Peristiwa
Laksanakan Amanat UU 11/2010 Tentang Cagar Budaya, Kapolres Kediri Kota Kunjungi Goa Seloangleng
Kediriselaludihati – Kota Kediri memiliki banyak obyek wisata sejarah , karena Kadhiri atau Kediri sudah ada sejak abad ke 8. Hal inilah yang menjadikan Kediri memiliki nilai sejarah dibandingkan wilayah lain di Indonesia. Tidak hanya memiliki sejarah masa lalu tapi juga sesuatu yang sakral sebagai ‘gugon tuhon” ( cerita tutur yang dipegang) yang sekarang masih diugemi ( dipegang dari mas masa ke masa) yakni jika kepala negara datang ke Kediri akan turun jabatan.
Sebagai bentuk pelestarian sejarah dan kebudayaan menjadi tanggungjawab bersama sesuai dengan UU 11/2010 tentang cagar budaya. Tak terkecuali Kepolisian Republik Indonesia, yakni perihal pengamanan. Hal inilah yang dilakukan Kapolres Kediri Kota AKBP Bramastyo Priaji, S.H, S.IK, M.Si bersama Kapolsek Mojoroto Kompol Mukhlason,S.H bersama PJU Polres Kediri Kita yang mengunjungi Goa Seloangleng, sebuah goa batu peninggalan Kerajaan Prabu Airlangga di Panjalu/Pangjalu Khaduru dengan ibukotanya Dhaha yang kemudian ibukota ini dikenal dengan Jalan Dhoho.
“Saya bersama PJU dan Kapolsek Mojoroto melakukan kunjungan ke tempat-tempat sejarah salah satunya Goa Selomangleng. Selain ingin belajar juga memastikan keamanan peninggalan sejarah yang luar biasa ini yang wajib dilindungi sesuai amanat UU 11/2010 tentang cagar budaya,” kata AKBP Bramastyo Priaji, S.H, S.IK, M.Si, Kapolres Kediri Kota.
Tentang Kerajaan Pangjalu/Panjalu/ Kadhiri Hal ini sesuai dengan Prasasti Pamotan/Pamwatan yang dikeluarkan raja Airlangga tahun 965 Saka atau 1043 Masehi. Menurut L.C Damais tepatnya tanggal 20 November 0142. Isi Prarasasti ini menggunakan Bahasa Jawa Kuno, ditemukan di Desa Pamotan Kecamatan Sambeng Kabupaten Lamongan Jawa Timur . Prasasti in hilang dicuri tahun 2003 . Dari Prasasti ini dapat diperkirakan bahwa ibukota Kerajaan Pangjalu/Panjalu/Kadhiri saat itu ialah Dhahanapura yang sekarang kita kenal dengan Jalan Dhoho Kota Kediri.
Goa ini merupakan Goa buatan manusia yang sudah ada sejak masa kerajaan pada saat itu. Selomangleng berasal dari kata Selo dan mangleng yang merupakan istilah dalam bahasa Jawa. Kata Selo mempunyai arti yaitu batu, sedangkan mangleng mempunyai arti yaitu mangklung atau menjorok keluar.
Goa ini adalah peninggalan Dewi Kilisuci Putri Raja Airlangga. Goa ini merupakan tempat bertapanya Sanggramawijaya Tunggadewi yang bergelar Rakryan Mahamantri i Hino Sanggramawijaya Dharmaprasada Uttunggadewi atau lebih dikenal oleh masyarakat Kediri sebagai Dewi Kili Suci
Goa Selomangleng adalah goa batu yang sengaja dibuat oleh manusia, bukan goa yang terbentuk dari proses alam. Kawasan ini memiliki kompleksitas daya tarik wisata yang tidak dimiliki oleh objek wisata lain di kota Kediri, yaitu potensi alam kawasan wisata yang terletak pada lereng Gunung Klotok (472 m) dan dihadapkan pada Gunung Maskumambang (300 m) serta adanya situs arkeologis sejarah Kota Kediri.
Salah satu daya tarik dari Goa Selomangleng adalah beberapa peninggalan arca dan relief yang ada disekitar goa. Dari relief dan artefak yang terdapat di Goa Selomangleng tersebut akan di data dan dianalisis untuk mendapatkan pola dasar.
Pola dasar dari hasil analisis tersebut akan ditransformasikan menjadi bentuk massa bangunan dari perancangan taman wisata di kawasan Goa Selomangleng. Perancangan taman wisata ini untuk menunjang pelestarian kawasan dan sebagai wadah yang selain berfungsi sebagai tempat wisata juga sebagai tempat edukasi akan budaya sejarah bagi masyarakat kota Kediri dan sekitar.
Di dalam Goa Selomangleng Kediri banyak terdapat pahatan-pahatan relief, seperti relief garudeya, relief medalion, relief kapala kala, relief kehidupan, relief pasetran, relief motif awan atau megamendung, dan lain sebagainya.
Relief Garudeya yang ada di Goa Selomangleng Kediri berceritakan tentang pembebasan. Dalam ceritanya pembebasan ini dilakukan oleh Garuda dalam membebaskan ibunya, yaitu Dewi Winata dari belenggu perbudakan Dewi Kadru dan para ular naga. Cara yang dilakukan Garuda dalam membebaskan ibunya adalah berkelana mencari tirta amerta, karena air tersebut merupakan syarat yang diberikan para ular naga kepada Garuda untuk menebus ibunya.
Garuda merupakan hewan yang terkenal sebagai kendaraan atau wahana dari Dewa Wisnu. Selain itu, di Indonesia sendiri garuda dijadikan sebagai lambang negara yang disebut sebagai Garuda Pancasila. Dalam proses pemilihan lambang negara Indonesia tidak dapat terjadi begitu saja, akan tetapi harus melewati berbagi perubahan. Cerita Garudeya sendiri merupakan salah satu dasar yang menjadikan Garuda digunakan sebagai lambang negara Indonesia. (***)
Penulis : Imam Mubarok, Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri
Peristiwa
Pengabdian Puluhan Tahun Berakhir dengan Penghormatan, 26 Personel Polres Kediri Kota Diantar Naik Becak
Kediriselaludihati.com – Suasana haru mewarnai prosesi wisuda purna bhakti 26 personel Polres Kediri Kota yang dipimpin langsung Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto, S.H., S.I.K., M.Si., Kamis (22/10/2026).
Prosesi pelepasan anggota Polri dan pegawai negeri pada Polri (PNPP) yang memasuki masa pensiun tersebut berlangsung di Ruang Rapat Utama (Rupatama) dan halaman Mapolres Kediri Kota.
Tidak sekadar menyerahkan penghargaan, AKBP Wisnu bersama Ketua Bhayangkari Cabang Kediri Kota memberikan penghormatan kepada para purnawirawan melalui pengalungan medali, penyerahan bunga, hingga tradisi pedang pora.
Puncak acara berlangsung ketika para wisudawan berjalan melewati barisan pedang pora sebelum diantar menggunakan becak mengelilingi lingkungan Mapolres Kediri Kota.
Prosesi tersebut menjadi simbol penghormatan institusi kepada para personel yang telah menyelesaikan masa pengabdiannya di kepolisian.
Sebanyak 26 personel yang mengikuti wisuda purna bhakti merupakan anggota Polri dan pegawai negeri pada Polri yang memasuki masa pensiun dalam periode Juni 2025 hingga Oktober 2026.
Kegiatan dimulai sekitar pukul 09.00 WIB dan dihadiri Wakapolres Kediri Kota, para pejabat utama, kapolsek jajaran, pengurus Bhayangkari, serta anggota Polres Kediri Kota.
Turut hadir Ketua Persatuan Purnawirawan (PP) Polri Kota Kediri bersama jajaran pengurusnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan pembacaan doa dan ramah tamah.
Dua perwakilan personel purna bhakti mendapat kesempatan menyampaikan sambutan, yakni Kompol Ni Ketut Suarningsih, S.H., mewakili personel yang pensiun pada 2025 dan Kompol Sugeng Triyono mewakili personel yang pensiun pada 2026.
Kehadiran keduanya menjadi bagian dari penghormatan kepada para personel yang telah menyelesaikan tugas kedinasan setelah menjalani pengabdian di lingkungan Polri.
Setelah sambutan perwakilan purnawirawan, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan keputusan pemberhentian dengan hormat.
Satu per satu wisudawan kemudian dipanggil untuk menerima penghargaan dari Kapolres Kediri Kota.
Didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Kediri Kota, AKBP Wisnu mendatangi para wisudawan untuk menyerahkan tanda penghargaan, mengalungkan medali, serta memberikan buket bunga.
Penyerahan penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas pengabdian para personel selama menjalankan tugas sebagai anggota kepolisian maupun aparatur sipil negara di lingkungan Polri.
Prosesi berlangsung dengan melibatkan anggota polisi wanita yang bertugas membawa perlengkapan penghargaan.
Setelah seluruh wisudawan menerima penghormatan, AKBP Wisnu menyampaikan sambutan kepada para purna bhakti dan keluarga yang hadir.
Momen tersebut menjadi bagian dari rangkaian perpisahan resmi antara institusi Polres Kediri Kota dan personel yang telah mengakhiri masa dinasnya.
Pernyataan Kapolres dalam sambutan belum tercantum dalam laporan kegiatan sehingga kutipan langsung berikut merupakan usulan yang harus dikonfirmasi sebelum diterbitkan:
“Atas nama keluarga besar Polres Kediri Kota, kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh personel yang memasuki masa purna bhakti. Pengabdian yang telah diberikan selama bertugas merupakan bagian penting dari perjalanan institusi Polri dalam melayani masyarakat,” kata AKBP Wisnu.
Wisuda purna bhakti menjadi salah satu tradisi penghormatan dalam lingkungan kepolisian bagi anggota yang telah menyelesaikan masa tugasnya.
Bagi para personel, berakhirnya masa dinas menandai perubahan dari kehidupan kedinasan menuju masa pensiun.
Sementara bagi institusi, prosesi tersebut menjadi kesempatan untuk memberikan apresiasi sekaligus menjaga hubungan kekeluargaan dengan para purnawirawan.
Rangkaian acara di Rupatama ditutup dengan menyanyikan lagu Bagimu Negeri sebelum seluruh peserta mengikuti prosesi tradisi pedang pora di halaman Mapolres Kediri Kota.
Dalam tradisi tersebut, para personel purna bhakti didampingi pasangan masing-masing berjalan melewati barisan anggota yang membentuk gerbang kehormatan menggunakan pedang.
Prosesi dipimpin seorang komandan pedang pora dan diiringi musik serta pembacaan puisi.
AKBP Wisnu bersama Ketua Bhayangkari Cabang Kediri Kota turut mengikuti rangkaian penghormatan tersebut.
Barisan pedang pora menjadi simbol pelepasan resmi bagi anggota yang telah menuntaskan tugas dan tanggung jawabnya selama berdinas.
Setelah melewati gerbang kehormatan, para wisudawan bersalaman dengan pejabat utama dan kapolsek jajaran Polres Kediri Kota.
Tradisi tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi anggota yang masih aktif untuk memberikan penghormatan terakhir dalam suasana kedinasan kepada para seniornya.
Prosesi pelepasan kemudian dilanjutkan dengan kegiatan yang menjadi salah satu bagian menarik dari wisuda purna bhakti, yakni mengantar para purnawirawan menggunakan becak.
Para wisudawan diarahkan menuju becak yang telah disiapkan sebelum diajak berkeliling di lingkungan Mapolres Kediri Kota.
Penggunaan becak dalam prosesi tersebut memberikan suasana berbeda dari kegiatan seremonial kedinasan pada umumnya.
Setelah berkeliling, rombongan berhenti di depan Mapolres Kediri Kota untuk mengikuti penyerahan kenang-kenangan.
AKBP Wisnu bersama Ketua Bhayangkari Cabang Kediri Kota, didampingi para pejabat utama, menyerahkan cendera mata kepada para personel purna bhakti.
Pemberian kenang-kenangan tersebut menjadi bagian akhir dari rangkaian penghormatan kepada para anggota yang telah memasuki masa pensiun.
Usulan kutipan lanjutan Kapolres Kediri Kota, perlu dikonfirmasi sebelum diterbitkan:
“Purna bhakti bukan berarti berakhirnya hubungan kekeluargaan dengan Polres Kediri Kota. Kami berharap para senior tetap menjadi bagian dari keluarga besar Polri dan terus memberikan teladan serta kontribusi positif di tengah masyarakat.”
Kepala Bagian Sumber Daya Manusia Polres Kediri Kota Kompol Riko Saksono, S.E., dalam laporan kegiatan menyampaikan bahwa wisuda purna bhakti periode Juni 2025 hingga Oktober 2026 diikuti 26 personel.
Seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari acara penghargaan di Rupatama hingga tradisi pedang pora dan pelepasan menggunakan becak, dilaporkan berlangsung tertib dan lancar.
Wisuda tersebut sekaligus menjadi penanda berakhirnya masa kedinasan para personel yang selama ini menjadi bagian dari pelaksanaan tugas Polres Kediri Kota.
Melalui prosesi penghormatan tersebut, Polres Kediri Kota memberikan apresiasi kepada para purnawirawan sekaligus menjaga ikatan kekeluargaan antara anggota aktif dan personel yang telah menyelesaikan pengabdiannya. (res/aro)
Peristiwa
Peringatan Hari Santri di Uniska Center, AKBP Wisnu Bersama Forkopimda Teguhkan Semangat Persatuan dan Kebangsaan
Kediriselaludihati.com – Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto, S.H., S.I.K., M.Si., menghadiri apel peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang berlangsung di Uniska Center, Kota Kediri, pada Kamis (22/10/2026). Kehadirannya menjadi bagian dari dukungan kepolisian terhadap peran pesantren dan santri dalam memperkuat persatuan, menjaga kerukunan, serta membangun karakter generasi muda.
Apel Hari Santri yang mengangkat tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” tersebut dipimpin Wakil Wali Kota Kediri Qowimuddin sebagai inspektur apel.
Kegiatan diikuti para santri, mahasiswa, tokoh agama, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Kediri.
Dalam rangkaian apel, peserta mengikuti pembacaan Resolusi Jihad dan Ikrar Santri sebagai pengingat atas peran ulama dan santri dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
AKBP Wisnu mengikuti rangkaian peringatan tersebut bersama para pejabat pemerintah daerah, pimpinan lembaga pendidikan, dan tokoh masyarakat.
Peringatan Hari Santri menjadi momentum untuk mengingat kembali kontribusi kalangan pesantren dalam kehidupan berbangsa, sekaligus memperkuat nilai kebangsaan di tengah perkembangan masyarakat.
Dalam amanatnya, Wakil Wali Kota Kediri Qowimuddin menegaskan bahwa Hari Santri bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan pengingat atas besarnya peran ulama dan santri dalam perjuangan bangsa.
Menurutnya, semangat cinta tanah air, persatuan, dan kepedulian terhadap sesama perlu terus dijaga di tengah berbagai tantangan kehidupan masyarakat.
Ia mengingatkan pentingnya menghormati perbedaan dan menjaga persaudaraan agar masyarakat tidak mudah terpecah belah.
“Sejalan dengan tema tahun ini, kita berharap para santri terus tumbuh menjadi generasi yang berilmu, terampil, berakhlak baik, dan memiliki semangat kebangsaan yang kuat,” kata Qowimuddin.
Pesan tersebut sejalan dengan pentingnya membangun kehidupan masyarakat yang aman dan harmonis melalui pendidikan karakter, toleransi, serta kepedulian sosial.
Kehadiran AKBP Wisnu dalam peringatan Hari Santri juga memperlihatkan hubungan kelembagaan antara kepolisian dan komunitas pesantren sebagai bagian dari masyarakat Kota Kediri.
Pesantren memiliki peran dalam pendidikan agama dan pembentukan karakter, sedangkan kepolisian menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Kedua peran tersebut dapat saling mendukung melalui komunikasi, pembinaan masyarakat, dan kegiatan yang memperkuat kerukunan.
“Hari Santri menjadi momentum untuk menghargai perjuangan para ulama dan santri sekaligus memperkuat semangat kebangsaan. Kami mendukung peran pesantren dalam membentuk generasi muda yang berakhlak, disiplin, cinta tanah air, dan memiliki kepedulian terhadap keamanan serta kerukunan masyarakat,” ujar Kapolres Kediri Kota.
Sementara itu, Qowimuddin yang akrab disapa Gus Qowim mengajak para santri untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan agar mampu menghadapi perubahan zaman.
Ia menilai pendidikan pesantren perlu berjalan seiring dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Santri juga didorong untuk tidak ragu memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai sarana belajar dan mengembangkan potensi diri.
Namun, penggunaan teknologi harus disertai kemampuan memilah informasi secara cermat agar tidak mudah terpengaruh kabar yang menyesatkan.
Gus Qowim secara khusus mengingatkan pentingnya menggunakan media sosial untuk kegiatan positif serta menghindari informasi yang dapat memicu perpecahan.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah semakin luasnya penggunaan media digital dalam kehidupan masyarakat, termasuk di kalangan pelajar dan santri.
Kemampuan berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, dan menjaga etika berkomunikasi menjadi bagian penting dalam membangun generasi muda yang bertanggung jawab.
Selain penguasaan teknologi, Gus Qowim mengingatkan bahwa nilai-nilai kebaikan yang diperoleh di pesantren harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sikap menghormati sesama, menjaga lingkungan, serta membangun hubungan yang baik dengan masyarakat merupakan bentuk nyata penerapan pendidikan karakter.
“Saya yakin, dari pondok-pondok pesantren di Kota Kediri akan terus lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan siap berkontribusi bagi bangsa,” ujarnya.
Peringatan Hari Santri juga menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan antara pemerintah daerah, aparat keamanan, lembaga pendidikan, dan tokoh agama.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut mencerminkan pentingnya kerja sama dalam menjaga kehidupan sosial yang rukun di Kota Kediri.
Bagi kepolisian, komunikasi dengan pesantren dan tokoh agama merupakan salah satu bagian penting dalam membangun hubungan dengan masyarakat.
Melalui pendekatan yang mengedepankan komunikasi, berbagai persoalan sosial diharapkan dapat dicegah dan diselesaikan secara baik sebelum berkembang menjadi gangguan keamanan.
“Santri memiliki peran penting dalam menjaga persatuan dan menyampaikan pesan-pesan kebaikan di tengah masyarakat. Kami berharap semangat Hari Santri dapat memperkuat kerja sama antara kepolisian, pesantren, dan seluruh elemen masyarakat untuk menjaga Kota Kediri tetap aman dan kondusif,” kata AKBP Wisnu.
Gus Qowim juga menegaskan komitmen Pemerintah Kota Kediri untuk terus membangun kerja sama dengan pondok pesantren, para ulama, dan seluruh unsur masyarakat.
Menurutnya, kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia serta kehidupan sosial yang harmonis.
“Pemerintah Kota Kediri akan terus bersinergi dengan pondok pesantren, para kiai, ulama, dan tokoh agama dalam membangun Kota Kediri tercinta ini,” katanya.
Apel Hari Santri tersebut turut dihadiri Ketua DPRD Kota Kediri Firdaus, sejumlah perwakilan Forkopimda, Komandan Kompi 1 Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Jawa Timur AKP Joko Widodo, serta Penjabat Sekretaris Daerah Kota Kediri Endang Kartika.
Hadir pula Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Kediri A. Zamroni, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Basyarudin, serta Ketua PCNU Kota Kediri KH Abu Bakar Abdul Jalil.
Sejumlah pimpinan lembaga pendidikan, tokoh agama, organisasi kepemudaan, pejabat pemerintah daerah, dan perwakilan masyarakat juga mengikuti kegiatan tersebut.
Peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober memiliki dasar sejarah yang berkaitan dengan Resolusi Jihad yang diserukan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah keterlibatan ulama dan santri mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pemerintah kemudian menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.
Melalui peringatan tahun ini, nilai perjuangan, pendidikan, dan kebangsaan kembali menjadi perhatian bersama.
Kehadiran AKBP Wisnu bersama jajaran Forkopimda Kota Kediri dalam apel tersebut menjadi bagian dari dukungan lintas lembaga terhadap peran pesantren dan santri dalam kehidupan masyarakat.
Peringatan Hari Santri diharapkan tidak hanya menguatkan ingatan terhadap sejarah perjuangan, tetapi juga mendorong generasi muda untuk terus belajar, menjaga persatuan, dan berkontribusi bagi kemajuan Kota Kediri. (res/an)
Peristiwa
Silaturahmi dengan PSHT Kota Kediri, AKBP Wisnu Bahas Pembinaan Generasi Muda hingga Ancaman Hoaks dan Judi Online
Kediriselaludihati.com – Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto mengajak organisasi pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pusat Madiun Cabang Kota Kediri memperkuat kerja sama dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Ajakan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan jajaran pengurus PSHT di Padepokan PSHT Pusat Madiun Cabang Kota Kediri, pada Rabu (21/10/2026) malam.
Pertemuan yang berlangsung mulai pukul 19.30 hingga 21.00 WIB itu juga membahas penguatan komunikasi antara kepolisian dan organisasi pencak silat, pembinaan karakter generasi muda, serta upaya mencegah persoalan sosial yang berpotensi mengganggu ketertiban masyarakat.
AKBP Wisnu hadir bersama Wakapolres Kediri Kota Kompol Putu Gde Caka Pratyaksa Ratsuko dan sejumlah pejabat utama Polres Kediri Kota.
Kedatangan rombongan kepolisian disambut Ketua PSHT Pusat Madiun Cabang Kota Kediri Agung Sediana bersama Ketua Dewan Cabang Jusup Supanudju dan jajaran pengurus organisasi.
Dalam sambutannya, Agung menyampaikan apresiasi atas kunjungan Kapolres Kediri Kota beserta jajarannya.
Menurut Agung, komunikasi yang selama ini terjalin antara PSHT dan kepolisian menjadi modal penting untuk memperkuat kerja sama dalam berbagai kegiatan masyarakat.
Ia berharap pertemuan tersebut dapat memberikan dorongan kepada seluruh pengurus dan anggota PSHT untuk terus membangun hubungan yang baik dengan Polres Kediri Kota.
“Kami berharap dengan kedatangan Bapak Kapolres bersama jajarannya dapat memberikan semangat bagi kami untuk selalu bersinergi dengan Polres Kediri Kota,” kata Agung.
Sementara itu, AKBP Wisnu menyampaikan terima kasih atas sambutan pengurus PSHT Pusat Madiun Cabang Kota Kediri.
Ia menegaskan bahwa menjaga keamanan dan ketertiban bukan hanya menjadi tanggung jawab kepolisian, melainkan membutuhkan keterlibatan masyarakat, termasuk organisasi pencak silat.
“Kami berharap dengan Polri bersama masyarakat, kita bersama-sama menjaga kamtibmas di wilayah Kota Kediri,” kata AKBP Wisnu.
Menurutnya, organisasi pencak silat memiliki jaringan anggota dan kegiatan yang dapat menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan sosial yang aman dan tertib.
Karena itu, komunikasi antara kepolisian dan pengurus perguruan silat perlu terus dijaga agar berbagai persoalan dapat dibicarakan secara terbuka.
AKBP Wisnu juga meminta masukan dari pengurus dan anggota PSHT mengenai situasi keamanan maupun bentuk kerja sama yang dapat dikembangkan ke depan.
“Kami juga meminta masukan dari semua warga PSHT dengan harapan dapat membangun komunikasi dan sinergitas,” ujarnya.
Ia berharap hubungan baik yang telah terbangun dapat diperkuat melalui keterlibatan anggota PSHT dalam menjaga ketertiban di lingkungan masing-masing.
“Semoga niat baik kami dapat diterima dan kami meminta dukungan semua warga PSHT untuk ikut menjaga Kota Kediri,” kata AKBP Wisnu.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya kepolisian membangun komunikasi langsung dengan organisasi masyarakat yang memiliki basis keanggotaan di wilayah Kota Kediri.
Selain membahas keamanan, pertemuan juga diarahkan pada peluang kerja sama dalam pembinaan mental dan karakter generasi muda melalui kegiatan pencak silat.
Pencak silat tidak hanya berkaitan dengan keterampilan bela diri, tetapi juga memiliki unsur pendidikan kedisiplinan, pengendalian diri, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama.
Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam pembinaan anggota, terutama generasi muda yang mengikuti kegiatan perguruan silat.
Melalui komunikasi antara kepolisian dan pengurus organisasi, pembinaan tersebut diharapkan dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga hubungan yang baik antarkelompok masyarakat.
Kepala Bagian Operasi Polres Kediri Kota Kompol Iwan Setyo Budhi dalam kesempatan itu turut mengingatkan pentingnya menjaga nama baik organisasi.
Menurutnya, PSHT merupakan salah satu organisasi pencak silat besar yang memiliki tanggung jawab untuk memastikan aktivitas anggotanya tidak menimbulkan persoalan di tengah masyarakat.
“PSHT adalah organisasi pencak silat yang besar. Saya berharap dapat menjaga nama baik organisasi dan Kota Kediri,” kata Iwan.
Ia juga mengingatkan pengurus dan anggota PSHT agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya.
Peredaran informasi palsu atau hoaks, terutama melalui media sosial, berpotensi menimbulkan kesalahpahaman apabila diterima dan disebarkan tanpa pemeriksaan.
Karena itu, anggota organisasi diharapkan lebih berhati-hati dalam menerima informasi yang berkaitan dengan kegiatan perguruan maupun persoalan sosial di masyarakat.
“Kami berharap setiap ada acara ataupun kejadian agar tidak terprovokasi dengan berita hoaks,” ujar Iwan.
Peringatan tersebut menjadi salah satu perhatian kepolisian dalam membangun komunikasi dengan organisasi pencak silat.
Informasi yang tidak terverifikasi dapat memengaruhi hubungan antarkelompok apabila ditanggapi secara emosional atau disebarkan tanpa memastikan fakta yang sebenarnya.
Selain persoalan hoaks, kepolisian juga menyoroti ancaman pinjaman online dan perjudian daring.
Dalam pertemuan tersebut, Kasat Intelkam Polres Kediri Kota mengingatkan anggota PSHT agar tidak terjerumus dalam aktivitas yang dapat menimbulkan persoalan keuangan maupun hukum.
“Kami mengingatkan jangan sampai tergiur dengan pinjaman online atau judi online,” demikian pesan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut.
Imbauan itu disertai ajakan kepada seluruh anggota organisasi untuk menjaga situasi Kota Kediri tetap kondusif.
Persoalan pinjaman online, terutama layanan ilegal, dan perjudian daring menjadi perhatian karena dapat menimbulkan dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
Melalui komunikasi dengan organisasi pencak silat, kepolisian berupaya memperluas penyampaian pesan pencegahan agar dapat diteruskan kepada anggota di tingkat ranting.
Pertemuan tersebut juga dihadiri sejumlah pengurus PSHT Pusat Madiun Cabang Kota Kediri yang membidangi organisasi, teknik, pemberdayaan anggota, hubungan antarlembaga, kerohanian, hingga pengamanan internal.
Di antaranya Wakil Ketua Bidang Organisasi Bambang Sutopo, Wakil Ketua Bidang Teknik Suwarto, Wakil Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota Achmad Fathoni, serta Wakil Ketua Bidang Hubungan Antarlembaga dan Kominfo Hari Puryanto.
Hadir pula Sekretaris Cabang Duwi Purwantoro, Sekretaris I Suhardi, anggota Dewan Cabang Siswoto, serta pengurus bidang kerohanian Supriadi.
Dari unsur pengamanan internal organisasi hadir Ketua Pengaman Terate (Pamter) Supriyadi.
Sejumlah pengurus ranting juga mengikuti pertemuan, yakni Ketua Ranting Pesantren Combat Dirgantara, Ketua Ranting Kota Sahru Munir, dan Ketua Ranting Mojoroto Mifatkhul Ulum.
Selain itu, hadir pengurus bidang hubungan masyarakat Irvan Kholis dan perwakilan Lembaga Hukum dan Advokasi Eko Budiono.
Sementara dari jajaran Polres Kediri Kota, turut hadir Kasat Binmas AKP Cahyo Widodo, Kasat Lantas AKP Septia Intan Putri, dan Kasat Reskrim AKP Achmad Elyasarif Martadinata.
Kehadiran sejumlah pejabat kepolisian dan pengurus organisasi tersebut membuka ruang komunikasi mengenai berbagai persoalan yang berkaitan dengan kegiatan masyarakat dan pembinaan anggota perguruan silat.
Dalam pertemuan itu, kepolisian juga menyampaikan rencana membangun sinergi antara program kerja Polri dan kegiatan PSHT di Kota Kediri pada periode mendatang.
Namun, belum dijelaskan secara terperinci bentuk kegiatan bersama, jadwal pelaksanaan, maupun kesepakatan khusus yang dihasilkan dari pertemuan tersebut.
Dengan demikian, silaturahmi tersebut menjadi tahap komunikasi dan penjajakan kerja sama antara kedua pihak.
Bagi kepolisian, hubungan dengan organisasi pencak silat menjadi salah satu bagian dari pendekatan kepada masyarakat untuk menjaga ketertiban tanpa mengabaikan peran pembinaan yang dijalankan organisasi.
Sementara bagi PSHT, komunikasi dengan kepolisian dapat menjadi sarana koordinasi ketika menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan anggota maupun masyarakat luas.
Pertemuan ditutup dengan foto bersama sekitar pukul 21.00 WIB.
Seluruh rangkaian silaturahmi Kapolres Kediri Kota dengan pengurus PSHT Pusat Madiun Cabang Kota Kediri berlangsung aman dan kondusif. (res/an)
-
Peristiwa6 years agoNing Sheila Hasina Binti KH Zamzami Lirboyo Juara 1 MHQ 30 Juz , MTQ XIV Kapolda Jatim Cup
-
Peristiwa7 years agoPonpes Tarbiyatul Qur’an Al Falah Ploso Kediri Gelar Haflah dan Wisuda Khatmil Qur’an
-
Kriminal7 years agoJangan Coba Coba Balap Liar di Kota Kediri, Dihukum Dorong Motor Dua Kilometer
-
Uncategorized6 years ago6 Pelatihan Sertifikasi Gada Pratama di Mako Brimob Kediri Terima Anumerta Peserta Terbaik
-
Peristiwa6 years agoPengunjung Pasar Bolawen Kabupaten Kediri Diimbau Jaga Jarak dan Cuci Tangan
-
Peristiwa7 years agoRibuan Umat Muslim Ikuti Pengajian Rutin Malam Rabu Gus Lik Kediri
-
Peristiwa3 years agoInilah Kegiatan Malam Tirakatan Jumat Legi di Gereja Puhsarang
-
Inspirasi7 years agoMengenal Sosok Kasatreskrim AKP I Gusti Agung Ananta
