Inspirasi
Kapolres Wisnu Ajak Elemen Masyarakat Bersatu: Jangan Biarkan Perbedaan Menjadi Pemicu Konflik
Kediriselalaludihati – Pemerintah Kota Kediri bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Kediri mengumpulkan berbagai elemen masyarakat dalam Dialog Kebangsaan bertema “Merawat Bhineka Tunggal Ika, Memperkuat Persatuan Bangsa di Tengah Polarisasi dan Ruang Digital” di Ruang Jayabaya Kantor Pemerintah Kota Kediri, Selasa (11/8/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan unsur pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, organisasi masyarakat, perguruan pencak silat, mahasiswa, komunitas, hingga insan pers untuk membahas tantangan menjaga persatuan bangsa di tengah perkembangan teknologi informasi.
Walikota Kediri Vinanda Prameswati, S.H., M.Kn., mengatakan ruang digital saat ini memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, masyarakat diminta lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi.
“Jangan sampai kita gampang percaya terhadap suatu isu yang beredar di media sosial. Sebelum percaya, kita harus melakukan pengecekan apakah berita tersebut asli atau hoaks,” ujar Vinanda.
Menurutnya, penyebaran informasi yang tidak benar dapat menjadi pemicu perpecahan apabila tidak disikapi dengan kedewasaan.
Ia menegaskan, keberagaman pandangan maupun perbedaan pilihan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang harus dihormati.
“Jangan sampai adanya isu intoleransi menjadi sarana untuk memecah belah persatuan. Perbedaan itu indah karena adanya rasa toleransi,” katanya.
Vinanda menyampaikan pembangunan Kota Kediri membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, dan kelompok sosial lainnya.
“Kita membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat. Dengan kebersamaan tersebut, Kota Kediri akan menjadi lebih aman, rukun, dan maju,” ujar Vinanda.
Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto, S.H., S.I.K., M.Si., dalam dialog tersebut mengajak seluruh peserta menjadikan forum kebangsaan sebagai ruang komunikasi bersama.
Menurutnya, menjaga keamanan dan persatuan bukan hanya menjadi tugas aparat, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat.
“Dialog ini merupakan kegiatan yang sangat baik. Saya berharap forum ini digunakan untuk mengembalikan pikiran kita bersama bagaimana memajukan dan menjaga Kota Kediri,” kata Wisnu.
Kapolres menyoroti pentingnya peran organisasi masyarakat dan perguruan pencak silat dalam menjaga kondusivitas wilayah.
Dengan banyaknya perguruan pencak silat di Kota Kediri, ia berharap seluruh pihak dapat membangun kolaborasi dan mengedepankan persaudaraan.
“Kita ingin mewujudkan bahwa organisasi pencak silat tidak menjadi sesuatu yang ditakuti masyarakat, tetapi menjadi bagian yang ikut menjaga Kota Kediri,” ujarnya.
Wisnu juga mengingatkan agar seluruh pihak berhati-hati dalam menyampaikan informasi, terutama melalui media sosial.
“Untuk wartawan maupun masyarakat, berita harus sesuai kenyataan dan harus difilter terlebih dahulu mana yang perlu dipublikasikan. Jangan sampai informasi yang disampaikan justru menimbulkan konflik baru,” katanya.
Ketua DPRD Kota Kediri Dra. Firdaus mengatakan nilai Bhineka Tunggal Ika harus terus dirawat melalui pendidikan dan pembentukan karakter masyarakat.
Menurutnya, generasi muda harus mendapatkan pemahaman bahwa perbedaan bukan menjadi alasan untuk saling menjauh.
“Kita punya warisan suri teladan yang harus diteruskan kepada anak-anak kita. Pendidikan menjadi bagian penting agar masyarakat memiliki pola pikir positif,” ujar Firdaus.
Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri Kota Kediri Rivo Chandra Makarupa Medellu mengingatkan seluruh pihak agar setiap persoalan dikembalikan pada aturan hukum yang berlaku.
“Negara kita adalah negara hukum. Setiap perbedaan pendapat kita kembalikan kepada Pancasila, musyawarah, dan aturan hukum yang berlaku,” katanya.
Dalam sesi dialog, sejumlah tokoh menyampaikan pandangan terkait upaya menjaga persatuan di Kota Kediri.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Kediri Moh. Salim menekankan pentingnya memperbanyak komunikasi dan silaturahmi antar kelompok masyarakat.
“Dengan bertemunya tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemerintah, ini menjadi sarana mempererat kerukunan bangsa,” ujarnya.
Perwakilan perguruan silat Pagar Nusa Kota Kediri Anas menyampaikan bahwa penyampaian aspirasi harus tetap mengedepankan etika.
“Kita boleh menyampaikan aspirasi, tetapi harus memperhatikan etika. Kalau ada anggota yang melakukan tindakan kriminal, jangan dilakukan pembelaan,” katanya.
Perwakilan PSHT Kota Kediri P16 Amon juga meminta adanya penguatan koordinasi antara perguruan silat dan aparat keamanan.
Menurut dia, keamanan Kota Kediri merupakan tanggung jawab bersama.
Perwakilan Kodim 0809 Kediri Mayor Inf. Ngatari menyampaikan bahwa menjaga kebhinekaan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, terutama dalam memberikan edukasi kepada generasi muda.
Ia menyinggung pentingnya mencegah anak-anak muda terlibat dalam tindakan yang dapat merugikan masa depan mereka.
Ketua PWI Kota Kediri Bambang Iswahyoedhi juga mengajak masyarakat meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya.
Menurutnya, media memiliki tanggung jawab dalam menjaga ruang publik tetap sehat.
Menutup dialog, Kapolres Kediri Kota kembali mengajak seluruh peserta membangun komitmen bersama menjaga Kota Kediri.
Ia mengatakan keamanan wilayah tidak dapat diwujudkan hanya dengan pendekatan aparat, tetapi membutuhkan kesadaran seluruh masyarakat.
“Kalau rekan-rekan semua punya visi menjaga Kota Kediri, saya yakin kerusuhan tidak akan terjadi,” ujar AKBP Wisnu.
Dialog Kebangsaan tersebut menjadi ruang konsolidasi berbagai kelompok masyarakat untuk memperkuat komunikasi, membangun toleransi, serta menjaga nilai kebhinekaan dalam kehidupan sosial masyarakat Kota Kediri. (res/aro)
Inspirasi
Propam Cek Kehadiran Personel Polres Kediri Kota Usai Apel Pagi
Kediriselaludihati – Seksi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polres Kediri Kota melakukan pengecekan kehadiran personel Polri dan ASN sekaligus penegakan ketertiban dan disiplin atau Gaktibplin seusai apel pagi, Kamis (24/9/2026).
Apel yang dimulai pukul 07.30 WIB tersebut dipimpin IPTU Wina Nurwarida, S.H. Personel dari berbagai bagian, satuan dan seksi mengikuti kegiatan sebelum dilanjutkan pemeriksaan oleh Propam.
Pengecekan tidak sebatas mencatat siapa yang berada di lapangan apel. Propam juga mendata personel yang tidak hadir beserta keterangannya, mulai menjalankan dinas, lepas dinas, operasi, pendidikan, cuti, izin hingga sakit.
Kasipropam Polres Kediri Kota IPTU Bambang Heri Muljono, S.H. mengatakan pendataan tersebut diperlukan agar keberadaan setiap personel dapat dipertanggungjawabkan.
“Absensi dilakukan terhadap personel Polri maupun ASN Polri. Anggota yang tidak berada di lapangan apel tetap didata keterangannya, apakah sedang dinas, lepas dinas, sakit, izin maupun menjalankan tugas lainnya,” kata IPTU Bambang.
Berdasarkan rekapitulasi Propam, tingkat kehadiran pada masing-masing satuan berbeda karena sebagian personel sedang menjalankan tugas kedinasan.
Sat Samapta misalnya memiliki 72 personel. Sebanyak 36 hadir dalam apel, sedangkan lainnya tercatat 27 menjalankan dinas, delapan lepas dinas dan satu sakit.
Pada Satreskrim, dari 67 personel sebanyak 14 mengikuti apel. Personel lainnya tercatat menjalankan dinas, lepas dinas, kegiatan operasional serta tugas menjaga tahanan.
Sementara sejumlah fungsi tercatat hadir lengkap, di antaranya Sattahti sebanyak enam personel, Satbinmas 15 personel, Siwas empat personel, Sikeu enam personel, Sikum empat personel dan Sium enam personel.
“Jumlah anggota yang tidak mengikuti apel tidak serta-merta berarti tidak masuk kerja. Karena itu setiap ketidakhadiran harus memiliki keterangan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Bambang.
Seusai apel, kegiatan dilanjutkan dengan Gaktibplin. Langkah tersebut menjadi bagian dari fungsi pengawasan internal untuk memastikan anggota menjalankan ketentuan kedinasan dan menjaga disiplin.
Menurut Bambang, pengawasan internal perlu dilakukan secara konsisten karena kedisiplinan personel berhubungan langsung dengan pelaksanaan tugas pelayanan kepolisian kepada masyarakat.
“Disiplin dimulai dari internal. Kehadiran, kesiapan menjalankan tugas dan kepatuhan terhadap ketentuan harus terus diawasi. Gaktibplin menjadi salah satu cara kami melakukan kontrol tersebut,” katanya.
Pengecekan disiplin Kamis pagi juga berlangsung pada hari yang sama dengan pemeriksaan urine narkoba terhadap personel fungsi Reskrim. Sebanyak 33 personel yang mengikuti pemeriksaan urine tersebut dinyatakan negatif narkoba.
Dua kegiatan itu menjadi bagian dari pengawasan internal Polres Kediri Kota, mulai dari kedisiplinan kehadiran hingga pencegahan penyalahgunaan narkoba di lingkungan kepolisian. (res/aro)
Inspirasi
Jelang Habib Syech di Lirboyo, Gus Bidin dan Kapolres Kediri Kota Soroti Konvoi serta Flyer Perguruan

Kediriselaludihati- Potensi konvoi dan gesekan antarkelompok setelah kegiatan besar di kawasan Lirboyo menjadi pembicaraan serius dalam pertemuan Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto, S.H., S.I.K., M.Si. dengan KH Badrul Huda Zainal Abidin atau Gus Bidin di kawasan Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Rabu (23/9/2026).
Pertemuan berlangsung di kediaman Gus Bidin di Jalan Abdul Karim, Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, mulai pukul 11.05 hingga 12.20 WIB.
Dalam silaturahmi tersebut, Gus Bidin yang merupakan Dewan Khos Pagar Nusa Pusat berbicara panjang mengenai dinamika kegiatan pesantren, tradisi pencak dor hingga munculnya ajakan melalui flyer di media sosial yang terkadang mengaitkan kegiatan Lirboyo dengan kelompok perguruan silat tertentu.
Gus Bidin menegaskan kegiatan pengajian maupun sholawatan yang diselenggarakan di Lirboyo pada dasarnya bukan kegiatan perguruan silat.
“Dalam kegiatan pondok seperti pengajian maupun sholawatan sudah ada imbauan untuk tidak mengundang perguruan mana pun dan dalam kegiatan dilarang memakai atribut perguruan,” kata Gus Bidin.
Persoalan justru kerap muncul ketika sebuah kegiatan di Lirboyo kemudian beredar di media sosial dengan narasi atau flyer yang mengajak kelompok tertentu untuk hadir.
Menurut Gus Bidin, kondisi semacam itu berpotensi mendorong konvoi di jalan dan membuka kemungkinan terjadinya perselisihan setelah kegiatan selesai.
Ia mencontohkan kegiatan sholawatan yang menghadirkan Habib Syech. Kegiatan keagamaan semacam itu, menurutnya, terkadang ikut dikaitkan dengan perguruan tertentu sehingga berpotensi memunculkan konvoi.
“Mohon ada shock therapy dari pihak kepolisian ke oknum perguruan saat kegiatan di Lirboyo, karena kegiatan di Lirboyo sendiri bukan kegiatan perguruan. Namun oleh oknum-oknum sering diunggah melalui flyer untuk mengajak anggota perguruan menghadiri kegiatan di Lirboyo,” ujarnya.
Perhatian tersebut semakin penting karena dalam waktu dekat Lirboyo dijadwalkan menggelar kegiatan bersama Habib Syech sekitar 8 Oktober 2026.
“Dalam acara tersebut mohon antisipasi akun-akun orang yang tidak bertanggung jawab yang dapat memicu adanya konvoi dalam kegiatan tersebut,” kata Gus Bidin.
Pencak Dor Ikut Dibahas
Selain kegiatan keagamaan, pembicaraan cukup panjang menyentuh pencak dor, tradisi pertarungan di atas panggung bambu yang memiliki hubungan panjang dengan lingkungan pesantren dan masyarakat Kediri.
Gus Bidin menjelaskan pencak dor bukan milik satu perguruan tertentu. Pesertanya bahkan tidak harus berasal dari satu kelompok pencak silat.
“Pencak dor sebenarnya bukan milik salah satu perguruan. Semua perguruan bisa ikut, bahkan bukan dari pencak silat saja,” katanya.
Ia menggambarkan pencak dor sebagai kegiatan tradisional dengan panggung yang dibuat menggunakan bambu. Menurutnya, tata pelaksanaan dan aspek keselamatan dalam kegiatan juga telah berkembang, termasuk penyediaan ambulans.
“Dalam kegiatan pencak dor yang diselamatkan dua orang, yang jatuh maupun yang menjatuhkan,” ujar Gus Bidin menggambarkan filosofi yang menyertai tradisi tersebut.
Gus Bidin juga membedakan antara situasi ketika pencak dor berlangsung dengan persoalan yang dapat muncul setelah acara.
Menurut dia, kegiatan di lokasi pada umumnya dapat berlangsung tertib. Persoalan justru berpotensi terjadi ketika massa meninggalkan lokasi dan muncul konvoi di perjalanan.
“Pencak dor baik di luar maupun di area pondok saat kegiatan sangat aman, namun pasca kegiatan sering dipakai ajang konvoi sehingga banyak ditemukan perselisihan di perjalanan,” katanya.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan periode sebelum pandemi Covid-19. Saat itu, pencak dor menurut Gus Bidin dapat berlangsung setiap satu atau dua minggu dengan lokasi berpindah-pindah.
Kini situasinya dinilai berbeda karena kegiatan pencak dor terkadang diikuti mobilisasi kelompok yang berpotensi menimbulkan persoalan di jalan.
Karena itu, Gus Bidin meminta kepolisian ikut mengantisipasi penyebaran flyer di media sosial yang berpotensi mengundang konvoi.
“Saya harapkan dari pihak kepolisian saat kegiatan pondok maupun pencak dor, tim cyber bisa mengantisipasi flyer yang beredar sehingga tidak memicu kegiatan konvoi perguruan,” ujarnya.
AKBP Wisnu: Kita Saling Komunikasi
Kapolres Kediri Kota AKBP Wisnu menyatakan pertemuan tersebut sekaligus menjadi kesempatan dirinya bersilaturahmi setelah sekitar dua bulan menjalankan tugas di Kediri Kota.
“Saya merupakan orang baru di sini. Intinya mohon maaf baru bisa silaturahmi karena sudah dua bulan kami bertugas, baru bisa silaturahmi ke sini,” kata AKBP Wisnu.
Ia kemudian memperkenalkan para pejabat Polres Kediri Kota yang ikut dalam rombongan.
Hadir Wakapolres Kediri Kota Kompol Putu Gde Caka Pratyaksa Ratsuko, S.I.K., M.I.K., Kabag Ops Kompol Iwan Setyo Budhi, S.H., Kasat Lantas AKP Septia Intan Putri, S.T.K., S.I.K., M.H., Kasat Intelkam AKP Laksono Setiawan, S.H., M.H., Kasat Reskrim AKP Achmad Elyasarif M., S.T.K., S.I.K., serta Kaur Regident Iptu Adnan.
AKBP Wisnu mengatakan kepolisian membutuhkan informasi mengenai agenda-agenda besar di lingkungan pesantren, termasuk pencak dor, agar langkah antisipasi dapat disiapkan sejak awal.
“Kita mintakan data terkait kegiatan pondok, terutama kegiatan pencak dor, karena pasca kegiatan tersebut sering banyak kejadian,” katanya.
Menurut Wisnu, pola pengamanan juga perlu melihat perbedaan antara pencak dor yang digelar di lingkungan pesantren dan kegiatan serupa di luar pondok.
“Kita nanti saling komunikasi dan koordinasi bila memang ada kegiatan di Lirboyo maupun kegiatan pencak dor, baik di Lirboyo maupun di luar Ponpes Lirboyo, untuk antisipasi adanya kegiatan konvoi dalam acara tersebut,” ujar AKBP Wisnu.
Kapolres juga menggali pandangan Gus Bidin mengenai kemungkinan adanya aturan yang lebih baku dalam penyelenggaraan pencak dor, khususnya terkait keselamatan peserta dan pengelolaan massa.
Pertemuan turut membahas rencana kegiatan pencak dor yang disebut akan diselenggarakan Pemerintah Kota Kediri. AKBP Wisnu meminta pandangan Gus Bidin sebagai salah satu bahan pertimbangan kepolisian terkait rekomendasi kegiatan tersebut.
“Kita di sini juga sharing kepada Gus Bidin terkait kegiatan di Lirboyo maupun rencana pencak dor yang diselenggarakan oleh Pemkot sebagai bahan untuk pertimbangan pemberian izin rekomendasi dalam kegiatan tersebut,” kata Wisnu.
Gus Bidin menyampaikan pihaknya bukan panitia resmi dalam rencana tersebut. Jika kegiatan benar-benar dilaksanakan, ia berharap aturan mengenai atribut perguruan dan pembatasan peserta dibuat secara jelas.
Menurutnya, pengaturan semacam itu penting agar pencak dor tetap ditempatkan sebagai tradisi, bukan berubah menjadi ruang untuk menunjukkan rivalitas kelompok.
AKBP Wisnu menutup pembicaraan dengan menekankan pentingnya jalur komunikasi antara kepolisian dan lingkungan Lirboyo.
“Saya harapkan kita bisa saling koordinasi dan bekerja sama dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Kota Kediri,” ujarnya.
Pertemuan tersebut turut dihadiri KH Muhtadi Makmun atau Gus Muh serta Gus Ali, Ketua Yayasan Gus Maksum Jauhari Lirboyo.
Silaturahmi kemudian ditutup dengan foto bersama. Pembicaraan selama lebih dari satu jam itu menghasilkan satu perhatian yang sama: kegiatan pesantren maupun tradisi pencak dor perlu dijaga agar tidak bergeser menjadi pemicu mobilisasi dan perselisihan di jalan akibat tindakan segelintir orang. (res/aro)
Inspirasi
AKBP Wisnu Tinjau SPPG dan TK Kemala Bhayangkari, Pengawasan MBG Diperketat dari Dapur hingga Siswa

Kediriselaludihati- Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto, S.H., S.I.K., M.Si., meninjau dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta dua TK Kemala Bhayangkari di Kota Kediri, Rabu (16/9/2026).
Kunjungan sejak pukul 07.00 hingga 10.10 WIB itu dilakukan untuk mengecek fasilitas sekaligus mengawasi proses penyediaan dan pendistribusian Makan Bergizi Gratis (MBG) agar makanan yang diterima siswa memenuhi standar kualitas, higienitas dan kelayakan konsumsi.
Empat lokasi yang dikunjungi masing-masing SPPG Polri Semampir 1, TK Kemala Bhayangkari 42, TK Kemala Bhayangkari 41 serta SPPG 3 Polres Kediri Kota.
AKBP Wisnu didampingi Ketua Pengurus Yayasan Kemala Bhayangkari Cabang Kediri Kota Ny. Aie Wisnu, Wakapolres Kediri Kota Kompol Putu Gde Caka Prastyaka Ratsuko, S.I.K., M.I.K., pejabat utama Polres Kediri Kota, Kapolsek Kediri Kota Kompol Bowo Wicaksono, S.Sos., serta pengurus Bhayangkari Cabang Kediri Kota.
Kunjungan pertama dilakukan di SPPG Polri Semampir 1. Rombongan tiba sekitar pukul 07.00 WIB dan diterima Kepala SPPG Semampir 1 Polres Kediri Kota Anastasya Sukma Kundhalini bersama karyawan.
Di lokasi tersebut, AKBP Wisnu mengecek fasilitas yang digunakan dalam pelayanan pemenuhan gizi sebelum rombongan melanjutkan kunjungan ke TK Kemala Bhayangkari 42 sekitar pukul 07.30 WIB.
Kapolres dan rombongan tiba di TK Kemala Bhayangkari 42 sekitar pukul 07.45 WIB. Selain memeriksa fasilitas sekolah, AKBP Wisnu mengikuti senam bersama anak-anak dan menyaksikan pembagian MBG kepada siswa.
Kunjungan tersebut sekaligus menjadi bagian dari pengawasan terhadap makanan yang disalurkan SPPG Yayasan Kemala Bhayangkari kepada peserta didik.
AKBP Wisnu menekankan bahwa proses penyediaan dan penyaluran MBG perlu mendapat perhatian agar manfaat program benar-benar diterima peserta didik secara optimal.
“Pelayanan, penyediaan dan penyaluran harus semakin baik sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh seluruh peserta didik,” kata AKBP Wisnu, merujuk pada penekanan dalam kegiatan tersebut.
Menurut Wisnu, pengawasan langsung diperlukan untuk mengantisipasi persoalan dalam proses penyediaan maupun distribusi makanan kepada siswa.
Perhatian tidak hanya diarahkan pada kelancaran distribusi, tetapi juga kualitas dan higienitas makanan sebelum dikonsumsi anak-anak.
Dalam laporan kegiatan disebutkan, menu MBG yang disiapkan SPPG Polri Yayasan Kemala Bhayangkari Cabang Kediri Kota melalui proses pemeriksaan dan standar operasional prosedur (SOP) sebelum didistribusikan.
Setiap paket makanan diperiksa sebelum disalurkan kepada siswa untuk memastikan kelayakannya.
“Setiap paket makanan dicek sebelum didistribusikan kepada para siswa untuk memastikan kualitas, higienitas dan kelayakan konsumsi,” kata Wisnu, berdasarkan penekanan dalam pengawasan MBG tersebut.
Setelah menyelesaikan kunjungan di TK Kemala Bhayangkari 42, rombongan bergerak menuju TK Kemala Bhayangkari 41 sekitar pukul 08.40 WIB.
Rombongan tiba sekitar pukul 09.00 WIB dan diterima Kepala TK Kemala Bhayangkari 41 Erwin Pujiana, S.Pd., bersama para guru.
AKBP Wisnu kembali memeriksa fasilitas sekolah. Dalam kunjungan tersebut juga dilakukan pembagian suvenir sebelum rombongan melanjutkan perjalanan ke SPPG 3 Polres Kediri Kota.
Sekitar pukul 09.40 WIB, Kapolres bersama rombongan tiba di SPPG 3 Polres Kediri Kota dan diterima Kepala SPPG Billy Walfa Fitrada bersama karyawan.
Pengecekan kembali difokuskan pada fasilitas SPPG yang menjadi bagian dari mata rantai penyediaan makanan bagi peserta didik.
Pengawasan terhadap SPPG menjadi perhatian karena kualitas makanan harus dijaga sejak tahap penyediaan hingga diterima siswa. Pemeriksaan sebelum distribusi menjadi salah satu tahapan untuk mencegah makanan yang tidak memenuhi standar sampai kepada penerima.
Selain kesiapan fasilitas, proses kerja di SPPG juga berkaitan langsung dengan kemampuan layanan menyediakan makanan dalam kondisi layak konsumsi.
Kunjungan ke sekolah kemudian menjadi bagian untuk melihat sisi akhir dari proses tersebut, yakni ketika makanan didistribusikan kepada peserta didik.
Rangkaian pengecekan empat lokasi berakhir sekitar pukul 10.10 WIB setelah rombongan meninggalkan SPPG 3 Polres Kediri Kota.
Kunjungan tersebut menempatkan pengawasan MBG tidak hanya pada jumlah makanan yang dapat disalurkan, tetapi juga pada proses sebelum makanan sampai ke tangan siswa.
Pemeriksaan fasilitas, penerapan SOP, pengecekan makanan dan pemantauan distribusi menjadi tahapan yang harus berjalan beriringan agar pelayanan pemenuhan gizi bagi peserta didik dapat diberikan sesuai standar. (res/aro)
-
Peristiwa6 years agoNing Sheila Hasina Binti KH Zamzami Lirboyo Juara 1 MHQ 30 Juz , MTQ XIV Kapolda Jatim Cup
-
Peristiwa7 years agoPonpes Tarbiyatul Qur’an Al Falah Ploso Kediri Gelar Haflah dan Wisuda Khatmil Qur’an
-
Kriminal7 years agoJangan Coba Coba Balap Liar di Kota Kediri, Dihukum Dorong Motor Dua Kilometer
-
Uncategorized6 years ago6 Pelatihan Sertifikasi Gada Pratama di Mako Brimob Kediri Terima Anumerta Peserta Terbaik
-
Peristiwa6 years agoPengunjung Pasar Bolawen Kabupaten Kediri Diimbau Jaga Jarak dan Cuci Tangan
-
Peristiwa7 years agoRibuan Umat Muslim Ikuti Pengajian Rutin Malam Rabu Gus Lik Kediri
-
Peristiwa3 years agoInilah Kegiatan Malam Tirakatan Jumat Legi di Gereja Puhsarang
-
Inspirasi7 years agoMengenal Sosok Kasatreskrim AKP I Gusti Agung Ananta
