Karyoto juga mengingatkan agar inovasi yang dilakukan anggota Polri tidak keluar dari tujuan utama pelayanan publik. Ia menyinggung adanya praktik-praktik yang dinilai kurang tepat dan berpotensi mengganggu masyarakat.
“Saya tidak menginginkan adanya inovasi yang berlebihan dan tidak tepat sasaran, seperti anggota kepolisian yang menggunakan atribut tertentu untuk berjualan atau kegiatan yang justru berpotensi mengganggu mata pencaharian masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sikap humanis dalam setiap pelaksanaan tugas kepolisian. Menurutnya, sikap sopan santun bukan hanya menjadi tuntutan profesional, tetapi juga bagian dari nilai moral yang harus dijunjung tinggi oleh setiap anggota.
“Anggota polisi harus selalu bersikap sopan karena itu sebagai ladang amal kebaikan,” kata Karyoto.
Selain aspek pelayanan, Kabaharkam juga menyoroti pentingnya kondisi fisik personel, khususnya Bhabinkamtibmas yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Ia meminta seluruh anggota menjaga kebugaran sebagai penunjang utama pelaksanaan tugas.
“Kepada seluruh anggota, khususnya Bhabinkamtibmas, agar senantiasa menjaga kesehatan dan kebugaran fisik serta tetap mengedepankan sikap sopan santun dalam bertugas,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa Polri bersama TNI dan relawan merupakan garda terdepan dalam penanganan bencana, sehingga kesiapsiagaan harus terus ditingkatkan melalui latihan bersama.
Apel kunjungan tersebut ditutup dengan pemeriksaan kendaraan dinas roda dua dan roda empat serta peralatan Dalmas. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, lancar, dan kondusif.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya evaluasi sekaligus penguatan peran Polri di tingkat daerah, khususnya dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat secara langsung. (res/aro)
Inspirasi
Ngopi Kamtibmas Jadi Wadah Aspirasi Warga, Polisi Tekankan Pelayanan Humanis

Kediriselaludihati – Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri Komjen Pol Karyoto , S.I.K menghadiri kegiatan Ngopi Kamtibmas bersama masyarakat Kota Kediri yang dirangkaikan dengan peluncuran ronda digital berbasis integrasi CCTV, Senin (20/4/2026) malam.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Kecamatan Kota, Kota Kediri, mulai pukul 19.45 WIB hingga 21.45 WIB tersebut juga dihadiri Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, jajaran Forkopimda, serta ratusan perwakilan masyarakat.
Dalam sambutannya, Wali Kota Kediri menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dalam menjaga keamanan lingkungan. Menurut dia, integrasi CCTV dalam sistem ronda digital memungkinkan masyarakat memantau kondisi wilayah secara lebih efektif.
“Dengan kemajuan teknologi, kita bisa memantau dari rumah dan tetap menjalankan ronda secara digital. Ini adalah bentuk gotong royong berbasis teknologi,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi inovasi yang telah dilakukan di tingkat kelurahan dan kecamatan, serta berharap program tersebut dapat direplikasi di wilayah lain.
Sementara itu, Kabaharkam Polri menegaskan bahwa penggunaan teknologi harus tetap diimbangi dengan kehadiran aparat di lapangan. Ia menilai sinergi antara masyarakat dan aparat menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas keamanan.
“Kami berharap di tingkat RT dan RW dibentuk forum kamtibmas, dan di tingkat lebih tinggi ada sinergi antar-stakeholder. Teknologi membantu, tetapi kehadiran Polri dan TNI tetap sangat dibutuhkan,” kata Komjen Karyoto.
Ia juga memberikan penekanan kepada seluruh jajaran kepolisian agar mengedepankan pendekatan humanis dalam melayani masyarakat.
“Layani masyarakat dengan baik dan humanis, jangan sekali-kali menyakiti masyarakat,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Camat Kota Kediri melaporkan bahwa implementasi CCTV di wilayahnya telah membantu mengungkap sejumlah kasus kejahatan. Selain itu, pihak kecamatan juga tengah mengembangkan inovasi ronda digital menggunakan drone sebagai pendukung pengawasan.
Acara dilanjutkan dengan dialog interaktif antara masyarakat dan para pejabat yang hadir, memberikan ruang bagi warga untuk menyampaikan aspirasi, masukan, serta laporan terkait situasi kamtibmas di lingkungan mereka.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, dilakukan pula penyerahan bantuan sarana kamtibmas secara simbolis, yang diharapkan dapat menunjang upaya menjaga keamanan di tingkat masyarakat.
Kapolres Kediri Kota AKBP Anggi Saputra Ibrahim menyampaikan bahwa kegiatan Ngopi Kamtibmas menjadi sarana efektif untuk memperkuat komunikasi antara kepolisian dan masyarakat.
“Kegiatan ini menjadi wadah untuk menyerap aspirasi masyarakat sekaligus memperkuat sinergi dalam menjaga keamanan dan ketertiban,” ujarnya. (res/aro)
Inspirasi
Kapolres Tekankan Disiplin dan Kepatuhan SOP dalam Penggunaan Senjata Api
Kediriselaludihati – Polres Kota Kediri menggelar latihan menembak bagi personel sebagai bagian dari peningkatan kemampuan teknis kepolisian, Jumat (10/4/2026). Kegiatan tersebut dilaksanakan di Lapangan Tembak Wirasatya Polres Kediri Kota usai apel pagi.
Latihan dipimpin langsung oleh Kapolres Kediri Kota AKBP Anggi Saputra Ibrahim dan diikuti oleh para pejabat utama (PJU), Kapolsek jajaran, serta personel di lingkungan Polres Kediri Kota.
Kapolres mengatakan, latihan menembak merupakan salah satu bentuk pembinaan rutin untuk menjaga profesionalisme anggota, khususnya dalam penggunaan senjata api. Kemampuan tersebut dinilai penting dalam mendukung pelaksanaan tugas di lapangan yang membutuhkan ketepatan dan kehati-hatian.
“Latihan ini bukan sekadar rutinitas, tetapi sebagai sarana untuk mengasah kemampuan serta meningkatkan kepercayaan diri anggota dalam bertugas,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya disiplin dan keselamatan selama pelaksanaan latihan. Seluruh personel diingatkan untuk mematuhi standar operasional prosedur (SOP) dalam penggunaan senjata api guna menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Menurut dia, pemahaman terhadap SOP menjadi kunci utama dalam penggunaan senjata api secara profesional dan bertanggung jawab. Hal ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Polri dalam menjaga kepercayaan masyarakat.
Dalam pelaksanaan latihan, peserta mengikuti sejumlah tahapan, mulai dari pengecekan senjata, pemahaman teknik dasar menembak, hingga praktik langsung di lapangan tembak. Setiap tahapan dilakukan di bawah pengawasan instruktur untuk memastikan keamanan dan ketepatan prosedur.
Suasana latihan terlihat tertib dan penuh antusiasme. Para peserta mengikuti arahan instruktur dengan serius, menunjukkan komitmen dalam meningkatkan kemampuan individu.
Melalui kegiatan ini, Polres Kediri Kota berharap seluruh personel semakin terampil, profesional, dan siap menghadapi berbagai tantangan tugas di lapangan. Peningkatan kemampuan tersebut diharapkan berdampak pada kualitas pelayanan kepada masyarakat yang semakin optimal. (res/aro)
-
Peristiwa5 years agoNing Sheila Hasina Binti KH Zamzami Lirboyo Juara 1 MHQ 30 Juz , MTQ XIV Kapolda Jatim Cup
-
Peristiwa6 years agoPonpes Tarbiyatul Qur’an Al Falah Ploso Kediri Gelar Haflah dan Wisuda Khatmil Qur’an
-
Kriminal6 years agoJangan Coba Coba Balap Liar di Kota Kediri, Dihukum Dorong Motor Dua Kilometer
-
Uncategorized6 years ago6 Pelatihan Sertifikasi Gada Pratama di Mako Brimob Kediri Terima Anumerta Peserta Terbaik
-
Peristiwa6 years agoPengunjung Pasar Bolawen Kabupaten Kediri Diimbau Jaga Jarak dan Cuci Tangan
-
Peristiwa6 years agoRibuan Umat Muslim Ikuti Pengajian Rutin Malam Rabu Gus Lik Kediri
-
Peristiwa3 years agoInilah Kegiatan Malam Tirakatan Jumat Legi di Gereja Puhsarang
-
Inspirasi6 years agoMengenal Sosok Kasatreskrim AKP I Gusti Agung Ananta
